
Oleh: Firdaus Arifin, Dosen YPT Pasundan Dpk FH Unpas (Boneka)
WWW.PASJABAR.COM – Ada manusia yang tidak kehilangan tubuhnya, tetapi kehilangan kepemilikan atas tubuh itu. Ia tetap hadir di ruang-ruang penting—di meja rapat, di mimbar, di layar, di ruang sidang—tetapi kehadirannya tak lagi menandai dirinya. Ia menjadi tempat lewatnya kehendak yang lain. Ia menandatangani, tetapi bukan ia yang menentukan. Ia berbicara, tetapi bukan ia yang memulai.
Di situ, tubuh menjadi fungsi.
Fungsi selalu menuntut efisiensi. Ia tidak peduli pada keraguan, tidak memberi ruang pada kegelisahan. Fungsi hanya bertanya: apakah ini berjalan? apakah ini sesuai prosedur? apakah ini menguntungkan? Dalam logika fungsi, manusia direduksi menjadi peran. Ia bukan lagi pusat, melainkan titik dalam jaringan. Ia tidak lagi berdiri, melainkan ditempatkan.
Yang mengkhawatirkan bukan bahwa manusia menjalankan fungsi—itu tak terelakkan dalam kehidupan sosial—melainkan ketika fungsi melampaui manusia itu sendiri. Ketika peran tidak lagi dijalankan, tetapi mengambil alih. Ketika seseorang tidak lagi mampu berkata, “ini hanya jabatan saya,” karena jabatan itu telah menjadi dirinya.
Dalam kondisi seperti itu, jarak antara tindakan dan pelaku menghilang. Manusia tidak lagi memiliki ruang untuk mengoreksi apa yang ia lakukan. Ia menjadi selaras sepenuhnya dengan mekanisme yang menempatkannya. Ia tidak merasa terasing, justru karena ia telah menyatu.
Di sanalah peralatan bekerja paling halus: bukan dengan memisahkan manusia dari tindakannya, tetapi dengan membuatnya terlalu menyatu sehingga ia tak lagi melihat perbedaan antara dirinya dan perannya.
Tubuh itu tetap bergerak.
Tetapi gerak itu bukan lagi miliknya. (boneka)
Niat
Filsafat lama percaya bahwa manusia adalah makhluk yang bertindak dari kehendak. Ia tidak sekadar bereaksi, melainkan memilih. Pilihan itulah yang menjadi dasar tanggung jawab. Tanpa pilihan, tidak ada etika. Tanpa kehendak, tidak ada martabat.
Namun dalam kehidupan modern, kehendak tidak selalu dihapus. Ia dibentuk.
Seseorang tetap merasa memiliki niat. Ia tetap mengucapkan, “saya memutuskan ini.” Tetapi di balik itu, keputusan tersebut telah melalui serangkaian penyaringan yang tidak ia sadari sepenuhnya. Ada risiko yang ia pertimbangkan, ada imbalan yang ia harapkan, ada tekanan yang ia rasakan—semuanya membentuk horizon kemungkinan sebelum ia benar-benar memilih.
Maka pilihan tidak lagi terbuka.
Ia sudah diarahkan.
Ketika seseorang memilih di antara kemungkinan yang telah disempitkan, apakah ia sungguh bebas? Atau ia hanya menjalankan skenario yang disusun oleh struktur yang lebih besar?
Di sinilah kehendak menjadi problematis. Ia tidak hilang, tetapi kehilangan kemurniannya. Ia tetap bekerja, tetapi dalam ruang yang telah dibatasi. Ia tidak lagi menjadi sumber, melainkan hasil.
Yang lebih rumit, manusia sering kali tidak menyadari keterbatasan ini. Ia merasa rasional, karena ia dapat menjelaskan keputusannya. Ia merasa bijak, karena ia telah mempertimbangkan berbagai faktor. Ia merasa realistis, karena ia tidak mengambil risiko yang terlalu besar.
Padahal semua itu bisa menjadi bentuk lain dari penyesuaian.
Kehendak yang telah dibentuk akan cenderung membenarkan dirinya sendiri. Ia tidak melihat dirinya sebagai hasil, melainkan sebagai asal. Ia tidak merasa dipengaruhi, melainkan merasa mempertimbangkan. Ia tidak merasa dibatasi, melainkan merasa memilih yang terbaik.
Di titik ini, manusia tidak kehilangan kebebasan secara langsung. Ia kehilangan kemampuan untuk melihat batas dari kebebasannya sendiri.
Dan tanpa kemampuan itu, kebebasan menjadi bayangan. (boneka)
Akal
Akal sering dianggap benteng terakhir kebebasan manusia. Ia memungkinkan kita mengkritik, mempertanyakan, dan menolak. Ia memberi jarak dari dunia, sehingga kita tidak larut begitu saja di dalamnya.
Namun akal tidak kebal.
Dalam situasi di mana manusia diperalat, akal tidak selalu dihancurkan. Ia justru dipelihara—dengan satu syarat: ia harus bekerja untuk kepentingan tertentu.
