CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Selasa, 20 Mei 2025
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home HEADLINE

Figur Ideal Seorang Rektor

Yatti Chahyati
27 Maret 2025
Figur Ideal Seorang Rektor

ilustrasi (https://uinsgd.ac.id/)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

 

Opini Kegaduhan Politik
Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin. (foto: pasjabar)

Oleh: Firdaus Arifin

Dosen FH Unpas

Figur Ideal Seorang Rektor

Dalam konteks pendidikan tinggi, rektor bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah pemimpin akademik, penjaga marwah intelektual, sekaligus nahkoda yang membawa kapal besar bernama universitas ke arah yang benar, di tengah samudra tantangan global, perubahan sosial, serta krisis integritas. Namun, dalam praktiknya, jabatan rektor kerap kali tereduksi menjadi bagian dari kompromi politik, tarik-menarik kepentingan, dan kadang, sayangnya, ruang kontestasi penuh intrik.

Figur ideal seorang rektor tak lahir dari manuver, tetapi dari permenungan yang dalam atas tanggung jawab pendidikan tinggi. Ia lahir dari dialektika pengalaman, integritas, dan visi keilmuan. Dalam dunia di mana kompetensi bisa diklaim dan gelar bisa dibeli, universitas membutuhkan figur pemimpin yang tak sekadar cerdas, tapi juga bijak dan bersih.

Rektor sebagai Pemimpin Moral

Rektor adalah simbol moral kampus. Dalam dirinya melekat tanggung jawab menjaga nilai akademik, merawat integritas ilmiah, serta menciptakan ruang aman bagi kebebasan berpikir. Ia harus menjadi figur yang bersih dari rekam jejak korupsi, tidak terafiliasi secara partisan, dan tidak menjadikan kampus sebagai kendaraan politik pribadi atau kelompok.

Dalam sejarah panjang universitas, dari Bologna, Harvard, hingga Gadjah Mada dan ITB, peran rektor selalu menjadi sorotan utama saat terjadi krisis integritas. Seorang rektor yang tersandung kasus etik atau hukum, seketika menjatuhkan reputasi institusi. Karena itu, figur ideal seorang rektor tak hanya diuji oleh CV akademiknya, tapi lebih dalam, oleh komitmennya menjaga nilai-nilai dasar universitas: kebebasan akademik, otonomi keilmuan, dan keberpihakan pada kebenaran.

Visi Akademik, Bukan Ambisi Pribadi

Figur ideal seorang rektor adalah mereka yang memiliki visi akademik jangka panjang, bukan sekadar target administratif lima tahun jabatan. Ia bukan manajer proyek, melainkan pemimpin gagasan. Ia harus mampu membaca peta global keilmuan, menerjemahkannya ke dalam strategi kampus, dan mendorong sivitas akademika untuk menjadi bagian dari percakapan ilmiah dunia.

Baca juga:   614 Mahasiswa Jabar Terima Beasiswa JFL Tahun 2022

Ia tak boleh terjebak dalam rutinitas pelaporan akreditasi atau euforia proyek pembangunan fisik semata. Dunia pendidikan tinggi bergerak cepat—transformasi digital, kecerdasan buatan, perubahan paradigma riset—semua menuntut universitas untuk adaptif sekaligus tetap pada nilai-nilai dasarnya. Rektor yang baik adalah mereka yang tahu kapan mendobrak dan kapan menjaga.

Kepemimpinan Inklusif, Bukan Elitis

Kampus adalah ruang keberagaman gagasan, latar belakang, dan kepentingan. Rektor ideal bukan pemimpin yang eksklusif hanya pada elite akademik tertentu. Ia harus mampu menjembatani dosen muda yang bergumul dengan beban riset dan pengajaran, mahasiswa yang gelisah dengan masa depan, hingga tenaga kependidikan yang kerap terlupakan. Kepemimpinannya harus terasa, bukan hanya terbaca di lembar kebijakan.

Ia harus menjadi pendengar yang baik dan pembelajar yang rendah hati. Seorang rektor yang tak mampu membangun kepercayaan di internal kampus, hanya akan menciptakan jarak dan resistensi. Kepemimpinan inklusif bukan sekadar jargon, tapi praktik sehari-hari: membuka ruang partisipasi, menerima kritik, dan mampu memimpin dalam konflik tanpa kehilangan arah.

