www.pasjabar.com — Selama ini kanker payudara dikenal sebagai penyakit yang menyerang wanita, padahal pria juga bisa mengalaminya. Deteksi sejak dini sangat penting dilakukan agar pengobatan bisa lebih efektif dan murah.
Tak Hanya Ancaman Bagi Wanita
Selama ini kanker payudara lebih dikenal sebagai momok bagi kaum wanita. Namun, ternyata penyakit ini juga bisa menyerang kaum pria, meskipun dengan jumlah kasus yang jauh lebih sedikit.
Hal ini diungkapkan oleh dr. Monty P. Soemitro, Kepala Program Studi Sub Spesialis Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), dalam seminar dan workshop USG kelainan payudara di Klinik Perisai Husada, Bandung.
Menurut dr. Monty, sekitar satu persen pria dari total populasi memiliki potensi terserang kanker payudara. Meski jumlahnya kecil, kesadaran masyarakat akan hal ini masih sangat minim.
Kebanyakan kasus yang ditemukan pada pria sudah dalam stadium lanjut karena tidak terdeteksi sejak dini.
Faktor Genetik Jadi Pemicu, Waspadai Benjolan Tak Wajar
Kanker payudara pada pria umumnya disebabkan oleh kelainan genetik. Pria yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara atau mutasi gen BRCA patut waspada.
Salah satu gejala awal yang perlu diwaspadai adalah munculnya benjolan yang tidak biasa di area dada atau payudara pria.
Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila menemukan benjolan mencurigakan, perubahan warna kulit di area dada, atau keluarnya cairan dari puting.
Deteksi dini menjadi langkah penting agar kanker bisa ditangani sebelum menyebar lebih luas.
Biaya Pengobatan Bisa Disubsidi BPJS Jika Terdeteksi Dini
Pengobatan kanker payudara akan jauh lebih murah dan efektif jika dilakukan sejak stadium awal.
Menurut dr. Monty, biaya pengobatan pada tahap awal bisa berkisar Rp 40 juta dan bahkan dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
Sebaliknya, jika kanker ditemukan dalam kondisi sudah parah, biaya pengobatannya bisa melonjak hingga Rp 400 juta, dan tidak semua ditanggung oleh BPJS.
Atas dasar itulah, masyarakat diimbau untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan, khususnya jika menemukan gejala-gejala mencurigakan.
Pemerintah dan tenaga medis juga diminta untuk aktif memberikan edukasi serta pelatihan kepada dokter di setiap puskesmas agar mereka lebih sigap dalam melakukan deteksi dini kanker payudara, termasuk pada pria. (Uby)
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.
Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.
Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer .

h