Di sinilah akal menerima upah.
Upah itu tidak selalu berbentuk materi. Ia bisa berupa posisi, pengakuan, keamanan, atau sekadar rasa diterima. Dengan upah itu, akal mulai menyesuaikan arah kerjanya. Ia tidak lagi mencari yang benar, melainkan yang dapat diterima. Ia tidak lagi mempertanyakan struktur, melainkan mengokohkannya.
Logika tetap ada. Argumen tetap tersusun. Bahasa tetap tertib.
Tetapi kejujuran perlahan hilang.
Akal yang bekerja untuk kepentingan akan cenderung menghindari konflik dengan kepentingan tersebut. Ia memilih data yang mendukung, mengabaikan yang mengganggu. Ia menyusun narasi yang rapi, tetapi selektif. Ia menciptakan kesan objektivitas, padahal arah kesimpulannya telah ditentukan sejak awal.
Dalam kondisi seperti ini, kebenaran menjadi sulit dibedakan dari pembenaran.
Manusia yang diperalat sering kali bukan orang yang tidak berpikir. Ia justru berpikir dengan sangat baik—dalam kerangka yang telah dibatasi. Ia mampu menjelaskan sesuatu dengan meyakinkan, karena ia telah belajar bagaimana cara membuat sesuatu tampak masuk akal.
Dan di situlah letak bahayanya.
Kebohongan yang paling kuat bukan yang kasar, melainkan yang disampaikan dengan logika. Ketidakadilan yang paling sulit dilawan bukan yang terang-terangan, melainkan yang dibungkus sebagai kewajaran.
Akal yang kehilangan kebebasan tidak berhenti bekerja.
Ia hanya berhenti jujur. (boneka)
Diri
Namun manusia tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi alat. Selalu ada sesuatu yang tersisa—sesuatu yang tidak sepenuhnya tunduk.
Ia muncul sebagai keganjilan.
Sebagai rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Sebagai jeda di tengah kelancaran. Sebagai pertanyaan yang tiba-tiba muncul tanpa diundang: apakah ini benar? apakah ini milikku? apakah aku masih hadir dalam apa yang kulakukan?
Pertanyaan-pertanyaan itu kecil. Ia tidak mengubah struktur. Ia tidak mengguncang sistem. Tetapi ia menciptakan retak.
Dan retak adalah awal.
Manusia yang sepenuhnya menjadi boneka tidak akan merasakan retak. Ia akan berjalan mulus, tanpa gangguan. Ia akan menyatu sepenuhnya dengan perannya. Ia tidak akan bertanya, karena tidak ada jarak antara dirinya dan tindakannya.
Sebaliknya, selama masih ada jarak—betapapun tipis—manusia masih memiliki kemungkinan untuk kembali.
Kembali bukan berarti keluar sepenuhnya dari sistem. Itu mungkin mustahil. Kembali berarti menyadari. Menyadari bahwa tindakan tidak selalu lahir dari diri. Menyadari bahwa kata-kata tidak selalu milik kita. Menyadari bahwa kita bisa saja sedang dipakai.
Kesadaran ini tidak nyaman.
Ia mengganggu ketenangan. Ia merusak kepastian. Ia membuat manusia harus menghadapi dirinya sendiri—bukan sebagai peran, tetapi sebagai individu yang bertanggung jawab.
Dan tanggung jawab selalu berat.
Karena itu, banyak orang memilih untuk menutup retak tersebut. Mereka memilih kelancaran. Mereka memilih stabilitas. Mereka memilih untuk tidak bertanya terlalu jauh. (boneka)
Namun pilihan itu memiliki harga.
Harga itu bukan selalu terlihat dari luar. Ia tidak selalu berupa kegagalan atau kehilangan. Ia bisa berupa keberhasilan yang hampa. Ia bisa berupa posisi yang tinggi, tetapi tanpa kedalaman. Ia bisa berupa suara yang lantang, tetapi tanpa kepemilikan.
Di situlah manusia menghadapi kemungkinan paling sunyi: hidup tanpa benar-benar memiliki hidupnya.
Mungkin tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas dari risiko ini. Kita semua, dalam berbagai tingkat, pernah menyesuaikan diri, pernah menunda pertanyaan, pernah memilih jalan yang lebih aman. Kita semua pernah menjadi bagian dari mekanisme yang lebih besar dari diri kita.
Namun yang menentukan bukanlah apakah kita pernah diperalat.
Yang menentukan adalah apakah kita menyadarinya.
Kesadaran tidak selalu membawa pembebasan yang segera. Ia tidak selalu menghasilkan tindakan yang heroik. Tetapi ia menjaga satu hal yang paling mendasar: kemungkinan untuk tetap menjadi subjek.
Tanpa kesadaran itu, manusia hanya akan terus bergerak.
Dengan kesadaran itu, meski pelan, ia bisa mulai berhenti sejenak.
Dan mungkin, dalam jeda yang singkat itu, manusia kembali menemukan sesuatu yang hampir hilang: dirinya sendiri. (han)












