WWW.PASJABAR.COM — Tri Tangtu di Buana merupakan sebuah konsep filosofis masyarakat Sunda yang menjadi landasan utama dalam mengatur tatanan kehidupan manusia.
Konsep ini secara etimologis memiliki arti tiga ketentuan pasti di dunia yang harus dijalankan demi terciptanya sebuah keharmonisan hidup.
Masyarakat Sunda kuno meyakini bahwa keseimbangan alam semesta hanya dapat terwujud apabila tiga unsur utama kehidupan saling bersinergi bersama.
Ketiga unsur tersebut terdiri dari hubungan manusia dengan Tuhan serta hubungan manusia dengan sesamanya dan hubungan manusia dengan alam.
Penerapan ajaran Tri Tangtu di Buana mencakup berbagai aspek mulai dari kepemimpinan sosial hingga tata kelola lingkungan hidup masyarakat.
Landasan Naskah Kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian
Sumber tertulis utama mengenai konsep Tri Tangtu di Buana dapat ditemukan secara jelas dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian.
Naskah yang ditulis pada tahun 1518 ini menjelaskan peran penting tiga pemimpin utama dalam struktur sosial masyarakat Sunda kuno.
Tiga pemimpin tersebut dikenal dengan sebutan Rama serta Resi dan Prabu yang masing-masing memiliki fungsi tugas sangat berbeda namun.
Rama berperan sebagai pendidik masyarakat sementara Resi bertugas menjaga hukum agama dan Prabu bertindak sebagai pemimpin eksekutif dalam pemerintahan.
Sinergi antara Rama serta Resi dan Prabu merupakan syarat mutlak bagi terciptanya kemakmuran dan kedamaian di dalam sebuah wilayah.
Implementasi Konsep Tri Tangtu Dalam Struktur Pemerintahan
Dalam konteks pemerintahan konsep Tri Tangtu di Buana membagi kekuasaan menjadi tiga bagian yang saling melengkapi satu sama lainnya.
Unsur pertama adalah kepemimpinan rakyat yang diwakili oleh sosok Rama sebagai pemegang kedaulatan moral paling tinggi di dalam masyarakat.
Unsur kedua adalah kepemimpinan spiritual yang dipegang oleh Resi guna memastikan setiap tindakan manusia sesuai dengan ajaran hukum Tuhan.
Unsur ketiga adalah kepemimpinan politik yang dijalankan oleh Prabu untuk mengatur urusan duniawi serta menjaga keamanan seluruh warga negara.
Pembagian tugas ini bertujuan untuk mencegah adanya penyalahgunaan kekuasaan oleh satu pihak dalam menjalankan roda pemerintahan di tanah Pasundan.
Keseimbangan Ekologi Dan Hubungan Manusia Dengan Alam
Tri Tangtu di Buana juga mengatur bagaimana manusia harus bersikap terhadap alam sekitar guna menjaga keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Masyarakat Sunda kuno diajarkan untuk menghormati hutan serta gunung dan sumber air sebagai bagian dari tatanan kosmos yang suci.
Kerusakan pada salah satu unsur alam dianggap akan membawa malapetaka besar bagi kehidupan manusia karena memutus tali keseimbangan jagat.
Nilai kearifan lokal ini tercermin dalam sistem hutan larangan serta hutan titipan yang masih dipertahankan oleh masyarakat adat tertentu.
Harmoni antara mikrokosmos dan makrokosmos menjadi inti sari dari seluruh rangkaian ajaran Tri Tangtu di Buana yang sangat luhur.
Relevansi Ajaran Tri Tangtu Dalam Kehidupan Modern
Meskipun berasal dari zaman dahulu ajaran Tri Tangtu di Buana masih memiliki relevansi yang sangat kuat dalam menghadapi tantangan.
Konsep kepemimpinan yang berintegritas serta berlandaskan nilai spiritual sangat dibutuhkan untuk memperbaiki tatanan sosial yang mulai mengalami degradasi saat.
Kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup merupakan pesan moral utama yang harus terus digaungkan kepada seluruh lapisan masyarakat.
Mempelajari naskah kuno seperti Sanghyang Siksa Kandang Karesian membantu kita memahami jati diri bangsa yang kaya akan nilai kearifan.
Tri Tangtu di Buana adalah warisan intelektual yang harus kita jaga demi mewujudkan masa depan dunia yang jauh lebih baik.
Daftar Sumber Teks Tertulis:
-
Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518): Merupakan sumber primer yang menjelaskan pembagian peran Rama, Resi, dan Prabu dalam masyarakat.
-
Naskah Carita Parahyangan: Menyebutkan implementasi tatanan sosial dan politik pada masa kerajaan-kerajaan Sunda berdasarkan prinsip keseimbangan tiga unsur.
-
Naskah Amanat Galunggung (Kropak 632): Berisi wejangan mengenai pentingnya menjaga aturan hidup (tangtu) agar jati diri bangsa tidak hilang ditelan zaman.
-
Buku “Manusia Sunda” karya Ajip Rosidi: Memberikan analisis mendalam tentang bagaimana konsep Tri Tangtu memengaruhi pola pikir dan perilaku orang Sunda.












