BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Momen pengumuman itu masih lekat dalam ingatan Nafisa Nur Fathiyya. Saat namanya disebut sebagai pemenang Duta Pendidikan Remaja Jawa Barat 2025, ia tidak langsung diliputi rasa percaya diri. Justru sebaliknya, perasaan yang datang adalah campuran antara syukur, bahagia, dan kekhawatiran.
“Jujur saya cukup terkejut dan tidak menyangka,” ujarnya.
Di balik pencapaian tersebut, Nafisa menyadari bahwa gelar yang ia sandang bukan sekadar simbol prestasi, melainkan amanah besar yang harus dijalankan. Rasa takut yang sempat muncul, takut tidak mampu memenuhi ekspektasi, justru menjadi titik awal perubahan dalam dirinya.
Alih-alih mundur, ia memilih untuk berbenah. Ia mulai membuka diri terhadap berbagai kesempatan, memaksa diri keluar dari zona nyaman, serta terus belajar agar mampu menjalankan perannya dengan maksimal.
Belajar dari Rasa Takut
Perjalanan Nafisa menuju posisi ini bukan tanpa tantangan. Ia mengakui, hambatan terbesar justru datang dari dalam dirinya sendiri: keraguan dan rasa takut untuk melangkah.
Dalam prosesnya, Nafisa kerap berada dalam situasi yang menuntutnya untuk belajar sambil berjalan. Banyak pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah ia bayangkan harus ia hadapi.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika ia dipercaya untuk menyelenggarakan sebuah seminar sekaligus menjadi master of ceremony (MC). Peran tersebut menjadi pengalaman pertama yang cukup menegangkan baginya.
Meski telah terbiasa berbicara di depan umum, menjadi MC menghadirkan tantangan yang berbeda. Ia harus mengatur jalannya acara, menjaga suasana, sekaligus memastikan pesan tersampaikan dengan baik.
“Awalnya terasa menakutkan, tetapi lama-kelamaan saya belajar untuk menghadapinya, siap atau tidak siap,” tuturnya.
Dari pengalaman tersebut, Nafisa memahami bahwa keberanian bukan berarti tidak merasa takut, melainkan tetap melangkah meski rasa takut itu ada.
Mengajar dengan Hati
Sebagai Duta Pendidikan Remaja Jawa Barat, Nafisa tidak hanya berhenti pada gelar. Ia aktif terlibat dalam berbagai program yang berfokus pada kontribusi nyata di bidang pendidikan.
Salah satu kegiatan yang ia jalankan adalah mengajar anak-anak, termasuk teman-teman disabilitas. Dalam prosesnya, ia memilih pendekatan yang lebih hangat dan menyenangkan, dengan memadukan pembelajaran dan permainan.
Baginya, suasana belajar yang nyaman dapat membantu anak-anak lebih mudah memahami materi sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri.
“Belajar tidak harus selalu kaku. Dengan pendekatan yang menyenangkan, anak-anak bisa lebih terbuka dan menikmati prosesnya,” jelasnya.
Tak hanya itu, Nafisa juga berupaya menjadi sosok yang menginspirasi remaja lain. Ia mendorong generasi muda untuk terus belajar, berani bermimpi, dan memiliki ambisi dalam hidup.
Menurutnya, pendidikan bukan semata soal akademik, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu berkembang dan memberikan dampak bagi lingkungan sekitarnya.
Menyadari Ketimpangan, Menguatkan Harapan
Pengalaman Nafisa di lapangan membuka matanya terhadap realitas pendidikan yang tidak selalu setara. Ia menemukan banyak anak dengan potensi besar, namun belum memiliki akses yang memadai untuk mengembangkan diri.
Berbagai faktor menjadi penghambat, mulai dari keterbatasan fasilitas, kondisi fisik, hingga sistem yang belum sepenuhnya adil.
Salah satu pengalaman yang paling menyentuh baginya adalah saat berinteraksi langsung dengan anak-anak disabilitas. Ia melihat semangat belajar yang tinggi, rasa ingin tahu yang besar, serta ketulusan dalam menjalani proses.
Dari sana, Nafisa semakin yakin bahwa pendidikan seharusnya menjadi ruang inklusif bagi semua.
“Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang,” tegasnya.
Pengalaman tersebut tidak hanya mengubah cara pandangnya, tetapi juga memperkuat komitmennya untuk terus berkontribusi dalam menciptakan pendidikan yang lebih merata.
Di tengah perjalanannya, Nafisa menyadari satu hal penting: banyak anak muda menunda langkah karena merasa belum siap.
Padahal, menurutnya, kesiapan tidak selalu datang di awal.
“Kadang kita tidak pernah benar-benar merasa siap. Tapi justru dari mencoba, kita belajar dan bertumbuh,” ujarnya.
Ia pun berpesan kepada remaja di Jawa Barat untuk berani mengambil kesempatan, tanpa terlalu banyak mempertimbangkan ketakutan yang belum tentu terjadi.
Jangan menunggu menjadi hebat untuk memulai. Justru melalui proses, pengalaman, dan keberanian untuk melangkah, seseorang akan membentuk dirinya menjadi lebih kuat.
Bagi Nafisa, setiap langkah kecil yang diambil hari ini memiliki potensi menjadi awal dari perubahan besar di masa depan. (tiwi)
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.
Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.
Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer .















