CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Kamis, 30 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home HEADLINE

SPPG di Kampus: Menyatukan Ilmu dan Pengabdian

Hanna Hanifah
30 April 2026
sppg

ilustrasi. (foto: Indonesia.go.id)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT
OPini Firdaus Arifin Berburu Kursi
Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin. (foto: pasjabar)

Oleh: Firdaus Arifin, Dosen YPT Pasundan dpk FH Unpas & Sekretaris APHTN HAN Jawa Barat (SPPG di Kampus: Menyatukan Ilmu dan Pengabdian)

WWW.PASJABAR.COM – Di tengah ambisi besar negara menghadirkan generasi sehat dan unggul, lahir sebuah kebijakan yang tak biasa: membawa dapur gizi ke dalam ruang akademik. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sebagai bagian dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kini mulai bersentuhan langsung dengan kampus. Bukan sekadar sebagai mitra, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pelaksana.

Kebijakan ini menghadirkan harapan sekaligus refleksi. Harapan bahwa ilmu pengetahuan tidak lagi berhenti di ruang kuliah. Refleksi tentang batas antara peran akademik dan fungsi operasional negara.

Namun, di situlah justru letak pentingnya gagasan ini. Ia tidak hanya menawarkan solusi, tetapi juga menguji makna perguruan tinggi itu sendiri.

Masalah

Selama bertahun-tahun, kritik terhadap pendidikan tinggi di Indonesia relatif berulang: kampus dianggap terlalu jauh dari realitas sosial. Penelitian berkembang, tetapi dampaknya belum selalu terasa luas. Pengabdian masyarakat sering kali belum bertransformasi menjadi praktik yang berkelanjutan. Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang secara normatif menjadi fondasi, kerap berjalan tanpa daya ungkit yang cukup kuat.

Di sisi lain, persoalan gizi nasional masih menjadi pekerjaan besar. Berbagai laporan global dari World Health Organization dan UNICEF secara konsisten menunjukkan bahwa status gizi memiliki keterkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia, terutama di negara berkembang. Tantangan seperti stunting, anemia, dan ketimpangan akses pangan bergizi masih menjadi agenda yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Dalam konteks itu, negara menghadirkan SPPG sebagai bagian dari solusi struktural. Dengan skala operasional yang luas—mencakup puluhan ribu unit layanan dan menjangkau puluhan juta penerima manfaat—program ini dapat dibaca sebagai upaya sistematis memperkuat intervensi gizi nasional.

Baca juga:   Femi Irvan Nasution Raih Gelar Doktor Unpas, Tawarkan Model Hukum Integratif Pemulihan Aset Korupsi

Pertanyaannya kemudian: di mana posisi kampus dalam desain besar ini?

Penyebab

Keterlibatan kampus dalam SPPG tidak lahir secara kebetulan. Ia berangkat dari kebutuhan yang saling bertemu.

Pertama, kebutuhan sumber daya manusia dalam skala besar. Program gizi nasional membutuhkan tenaga ahli yang tidak sedikit—mulai dari ahli gizi, pengelola logistik, hingga pengawas keamanan pangan. Kampus menjadi institusi yang paling siap dalam menyediakan kompetensi tersebut secara berkelanjutan.

Kedua, kebutuhan penguatan basis pengetahuan. Dalam perkembangan kebijakan publik modern, pendekatan berbasis bukti menjadi semakin penting. Dalam kerangka ini, gagasan pembangunan yang menempatkan manusia sebagai pusat—sebagaimana dikembangkan oleh Amartya Sen—menegaskan bahwa kualitas intervensi kebijakan sangat bergantung pada pemahaman yang mendalam terhadap kondisi manusia itu sendiri.

Ketiga, kebutuhan efisiensi kelembagaan. Alih-alih membangun seluruh infrastruktur dari awal, negara dapat memanfaatkan ekosistem yang telah dimiliki perguruan tinggi: laboratorium, tenaga ahli, dan jaringan sosial yang telah terbangun.

Dengan demikian, keterlibatan kampus dalam SPPG dapat dipahami sebagai pilihan strategis yang rasional.

Pendalaman

Secara konseptual, kehadiran SPPG di kampus dapat dibaca sebagai upaya menghidupkan kembali Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk yang lebih konkret.

Dalam dimensi pendidikan, SPPG membuka ruang pembelajaran berbasis pengalaman. Mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terlibat dalam praktik nyata. Hal ini sejalan dengan pendekatan experiential learning yang dikembangkan oleh David A. Kolb, yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam proses pembelajaran.

Baca juga:   Kolaborasi Unpas Dan Program Ayo Jadi Guru, Dorong Percepatan Karier Lulusan Pendidikan

Dalam dimensi penelitian, SPPG menghadirkan peluang pengembangan riset terapan. Mulai dari inovasi menu berbasis pangan lokal, penguatan sistem distribusi, hingga evaluasi dampak kebijakan, semuanya menjadi ruang eksplorasi akademik yang relevan.

Dalam dimensi pengabdian masyarakat, SPPG memberi bentuk konkret bagi kehadiran kampus. Pengabdian tidak lagi sekadar kegiatan periodik, tetapi menjadi bagian dari sistem pelayanan publik yang berkelanjutan.

Lebih jauh, keterlibatan kampus dalam kebijakan publik juga sejalan dengan pandangan Clark Kerr tentang universitas modern sebagai “multiversity”, yang melayani berbagai kebutuhan masyarakat secara luas.

Dalam perspektif ini, SPPG bukanlah reduksi peran kampus, melainkan perluasan perannya.

