BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Lembang bukan hanya dikenal sebagai kawasan wisata dengan bentang alam yang memesona, tetapi juga sebagai ruang sejarah yang menyimpan lapisan cerita panjang. Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Buku #100 Temu Sejarah, Kamis (29/1/2026) yang membedah buku Lembang Masa Lalu dan mengajak publik menelusuri jejak sejarah Lembang secara lebih kritis dan reflektif.
Dalam diskusi yang digelar secara daring tersebut, Malia Nur Alifa memaparkan bahwa Lembang telah mengalami perubahan rupa dari sebuah lembah kuno di bawah kemaharajaan Pakuan Pajajaran hingga menjadi wilayah penting dalam dinamika kolonial.
Jejak spiritual seperti gema puja “Sang Tabe Namosiwayah”, mitos Sangkuriang, hingga transformasi ekonomi dan sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang kawasan ini.
Pembahasan juga menyoroti peran Lembang dalam sejarah kolonial, mulai dari penghasil komoditas bernilai tinggi seperti tanaman pewarna tekstil abad ke-17, kopi dan teh sebagai “emas hitam” dan “emas hijau”, hingga pengembangan pertanian dan peternakan berskala besar.
Lembang turut dipilih sebagai lokasi berdirinya Observatorium Bosscha, yang hingga kini menjadi simbol penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan warisan budaya.
Sejumlah tokoh Eropa yang pernah hidup dan berkarya di Lembang, seperti Junghuhn, Blommenstein, Ursone bersaudara, dan para tuan Boer, turut dibahas dalam diskusi ini. Kisah kedekatan mereka dengan lanskap alam Lembang memperlihatkan bagaimana ruang geografis turut membentuk cara pandang manusia terhadap kehidupan.
Namun, diskusi tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Peserta juga diajak menyadari bahwa di balik kecantikan alamnya, Lembang menyimpan potensi bencana alam yang besar. Sejarah, sebagaimana ditegaskan dalam diskusi ini, perlu dibaca sebagai sumber pembelajaran agar manusia dapat bersikap lebih bijaksana dalam mengelola ruang dan alam sekitarnya di masa kini.
Bagi masyarakat yang tidak sempat mengikuti kegiatan secara langsung, rekaman diskusi dapat disaksikan melalui kanal YouTube Temu Sejarah pada tautan:
Melalui diskusi ini, Temu Sejarah berharap masyarakat dapat memandang Lembang tidak semata sebagai ruang wisata, tetapi sebagai lanskap sejarah yang menyimpan pelajaran penting tentang relasi manusia, alam, dan masa depan. (tiwi)












