JALISCO, WWW.PASJABAR.COM — Meksiko kini tengah berpacu dengan waktu untuk memulihkan stabilitas nasional di tengah gelombang kekerasan yang mengerikan. Kematian gembong kartel paling dicari, Nemesio Oseguera Cervantes alias “El Mencho”, telah membuka kotak pandora kekerasan yang dilakukan oleh Jalisco New Generation Cartel (CJNG).
Dengan hanya menyisakan beberapa bulan sebelum pembukaan Piala Dunia 2026 pada Juni mendatang, kekacauan yang melanda wilayah Jalisco dan sekitarnya memicu kekhawatiran besar dari komunitas internasional mengenai keselamatan para atlet, ofisial, dan jutaan penggemar sepak bola yang berencana datang ke negara tersebut.
Pasca El Mencho Tewas, Jalisco Jadi Pusat Konflik dan Wilayah Tuan Rumah Piala Dunia 2026 yang Lumpuh
Ancaman terhadap Piala Dunia 2026 terasa sangat nyata karena negara bagian Jalisco merupakan markas utama CJNG.
Jalisco juga salah satu wilayah yang dijadwalkan menyelenggarakan sejumlah pertandingan bergengsi di Stadion Akron, Guadalajara.
Saat ini, Jalisco berada dalam kondisi lumpuh total. Akses jalan raya utama diblokade dengan bangkai bus dan truk yang dibakar oleh anak buah El Mencho sebagai bentuk protes dan unjuk kekuatan.
Kerusuhan yang meluas hingga ke bandara internasional di Jalisco memaksa ribuan turis berlarian menyelamatkan diri di tengah desing peluru.
Jika kondisi infrastruktur vital seperti bandara dan jalan tol terus menjadi sasaran sabotase kartel, logistik dan mobilitas tim-tim peserta Piala Dunia akan mustahil untuk dilaksanakan.
FIFA kini dihadapkan pada dilema besar: tetap melanjutkan rencana di Meksiko dengan risiko keamanan tinggi, atau mencari solusi darurat bagi tuan rumah bersama ini.
Sayembara Berdarah Tangan Kanan El Mencho dan Keselamatan Publik
Kekhawatiran semakin memuncak setelah munculnya sosok “El Tuli”, operator keuangan sekaligus tangan kanan El Mencho yang mendalangi serangan terhadap instalasi pemerintah.
Sebelum akhirnya tewas dalam baku tembak dengan petugas, El Tuli sempat mengeluarkan sayembara berdarah dengan menawarkan imbalan 20.000 peso (sekitar US$ 1.100) bagi siapa pun yang mampu membunuh personel militer atau Garda Nasional.
Mentalitas agresif kartel yang secara terang-terangan menyerang aparat keamanan negara menunjukkan bahwa mereka tidak akan segan-segan menciptakan kekacauan di tempat umum.
Dalam konteks Piala Dunia, ancaman serangan terhadap area Fan Zone atau kerumunan penonton menjadi momok yang sangat menakutkan.
Meskipun otoritas keamanan Meksiko telah mengerahkan ribuan personel tambahan, kemampuan kartel untuk melakukan serangan sporadis di 85 titik blokade jalan membuktikan bahwa kontrol pemerintah masih sangat rapuh.
Dampak Pembatalan Penerbangan dan Sektor Pariwisata
Keamanan adalah pondasi utama dalam menyelenggarakan ajang olahraga sebesar Piala Dunia.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah maskapai internasional telah membatalkan penerbangan ke destinasi wisata utama di pesisir Pasifik, seperti Puerto Vallarta, akibat kepulan asap tebal dari aksi pembakaran kendaraan.
Sekolah dan universitas yang ditutup tanpa batas waktu mencerminkan ketidakmampuan negara dalam menjamin keamanan aktivitas sehari-hari.
Jika turis biasa saja diminta untuk tetap berada di dalam rumah dan menghindari rute-rute tertentu, sulit membayangkan bagaimana Meksiko akan menyambut jutaan pendukung sepak bola dari berbagai negara.
Ketidakpastian ini merusak citra Meksiko sebagai tuan rumah yang aman dan ramah.
Hal ini berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi miliaran dolar, jika FIFA memutuskan untuk memindahkan pertandingan ke Amerika Serikat atau Kanada.
Seperti diketahui Amerika Serikat dan Kanada adalah mitra tuan rumah lainnya pada Piala Dunia 2026 Juni nanti.
FIFA dan Tekanan Internasional untuk Pemulihan Keamanan
Pemerintah Meksiko saat ini berada di bawah tekanan internasional yang luar biasa.
Kematian El Mencho yang seharusnya menjadi kemenangan bagi hukum, justru berubah menjadi krisis kemanusiaan.
Jika tidak segera ditangani maka akan mengancam kredibilitas Mexico di mata dunia.
Sedikitnya 30 anggota geng dan 25 personel Garda Nasional telah tewas dalam gelombang kekerasan ini.
Ini sebuah angka yang menunjukkan bahwa Meksiko sedang berada dalam situasi “perang saudara” skala kecil.
FIFA dipastikan akan segera melakukan peninjauan keamanan ulang yang sangat ketat di Guadalajara dan Mexico City.
Fokus utama adalah apakah militer Meksiko mampu menjamin zona bebas kartel di sekitar stadion dan hotel peserta.
Tanpa jaminan keamanan yang absolut dan pembersihan total blokade di jalan-jalan utama, ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut terancam.
Ia akan dikenang karena tragedi keamanannya, bukan karena prestasinya di lapangan hijau.












