www.pasjabar.com — Suasana haru menyelimuti pemakaman pendaki asal Brasil, Juliana Marins, yang dimakamkan di Parque da Colina de Pendotiba, Niteroi, pada Jumat (4/7/2025) sore waktu setempat. Juliana meninggal dunia setelah terjatuh ke dalam kawah Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Juni lalu.
Prosesi pemakaman tidak hanya dihadiri keluarga dan kerabat, tetapi juga sejumlah tokoh penting Brasil, termasuk Rosangela ‘Janja’ da Silva, istri Presiden Luiz Inácio Lula da Silva.
Hadir Tokoh Penting: Istri Presiden hingga Menteri Brasil
Kehadiran Janja da Silva menunjukkan perhatian pemerintah Brasil terhadap kasus tragis yang menimpa Juliana.
Selain Janja, tampak pula Menteri Kesetaraan Rasial Anielle Franco serta Wali Kota Niteroi Rodrigo Neves turut memberikan penghormatan terakhir.
Keluarga besar Juliana, termasuk sang ayah Manoel Marins dan saudara perempuannya Mariana Marins, tampak tak kuasa menahan duka.
Mariana bahkan mengunggah pesan menyentuh di media sosial, menyebut Juliana sebagai sosok yang mengajarkan mereka untuk tak berhenti mengejar mimpi.
Alasan Keluarga Batalkan Kremasi Juliana
Rencana awal keluarga untuk melakukan kremasi jenazah akhirnya dibatalkan. Sang ayah, Manoel Marins, menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil atas saran hakim yang menangani kasus ini di Brasil.
Menurut Manoel, hakim menyarankan untuk melakukan penguburan agar memungkinkan proses autopsi lanjutan jika diperlukan.
“Kami sempat minta izin untuk kremasi, tapi hakim melarang karena masih ada hal mencurigakan soal kematiannya,” ujar Manoel kepada media Globo.
Sebelumnya, jenazah Juliana telah menjalani autopsi di Indonesia oleh pihak Kepolisian RI.
Namun sesampainya di Brasil, otoritas setempat kembali melakukan autopsi ulang guna mengusut lebih dalam penyebab kematian yang dinilai belum sepenuhnya jelas.
Duka Mendalam Iringi Kepergian Juliana Marins
Juliana Marins dikenal sebagai sosok petualang yang gemar mendaki gunung. Kepergiannya secara tragis membuat banyak masyarakat Brasil terpukul, terutama karena kematiannya masih menyisakan tanda tanya besar.
“Kalian tidak tahu apa yang saya rasakan,” kata Manoel Marins dengan nada emosional saat diwawancara.
Kasus ini masih terus dipantau oleh pemerintah Brasil dan publik luas. Penguburan alih-alih kremasi menjadi bentuk kehati-hatian pihak keluarga untuk memastikan keadilan dan kebenaran dapat ditegakkan dalam kasus meninggalnya Juliana.









