BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM–
Hilda Kholillah masih ingat betul rasanya ketika ia harus memperjuangkan satu hal yang bagi sebagian orang mungkin dianggap biasa: kuliah.
Lahir pada 26 Agustus 2002, Hilda bukan tak punya mimpi. Tapi mimpi itu sempat nyaris padam bukan karena ia tak mampu, melainkan karena restu orang tua yang begitu sulit digapai.
“Waktu itu mama khawatir, takut di tengah jalan nanti mandek karena biaya,” ujarnya pelan. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Di keluarganya, sudah beberapa saudara mencoba kuliah, tapi tak semua sampai garis akhir.
Namun Hilda berbeda. Dalam dirinya tumbuh tekad yang pelan-pelan menyala, bahwa ia ingin dan bisa menyelesaikan pendidikan.
“Aku pengen berkembang, nambah ilmu, pengalaman, dan relasi juga,” katanya.
Kini, Hilda telah menjadi mahasiswi semester VI di Universitas Sali Al-Aitaam, Bandung. Ia memilih jurusan Ilmu Komunikasi, bukan karena sudah ahli, tapi justru karena merasa kurang percaya diri dalam berkomunikasi.
“Aku orang yang agak susah berkomunikasi. Makanya aku pilih jurusan ini biar nambah skill dan belajar public speaking,” tutur Hilda jujur.
Kejujuran itu menjadi kekuatannya. Ia tak menyembunyikan keraguan yang pernah hadir, apalagi ketika membandingkan diri dengan orang lain yang terhenti di tengah jalan. Tapi di balik itu, Hilda memupuk komitmen bahwa ia akan menjadi berbeda: ia ingin lulus, ingin tumbuh, ingin memanfaatkan kesempatan yang sudah diperjuangkannya dengan susah payah.
Rencana ke depan? Hilda tak muluk-muluk. Setelah lulus, ia ingin bekerja, di mana saja tak masalah, yang penting bisa terus berjalan.
“Aku cuma pengen jadi orang yang bisa manfaatin kesempatan ini dengan baik, dengan semangat,” ujarnya penuh harap.
Dalam hidup yang mengalir seperti sungai, Hilda memilih untuk tetap mendayung, pelan tapi pasti. Perjalanan ini bukan hanya tentang bangku kuliah atau ijazah di tangan, tapi tentang membuktikan bahwa mimpi yang sederhana pun layak diperjuangkan, apalagi jika dibarengi tekad dan keyakinan.
Hilda adalah potret dari banyak anak muda di negeri ini, yang harus melewati negosiasi batin dan restu keluarga untuk bisa belajar. Dan ketika kesempatan itu akhirnya datang, ia tak ingin menyia-nyiakannya. Karena ia tahu, tak semua orang seberuntung itu. (tiwi)









