CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Senin, 2 Februari 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home HEADLINE

Banjir Sumatera Jadi Peringatan Keras atas Krisis Pengelolaan Ruang Hidup

Hanna Hanifah
28 November 2025
Banjir Sumatera

ilustrasi. (foto: ilustrasi)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT
Dr. Heri Andreas, S.T., M.T., Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB.

Dr. Heri Andreas, S.T., M.T., Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB (Banjir Sumatera Jadi Peringatan Keras atas Krisis Pengelolaan Ruang Hidup)

WWW.PASJABAR.COM – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan wilayah sekitarnya sejak 24 November 2025 adalah tragedi yang menyisakan duka mendalam.

Data BNPB per 27 November mencatat 34 korban meninggal, 52 orang hilang, dan ribuan penduduk harus mengungsi.

Sebagai akademisi yang meneliti aspek geospasial dan kapasitas wilayah, saya memandang peristiwa ini bukan sekadar rangkaian cuaca ekstrem, tetapi cermin nyata bahwa ruang hidup kita semakin kehilangan kemampuan untuk menahan air.

Secara atmosfer, rekan saya dari Prodi Meteorologi ITB, Dr. Muhammad Rais Abdillah, telah menjelaskan bahwa wilayah Sumatera bagian utara sedang berada pada puncak musim hujan dengan curah hujan ekstrem yang mencapai 150 hingga lebih dari 300 milimeter.

Baca juga:   Preman Paksa Dorong Motor Mogok dan Minta Uang Hingga Ratusan Ribu

Bahkan karakteristiknya mendekati banjir besar Jabodetabek pada 2020. Penguatan sistem hujan oleh Siklon Tropis Senyar serta dinamika vortex siklonik dan cold surge vortex telah memperluas presipitasi secara signifikan. Dari sisi atmosfer, situasinya jelas sangat kondusif untuk terjadinya bencana.

Menurunnya Kapasitas Wilayah: Akar Masalah yang Tidak Boleh Diabaikan

Namun, sebagai peneliti geospasial, saya melihat akar masalahnya tidak berhenti di atmosfer. Banjir selalu berbicara tentang bagaimana air diterima dan dikelola oleh permukaan bumi.

Ketika presipitasi turun, air seharusnya terbagi antara infiltrasi (meresap ke tanah) dan runoff (mengalir di permukaan). Keseimbangan antara keduanya sangat ditentukan oleh tutupan lahan dan karakteristik tanah. Dan di banyak wilayah yang terdampak, keseimbangan ini telah rusak.

Kawasan yang semula merupakan hutan, rawa, atau area bervegetasi kini banyak berubah menjadi permukiman, perkebunan, atau lahan terbuka tanpa vegetasi. Akibatnya, kemampuan tanah untuk menyerap air merosot drastis.

Baca juga:   Plh Gubernur Jawa Barat Ungkap Penyebab Banjir di Kabupaten Garut

Limpasan meningkat berkali-kali lipat. Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kapasitas untuk menahan debit air besar dari hujan ekstrem. Inilah yang memicu banjir cepat dan meluas seperti yang kita saksikan beberapa hari terakhir.

Masalah tata ruang kita masih sangat struktural. Peta risiko dan bahaya banjir yang ada belum sepenuhnya didukung oleh data geospasial yang akurat dan pemodelan yang komprehensif. Akibatnya, banyak keputusan pembangunan tidak mempertimbangkan kapasitas wilayah secara ilmiah.

Banjir yang kita lihat hari ini adalah konsekuensi dari akumulasi keputusan tata ruang yang mengabaikan prinsip konservasi dan risiko jangka panjang.

Ke depan, mitigasi tidak bisa lagi hanya mengandalkan pembangunan fisik seperti tanggul atau normalisasi sungai. Infrastruktur ini penting, tetapi tidak bisa bekerja sendirian.

Baca juga:   Promosi Doktor Dahlan : Strategi Implementasi Kebijakan Wajib Belajar 9 Tahun

Kita membutuhkan penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air seperti hutan dan rawa, serta peningkatan kualitas data dan pemodelan geospasial agar keputusan dapat berbasis bukti, bukan sekadar asumsi.

Di sisi lain, sistem peringatan dini yang komunikatif dan literasi kebencanaan masyarakat perlu diperkuat. Informasi cuaca ekstrem harus dapat diterjemahkan menjadi langkah-langkah praktis bagi warga—kapan harus waspada, area mana yang terancam, dan apa yang harus dilakukan.

Tanpa itu, masyarakat tetap berada dalam posisi rentan.

Bencana banjir di Sumatera ini adalah alarm keras bahwa kapasitas wilayah kita semakin menurun dan tata kelola lingkungan harus segera dibenahi.

Sains atmosfer, pemodelan geospasial, konservasi lingkungan, dan edukasi kebencanaan harus dipadukan dalam desain mitigasi ke depan. Jika tidak, kita akan terus bergerak dalam siklus bencana yang sama, dengan risiko korban dan kerusakan yang semakin besar. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: banjirBanjir SumateraKrisis Pengelolaan Ruang Hidup


Related Posts

izin perumahan Bandung
PASBANDUNG

Banyak Daerah Rawan Banjir, Izin Perumahan di Bandung Raya Dihentikan Sementara

7 Desember 2025
Jalan Dayeuhkolot Banjir
HEADLINE

Jalan Dayeuhkolot Banjir, Mendadak Jadi Kolam Pemancingan Warga

6 Desember 2025
Cihampelas
HEADLINE

Akses Warga Terputus Akibat Jalan Amblas di Cihampelas Bandung

2 Desember 2025

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
Radio Player
No Result
View All Result

Trending

Casemiro bersinar di laga Man Utd vs Fulham. (AP Photo/Dave Thompson)
HEADLINE

Magis Michael Carrick Berlanjut: Benjamin Sesko Pastikan Kemenangan Dramatis Manchester United atas Fulham Skor 3-2

2 Februari 2026

MANCHESTER, WWW.PASJABAR.COM -- Periode bulan madu Michael Carrick bersama Manchester United terus berlanjut saat menjamu Fulham dalam lanjutan...

Foto: REUTERS/Ana Beltran

Eksekusi Penalti Kylian Mbappe Bawa Real Madrid Tundukkan Rayo Vallecano Skor 2-1 Di Bernabeu

2 Februari 2026
Foto: AFP/PIERO CRUCIATTI

Insiden Flare Di Giovanni Zini: Emil Audero Tetap Tegar Meski Terkena Lemparan Flare saat Laga Melawan Inter Milan

2 Februari 2026
natrium mi instan

Ahli Gizi Ingatkan Risiko Natrium Tinggi pada Mi Instan

2 Februari 2026
Longsor Cisarua

Dinkes KBB Siapkan Vaksin Tetanus untuk Relawan Longsor Cisarua

2 Februari 2026

Highlights

Ahli Gizi Ingatkan Risiko Natrium Tinggi pada Mi Instan

Dinkes KBB Siapkan Vaksin Tetanus untuk Relawan Longsor Cisarua

Peneliti ITB: Mikroalga Berpotensi Jadi Solusi Mitigasi Perubahan Iklim

BMKG: Cuaca Berawan hingga Hujan Ringan Dominasi Indonesia Hari Ini

BNPB: 57 Jenazah Korban Longsor Cisarua Berhasil Teridentifikasi

Masuki Hari Ke-10, SAR Perluas Operasi Pencarian Korban Longsor Cisarua

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.