Perbandingan

Jika ditarik ke konteks global, keterlibatan perguruan tinggi dalam kebijakan publik bukanlah hal baru. Banyak negara telah menempatkan universitas sebagai mitra strategis dalam pembangunan.

Di Amerika Serikat, konsep land-grant university sejak lama menjadikan kampus sebagai pusat pengembangan pertanian dan pangan. Di berbagai negara Eropa, universitas juga berperan aktif dalam program kesehatan masyarakat dan kebijakan sosial.

Dalam kerangka tersebut, langkah Indonesia dapat dibaca sebagai bagian dari tren global yang menempatkan pengetahuan sebagai fondasi kebijakan. Pandangan tentang pentingnya peran institusi dalam pembangunan inklusif—sebagaimana banyak dibahas dalam pemikiran Joseph Stiglitz—memberikan landasan bahwa kolaborasi antara negara dan institusi pengetahuan merupakan kebutuhan, bukan pilihan.

Implikasi

Keterlibatan kampus dalam SPPG membawa implikasi yang tidak sederhana.

Pertama, terjadi pergeseran paradigma pendidikan tinggi. Kampus tidak lagi hanya menjadi pusat produksi pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari implementasi kebijakan publik.

Kedua, relevansi sosial perguruan tinggi berpotensi meningkat. Di tengah tuntutan global akan pendidikan yang berdampak, keterlibatan dalam program seperti SPPG memberi ruang bagi kampus untuk menunjukkan kontribusi nyata.

Baca juga:   Gol Tunggal Andrew Jung Bawa Persib Dekati Borneo FC

Ketiga, kebijakan negara memperoleh penguatan legitimasi. Keterlibatan institusi akademik dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap program yang dijalankan.

Namun demikian, implikasi ini juga menuntut kewaspadaan. Kampus harus tetap menjaga keseimbangan antara fungsi akademik dan peran operasional. Tanpa keseimbangan itu, ada risiko pergeseran fungsi yang terlalu jauh.

Solusi

Agar keterlibatan kampus dalam SPPG menjadi penguatan, beberapa hal perlu diperhatikan.

Pertama, penegasan posisi kelembagaan. SPPG di kampus perlu ditempatkan sebagai bagian dari fungsi akademik yang terintegrasi dengan pendidikan dan penelitian.

Kedua, penguatan standar dan akuntabilitas. Mengingat aspek keamanan pangan yang sangat krusial, penerapan standar higiene dan sanitasi harus menjadi prioritas.

Ketiga, perlindungan otonomi akademik. Keterlibatan dalam program negara tidak boleh mengurangi kebebasan kampus untuk berpikir kritis dan independen.

Keempat, penguatan kolaborasi multipihak. Sinergi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat akan menentukan keberhasilan program ini.

SPPG di kampus adalah sebuah langkah yang tidak biasa, tetapi justru karena itu ia penting. Ia menghadirkan ruang pertemuan antara ilmu dan kehidupan, antara kampus dan masyarakat.

Dalam ruang itu, kampus diuji untuk tetap setia pada jati dirinya, sekaligus relevan dengan kebutuhan zaman. Negara pun diuji untuk mampu merangkul ilmu pengetahuan tanpa menghilangkan kebebasannya.

Jika keduanya berjalan seimbang, maka SPPG di kampus bukan sekadar program gizi. Ia menjadi jembatan yang mempertemukan pengetahuan dengan pengabdian—sebuah jalan sunyi, tetapi penting, menuju masa depan bangsa yang lebih sehat dan berdaya. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: MBGOpiniprogram makan bergizi gratisSatuan Pelayanan Pemenuhan GiziSPPGunpas


Related Posts

protein dalam makanan
HEADLINE

Protein dalam Makanan

30 April 2026
Pascasarjana Unpas
HEADLINE

Endri Herlambang Raih Doktor Ilmu Sosial Pascasarjana Unpas, Kaji Collaborative Governance Kebudayaan Sunda

29 April 2026
Pascasarjana Unpas
HEADLINE

Iskandar Zulkarnaen Nasution Raih Doktor Ilmu Sosial Pascasarjana Unpas, Riset Reformasi Birokrasi Digital

29 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

hari tari sedunia
PASGALERI

Puluhan Penari Meriahkan Hari Tari Sedunia di Braga Lewat “Gerak Semesta”

30 April 2026

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Sejumlah penari menampilkan pertunjukan seni tari di kawasan Braga, Kota Bandung, Rabu (29/4/2026) untuk...

Sidang Siti Aprilliani

Siti Aprilliani Kupas Perilaku Konsumen Tokopedia, Lulus dengan Predikat Sangat Memuaskan

30 April 2026
perlintasan cimindi

Terobos Perlintasan, Wanita Selamat dari Tabrakan Kereta di Cimindi

30 April 2026
filantropi PFI

PFI Perkuat Peran Filantropi sebagai Solusi Pembangunan Nasional

30 April 2026
sppg

SPPG di Kampus: Menyatukan Ilmu dan Pengabdian

30 April 2026

Highlights

PFI Perkuat Peran Filantropi sebagai Solusi Pembangunan Nasional

SPPG di Kampus: Menyatukan Ilmu dan Pengabdian

Protein dalam Makanan

Jose Mourinho dan Real Madrid: Nostalgia Berbahaya Florentino Perez di Tengah Krisis

Misi Balas Dendam di Metropolitano: Prediksi Atletico Madrid vs Arsenal di Semifinal Liga Champions

Misi Rebut Kembali Takhta: Persib Bandung Tantang Bhayangkara FC di Stadion Sumpah Pemuda

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.