WWW.PASJABAR.COM – Belantara Foundation bersama Program Studi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan menggelar seminar nasional bertajuk “Pengelolaan Sampah Berkelanjutan untuk Mendukung Ekonomi Sirkular, Mitigasi Perubahan Iklim dan Kesejahteraan Masyarakat”, Kamis (8/5/2025).
Acara yang menjadi bagian dari Belantara Learning Series Episode 12 ini berlangsung secara hybrid. Dan diikuti lebih dari 1.100 peserta dari berbagai wilayah.
Seminar luring diselenggarakan di Auditorium Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor. Dan daring melalui Zoom serta YouTube.
Kegiatan ini turut melibatkan kolaborasi dari Universitas Riau, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Tanjungpura dalam bentuk “Nonton dan Belajar Bareng”.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna menekankan pentingnya strategi terpadu dalam pengelolaan sampah.
“Ketika masyarakat diberdayakan untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab, mereka tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Tetapi juga membuka peluang ekonomi,” ujarnya.
Ia juga menyatakan bahwa pengelolaan sampah merupakan langkah strategis menuju masa depan rendah karbon.
Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian LHK, Agus Rusly, menyampaikan. Bahwa paradigma lama dalam pengelolaan sampah harus ditinggalkan.
“Kita tidak bisa lagi hanya mengumpulkan, mengangkut, dan membuang. Pengelolaan sampah harus menciptakan nilai guna. Hingga mendorong ekonomi sirkular berjalan efektif,” tegasnya.
Tantangan
Senada dengan itu, Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. Didik Notosudjono menilai tantangan pengelolaan sampah hanya bisa diatasi lewat komitmen bersama dan inovasi teknologi.
“Keterlibatan lintas sektor dan perubahan perilaku masyarakat jadi kunci utama,” katanya.
Dari sisi praktik lapangan, CEO Bank Sampah Digital, Desty Eka Putri Sari menekankan pentingnya membangun kesadaran publik.
“Jika dikelola dengan baik, sampah bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sesuatu yang bernilai,” ucapnya.
Sementara itu, penggiat lingkungan dan aktor Ramon Y. Tungka mengajak generasi muda untuk mulai dari langkah kecil.
“Mulai menggunakan tumbler, membawa tas belanja sendiri—itu harus jadi gaya hidup,” ujarnya.
Seminar ini menjadi momentum penting memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan. Dalam mendorong pengelolaan sampah yang berkelanjutan, berpihak pada lingkungan. Dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. (*)












