MILAN, WWW.PASJABAR.COM — Malam di San Siro pada Rabu (25/2/2026) dini hari WIB menjadi salah satu titik terendah dalam sejarah modern Inter Milan di kompetisi Eropa. Meski menyandang status sebagai finalis tahun lalu, Nerazzurri anak asuh Cristian Chivu dipaksa menyerah 1-2 oleh Bodo/Glimt, yang memastikan keunggulan agregat telak 5-2 bagi wakil Norwegia tersebut.
Hasil ini tidak hanya menghentikan langkah Inter ke babak 16 besar untuk pertama kalinya sejak musim 2020/21, tetapi juga mencatatkan rekor buruk berupa tiga kekalahan kandang beruntun di Liga Champions.
Manajer Inter, Cristian Chivu, memberikan tanggapan terbuka mengenai kegagalan timnya yang dianggap kalah energi dan taktik.
Tembok Tebal Bodo/Glimt dan Kebuntuan Taktis Skuad Cristian Chivu
Dalam wawancaranya dengan Sky Sport Italia, Cristian Chivu mengakui bahwa skema “blok rendah” yang diterapkan Kjetil Knutsen menjadi momok yang mustahil ditembus anak asuhnya.
Bodo/Glimt bermain dengan disiplin ekstrem, menempatkan sepuluh pemain di belakang bola dan menutup setiap celah di sepertiga akhir lapangan.
Strategi ini membuat para pemain Inter frustrasi dan secara perlahan memberikan “zona nyaman” secara mental bagi tim tamu.
“Kami mencoba segala cara melawan tim yang terorganisir dengan baik. Saya sama sekali tidak menyalahkan para pemain—mereka memberikan segalanya dengan sisa tenaga yang ada,” ujar Chivu.
Meski Inter mendominasi penguasaan bola dan mendapatkan 16 tendangan sudut, ketidakmampuan Marcus Thuram dkk untuk melakukan penyelesaian akhir yang presisi menjadi pembeda utama.
Chivu menyesali kurangnya ketenangan yang seharusnya bisa membuka keunggulan lebih awal di babak pertama.
Masalah Energi dan Jadwal Padat Skuad Cristian Chivu
Salah satu poin krusial yang disoroti Chivu adalah perbedaan level energi antara kedua tim, terutama di babak kedua.
Bermain setiap tiga hari sekali di kompetisi domestik dan Eropa mulai memakan korban pada fisik skuad Inter.
Sebaliknya, Bodo/Glimt tampil dengan intensitas dan determinasi tinggi yang gagal diimbangi oleh Nerazzurri.
Chivu menjelaskan bahwa meski ia telah meminta para pemain untuk lebih sabar dalam merusak formasi 4-4-2 milik Bodo, energi yang terkuras membuat eksekusi di lapangan menjadi tumpul.
“Sangat sulit mencari energi saat Anda bermain setiap tiga hari sekali. Lawan memiliki lebih banyak energi di babak kedua, dan mereka menghukum kami atas kesalahan pertama yang kami buat,” tambahnya dengan nada kecewa.
Postmortem Kegagalan di Level Tertinggi
Kehancuran di panggung Eropa ini menjadi pelajaran pahit bagi Chivu di musim penuh pertamanya sebagai manajer. Ia mengakui bahwa di Liga Champions, margin kesalahan sangatlah kecil.
Inter yang sempat memulai fase liga dengan empat kemenangan beruntun justru kehilangan momentum di saat yang paling krusial.
Ketidakmampuan untuk tampil kompetitif di fase gugur menunjukkan adanya celah besar dalam presisi permainan timnya.
Chivu menegaskan bahwa jika sebuah tim tidak bisa bermain dengan akurasi tinggi di kotak penalti lawan, level tinggi Liga Champions akan langsung memberikan hukuman berat.
Ekspektasi besar untuk melampaui pencapaian era Simone Inzaghi pun sirna di tangan tim yang secara historis tidak diunggulkan.
Mengejar “Double Domestik” sebagai Pelipur Lara
Meski remuk di Eropa, Chivu menegaskan bahwa timnya harus segera bangkit dan membuka lembaran baru. Fokus kini sepenuhnya dialihkan ke kompetisi domestik Italia.
Inter Milan saat ini masih berada di jalur yang tepat untuk mengamankan Scudetto dengan keunggulan poin yang signifikan di Serie A. Selain itu, semifinal Coppa Italia melawan Como sudah menanti di depan mata.
Target meraih double domestik kini menjadi harga mati bagi Chivu untuk menyelamatkan musimnya.
“Sekarang kami harus move on. Itulah Liga Champions, dan kami harus memberikan apresiasi kepada lawan yang pantas melaju,” tutup juru taktik asal Rumania tersebut.
Luka di San Siro ini diharapkan menjadi motivasi tambahan bagi Inter untuk tidak terpeleset di sisa kompetisi lokal.
Statistik Kunci Kegagalan Inter di San Siro
| Kategori Statistik | Catatan Pertandingan | Dampak |
| Hasil Akhir (Agregat) | 1 – 2 (2 – 5) | Tersingkir dari UCL |
| Tendangan Sudut | 16 Kali | Gagal dikonversi menjadi gol |
| Penguasaan Bola | 64% | Dominasi tanpa efektivitas |
| Rekor Kandang UCL | 3 Kekalahan Beruntun | Rekor terburuk sejak 2020/21 |












