WWW.PASJABAR.COM – Sebanyak 38 platform drama pendek China menyepakati konvensi perlindungan hak pemeran dan kru produksi, mencakup pengaturan kontrak kerja hingga edukasi serta layanan hukum.
Dilansir dari ANTARA, kesepakatan ini diinisiasi oleh Komite Kerja Drama Pendek dan Asosiasi Layanan Program Audio-Visual China untuk mendorong industri drama pendek berkembang secara sehat dan berkelanjutan.
Konvensi tersebut mewajibkan adanya kontrak tertulis atau digital yang dapat diverifikasi antara pemberi kerja dan pekerja. Kontrak harus memuat rincian pekerjaan, durasi, periode kerja, gaji, kompensasi, hingga tanggung jawab atas pelanggaran.
Rumah produksi juga diwajibkan membayar gaji tepat waktu sesuai nominal yang dijanjikan, membuka rekening jaminan gaji, serta menerapkan mekanisme talangan untuk mencegah tunggakan.
Aspek keselamatan kerja turut diatur, termasuk kewajiban sistem jaminan keselamatan, rencana darurat di lokasi syuting, surat tanggung jawab keselamatan produksi, dan pengawasan profesional untuk adegan berisiko tinggi.
Perlindungan Pemeran Anak dan Pengawasan Konten
Konvensi ini secara khusus menjamin hak pemeran di bawah umur, seperti waktu istirahat yang cukup, layanan pendidikan, kesehatan, serta pendampingan wali selama proses produksi. Pemeran anak juga dilarang membintangi adegan yang mengandung kekerasan, horor, atau emosi yang melampaui tingkat pemahaman sesuai usia.
Sejumlah platform besar yang menandatangani kesepakatan antara lain iQIYI, Bilibili, Kuaishou, Youku, dan WeChat Video Channel.
Media pemerintah China melaporkan terdapat sekitar 100.200 perusahaan yang memproduksi drama pendek. Dengan nilai pasar mencapai 70 miliar RMB dan target penonton 696 juta pada 2025.
Dalam beberapa tahun terakhir, National Radio and Television Administration (NRTA) memperketat regulasi. Sejak akhir 2022 hingga awal 2023, regulator tersebut telah menghapus 25.300 drama pendek. Dengan total hampir 1,4 juta episode karena dinilai mengandung konten tidak bermutu.
Langkah ini mendapat dukungan sejumlah pengguna Weibo. Meski sebagian mendorong regulasi lebih tegas untuk mencegah plagiarisme dan pola cerita yang repetitif. (han)











