# Buku Teks Sejarah Indonesia
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Temu Sejarah kembali menghadirkan ruang diskusi kritis melalui penyelenggaraan Temu Sejarah #103 yang mengangkat tema “Kajian Peranakan Tionghoa dalam Buku Teks Sejarah.”
Diskusi ini berangkat dari pertanyaan mendasar tentang bagaimana Peranakan Tionghoa direpresentasikan
dalam buku pelajaran sejarah di Indonesia, terutama di tengah wacana keberagaman yang terus berkembang sejak reformasi 1998.
Apakah narasi yang hadir di ruang kelas sudah mencerminkan semangat kesetaraan, atau masih menyisakan bias serta konstruksi lama yang belum sepenuhnya direfleksikan ulang?
Membedah Karya
Forum ini akan membedah karya disertasi doktoral Dr. Hendra Kurniawan, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Sejarah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Dalam penelitiannya, ia menganalisis secara kritis bagaimana etnis Tionghoa digambarkan dalam buku teks
Sejarah Indonesia, termasuk pola narasi, penekanan peristiwa, hingga posisi sosial-politik yang ditampilkan.
Kajian tersebut menjadi penting karena buku teks bukan sekadar media pembelajaran, melainkan juga instrumen pembentukan cara pandang generasi muda terhadap identitas, kebangsaan, dan keberagaman.
Temuan Penelitian
Diskusi ini juga akan mengaitkan temuan penelitian dengan implementasi Kurikulum Nasional 2024 beserta
revisinya pada 2025, sekaligus meninjau relevansinya dengan buku Sejarah Nasional Indonesia terbaru yang baru saja disahkan.
Dengan demikian, pembahasan tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga kontekstual terhadap dinamika kebijakan pendidikan mutakhir di Indonesia.
Temu Sejarah #103 akan diselenggarakan pada Kamis, 26 Februari 2026, pukul 20.30 hingga 22.00 WIB secara daring melalui Zoom.
Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya, sebagai bagian dari komitmen Temu Sejarah dalam memperluas literasi sejarah yang inklusif dan reflektif di ruang publik.
Melalui forum ini, peserta diajak untuk membaca ulang sejarah sekaligus meninjau kembali siapa saja yang diberi
ruang di dalamnya, serta bagaimana representasi tersebut membentuk pemahaman kolektif tentang Indonesia yang majemuk. (tiwi)
# Buku Teks Sejarah Indonesia












