BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM– Di era digital yang serba cepat, buku tetap menjadi ruang perlindungan bagi banyak orang. Tidak sekadar sumber informasi, tetapi juga tempat bersembunyi dari realitas yang melelahkan sekaligus alat untuk melawan narasi yang ingin dihapus.
Inilah yang menjadi pokok pembahasan dalam acara Bedah Kolektor Buku: Kenapa Buku Menjadi Eskapisme Saya? yang diselenggarakan oleh Sindikasi Aksara melalui siaran langsung Instagram, Sabtu (22/3/2025).
Diskusi ini dipandu oleh Indra Wardhana, pendiri Dr. Long Book Free Library sekaligus salah satu inisiator Sindikasi Aksara. Acara ini menghadirkan dua narasumber utama: Suci Atmarani, pegiat literasi yang fokus pada feminisme dan sastra klasik, serta Ranti Amalia Putri, seorang editor yang aktif dalam komunitas literasi dan mengoleksi buku lintas genre. Mereka berbagi pengalaman tentang bagaimana buku telah menjadi lebih dari sekadar hobi, tetapi juga medium perlawanan terhadap lupa dan penindasan.
Suci Atmarani berbicara tentang bagaimana buku menjadi ruang eskapis bagi mereka yang mencari pemahaman lebih dalam tentang identitas dan ketidakadilan sosial.
“Ketika realitas terasa menekan, buku menjadi tempat kita bersembunyi sekaligus mengasah pemikiran kritis,” ujarnya.
Sementara itu, Ranti Amalia Putri berbagi pengalamannya mengoleksi buku lintas genre, dari sastra hingga filsafat dan sains. Ia menekankan bahwa membaca adalah cara untuk melihat dunia dengan lebih luas, termasuk memahami sistem yang mengatur kehidupan kita.
“Membaca bukan hanya untuk lari dari kenyataan, tapi juga untuk memahami realitas dengan cara yang lebih tajam,” ungkapnya.
Indra Wardhana sebagai moderator membawa diskusi ke arah refleksi yang lebih dalam, mengajak para peserta untuk melihat bagaimana pilihan bacaan bisa mencerminkan kegelisahan dan harapan seseorang terhadap dunia. Interaksi peserta melalui komentar di siaran langsung menunjukkan bahwa banyak orang merasakan hal serupa: buku bukan sekadar hiburan, tetapi juga alat untuk memahami dan melawan dunia yang sering kali tidak adil.
Bedah Kolektor Buku kali ini tidak hanya mengupas rak-rak buku para kolektor, tetapi juga membuka kesadaran bahwa literasi adalah bentuk perlawanan.
Bagi yang ketinggalan diskusi, Sindikasi Aksara mengunggah rekaman acara ini di platform @sindikasi.aksara. Ke depannya, komunitas ini juga akan terus mengadakan diskusi seputar literasi dan peran buku dalam membentuk pemikiran kritis.
Karena pada akhirnya, membaca bukan hanya tentang memahami dunia, tetapi juga tentang mengubahnya. (tiwi)












