# Hadiah Sastera Rancage 2025
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Yayasan Kebudayaan Rancage bekerja sama dengan Paguyuban Pasundan kembali menggelar Penganugerahan Sastera Rancage 2025.
Hadiah Sastera Rancage dilaksanakan di Aula Mandalasaba Gedung Paguyuban Pasundan Lantai 5, Jalan Sumatera 41 Bandung, Rabu (13/8/2025).
Tahun ini, hadiah diberikan kepada sejumlah sasterawan dari berbagai wilayah, yakni Sastera Sunda diraih Hidayat Soesanto dengan karya sastera Anggota Dewan Ngangantung Maneh, Saster Jawa diraih St.Sri Emyani Kumpulan puisi berjudul Dalan Sidhatan, Sastera Bali diraih Komang Sujana dengan Kumpulan puisi berjudul Renganis, Sastera Lampung diraih Udo Z. Karzi penulis karya Minan Lela Sebambangan yang ditulis dalam bahasa Lampung dan Sastera Batak diraih Panusunan Simanjuntak dengan judul karya Parhuta-huta Do Hami.
Ajang apresiasi bagi sasterawan daerah tersebut menjadi salah satu yang konsisten berkarya dalam bahasa ibu.
Tahun ini, acara digelar istimewa karena bertepatan dengan Milangkala ke-112 Paguyuban Pasundan, dihadiri tokoh budaya, sastrawan, dan perwakilan pemerintah daerah.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancagé, Erry Riyana Hardjapamekas, menegaskan pentingnya pelestarian bahasa daerah di tengah derasnya arus globalisasi.
“Bahasa ibu akan semakin tersingkir jika kita tidak melakukan sesuatu. Penghargaan ini adalah salah satu cara membangkitkan minat menggunakan bahasa daerah. Apalagi, sejak 2017 sudah ada Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan yang memperkuat upaya ini,” ujarnya.
Erry mengakui bahwa regenerasi penulis sastera daerah berjalan lambat. Tantangan semakin besar dengan pengaruh bahasa asing seperti Inggris, Korea, dan Mandarin, yang tidak hanya memengaruhi bahasa daerah tetapi juga mengancam posisi Bahasa Indonesia.
“Kedepan sastera yang di perlombakan tidak harus selalu dibukukan. Tulisan di media sosial dengan bahasa daerah pun bisa memberi dampak positif. Kami akan memanfaatkan digitalisasi agar generasi muda lebih mudah berkarya tanpa terbebani biaya cetak,” tambahnya.
Erry pun menegaskan bahwa keberhasilan penghargaan ini tidak mungkin tercapai tanpa dukungan semua pihak. Ia mengapresiasi peran pemerintah daerah, universitas, dan organisasi kebudayaan yang selama ini turut berkontribusi.
Beberapa daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali pernah menunjukkan perhatian besar terhadap pelestarian bahasa daerah melalui dukungan terhadap penghargaan ini.
Komitmen Menjaga Bahasa Ibu
Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si., menyatakan komitmennya menjaga keberlangsungan penghargaan ini terutama dalam menjaga Bahasa ibu.
“Sebagai salah satu murid dari Kang Ajip Rosidi, kami memiliki tanggung jawab moral agar Penghargaan Rancagé terus berlangsung. Ini satu-satunya penghargaan untuk sastrawan daerah lintas suku bangsa di Indonesia,” kata Prof. Didi.
Prof. Didi menilai kerja sama antara Paguyuban Pasundan dan Yayasan Rancagé telah membawa manfaat besar, termasuk memperluas apresiasi kepada berbagai penulis daerah.
Penghargaan Sastra Rancagé, menurut Prof. Didi, bukan hanya ajang penghormatan, tetapi juga langkah nyata melestarikan bahasa daerah.
“Kami berharap provinsi lain menaruh perhatian yang sama seperti Paguyuban Pasundan, sehingga bahasa daerah tetap hidup di tengah kemajuan zaman,” ujarnya.
Dengan terselenggaranya Hadiah Sastra Rancagé 2025, diharapkan muncul semangat baru di kalangan generasi muda untuk terus berkarya, memanfaatkan bahasa daerah sebagai identitas budaya, dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari, baik di ruang digital maupun karya sastra cetak.

Ajang Kreativitas Sastera Daerah
Sementara itu salah satu penerima penghargaan Sastra Lampung Rancage 2025 , Udo Z Karzi mengatakan dengan adanya penghargaan Rancage bisa mengembangkan lagi kreativitas para penulis di daerah.
“Sehingga nanti bisa berdampak pada pelestarian dan pengembangan Bahasa daerah. Dari data yang ada, memang banyak penulis satra daerah itu sudah berumur, sehingga diharapkan ada kebangkitan di generasi muda untuk mau menggunakan Bahasa daerahnya dan membuat karya sastra,” harapnya.
Sebelumnya diselenggarakan juga Seminar Kesusasteraan Daerah dengan tema : Merebak Ruang Sastra Daerah di Sekolah.(*/tie)
# hadiah Sastera Rancage 2025












