BEKASI, WWW.PASJABAR.COM – Data korban jiwa akibat kecelakaan maut yang melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur terus bertambah. Hingga Selasa (28/4/2026) malam, tim gabungan melaporkan bahwa jumlah korban meninggal dunia kini mencapai 18 orang.
Kenaikan jumlah ini dikonfirmasi setelah tiga orang korban yang sebelumnya berada dalam kondisi kritis di rumah sakit dinyatakan meninggal dunia. Insiden yang terjadi pada Senin malam tersebut kini menjadi salah satu tragedi transportasi paling kelam di jalur perlintasan Bekasi.
Rincian Data Korban Terkini Kecelakaan Maut Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur
Berdasarkan data terbaru dari posko penanganan darurat di RS Polri Kramat Jati, berikut adalah rincian kondisi korban:
-
Meninggal Dunia: 18 orang (12 sudah teridentifikasi, 6 dalam proses identifikasi).
-
Luka Berat: 24 orang (masih dalam perawatan intensif akibat patah tulang dan trauma hulu hati).
-
Luka Ringan: 42 orang (sebagian besar telah dipulangkan ke rumah masing-masing).
Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes dr. Martinus Ginting, menyatakan bahwa tim DVI (Disaster Victim Identification) terus bekerja ekstra keras untuk mengidentifikasi sisa jenazah yang belum dikenali. “Kami upayakan proses identifikasi selesai secepat mungkin agar jenazah bisa segera diserahkan kepada pihak keluarga,” ujarnya.
Proses Identifikasi dan Posko Pengaduan
Hingga saat ini, masih ada 6 jenazah yang belum diketahui identitasnya karena minimnya dokumen pribadi yang ditemukan di lokasi kejadian. Pihak kepolisian mengimbau bagi warga yang merasa anggota keluarganya belum kembali sejak kejadian untuk segera mendatangi RS Polri Kramat Jati.
Keluarga diminta membawa data pendukung seperti Kartu Keluarga (KK), ijazah (untuk data sidik jari), atau rekam medis gigi jika ada, guna mempercepat proses pencocokan data antemortem dan postmortem.
Investigasi KNKT Mulai Berjalan
Di sisi lain, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dilaporkan telah mulai mengunduh data dari black box lokomotif KA Argo Bromo Anggrek. Investigasi difokuskan pada sistem persinyalan di Stasiun Bekasi Timur dan fungsi pengereman kereta jarak jauh tersebut.
Saksi mata menyebutkan bahwa KRL sedang dalam posisi berhenti sempurna sebelum ditabrak dari belakang dengan kecepatan tinggi. Hantaman tersebut membuat lokomotif KA Argo Bromo menembus gerbong penumpang paling belakang, yang menjadi titik konsentrasi korban terbanyak.
Administrasi Stasiun Bekasi Timur dan PT KAI berjanji akan memberikan santunan penuh kepada seluruh korban melalui asuransi Jasa Raharja, sesuai dengan regulasi yang berlaku.