Bebas dari Transaksi Politik

Di banyak kampus negeri, proses pemilihan rektor kerap menjadi ajang transaksi kekuasaan. Kementerian terlibat, senat terbelah, dan kandidat bermanuver. Mekanisme 35-65 persen suara antara senat dan kementerian membuka celah intervensi yang membuat kualitas calon kerap bukan faktor utama. Dalam situasi seperti ini, figur ideal seorang rektor harus berani menolak jalan pintas dan bersandar pada kepercayaan sivitas, bukan jaringan kuasa.

Baca juga:   Begini Format Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia

Rektor bukan kepala dinas. Ia bukan pejabat struktural biasa yang bisa ditentukan atas dasar loyalitas birokratis. Universitas butuh rektor yang memiliki integritas tinggi untuk tidak “membeli” jabatan, dan kemudian “mengembalikan modal” saat berkuasa. Budaya seperti ini menghancurkan etos akademik dari dalam.

Memimpin dengan Keteladanan

Keteladanan adalah hal langka di zaman ketika posisi lebih dihormati daripada substansi. Seorang rektor ideal bukan hanya berbicara tentang integritas, tetapi menjalani hidup dengan integritas. Ia membayar pajak dengan benar, tidak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi, tidak menggunakan mobil dinas untuk urusan keluarga, dan tidak membentuk lingkaran kekuasaan di sekitar dirinya.

Keteladanan juga berarti berani bersikap dalam isu-isu publik. Ketika kebebasan akademik terancam, ketika ada represi terhadap mahasiswa, atau ketika ada intervensi kekuasaan ke dalam kampus, rektor yang ideal berdiri paling depan, bukan bersembunyi di balik kata “netralitas”.

Kampus Sebagai Taman yang Merdeka

Universitas bukan pabrik ijazah. Kampus bukan ruang produksi tenaga kerja semata. Ia adalah taman gagasan, tempat peradaban tumbuh, tempat manusia berpikir merdeka. Figur ideal seorang rektor menyadari betul hal ini. Ia akan melawan komersialisasi pendidikan tinggi yang menjadikan mahasiswa sebagai konsumen, bukan subjek pembelajaran.

Ia akan memperjuangkan agar kampus tetap menjadi ruang terbuka, tempat dialog terjadi, perbedaan dihargai, dan ilmu berkembang. Ia tidak akan menjadikan kampus sebagai alat politik praktis atau proyek mercusuar semata, melainkan sebagai tempat tumbuhnya generasi yang kritis dan berdaya.

Baca juga:   Mahasiswi FH Unpas Raih Penghargaan di Youth Innovation Summit 2025

Berakar pada Tradisi, Terbang dengan Inovasi

Rektor ideal mampu merawat tradisi akademik sekaligus membuka pintu untuk inovasi. Ia menghargai nilai historis kampusnya, mengenali jejak pemikir besar yang pernah ada, dan menjadikan itu fondasi untuk bergerak ke depan. Tapi ia juga tidak takut pada perubahan, tidak fobia terhadap teknologi, dan mampu memimpin transformasi digital kampus secara bijak.

Ia tidak memusuhi teknologi, tapi juga tidak menyerahkan masa depan pendidikan pada algoritma. Rektor seperti ini mampu mengembangkan ekosistem riset yang adaptif, sistem pembelajaran yang partisipatif, dan model tata kelola yang akuntabel.

Menjadi Teladan untuk Negeri

Pada akhirnya, seorang rektor ideal bukan hanya untuk kampusnya, tetapi juga untuk bangsa. Ia menjadi contoh bahwa kepemimpinan akademik bisa hadir dengan elegan, cerdas, bersih, dan berkomitmen pada nilai. Di tengah krisis keteladanan nasional, figur seperti ini akan menjadi cahaya di tengah gelapnya birokrasi pendidikan.

Ketika rektor mampu menjadi inspirasi, maka universitas tak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga warga negara yang tercerahkan. Ia menciptakan iklim akademik yang sehat, memperjuangkan otonomi kampus, dan memastikan bahwa ilmu pengetahuan tetap menjadi panglima, bukan alat legitimasi kekuasaan.

Akhir kata, figurideal seorang rektor bukan mitos. Ia bisa hadir jika ekosistem pendidikan tinggi menolak korupsi, menolak kooptasi politik, dan berani memilih pemimpin yang punya integritas dan visi. Universitas harus merebut kembali otonominya, dan itu dimulai dari memilih rektor yang benar, bukan sekadar yang bisa mengakomodasi semua kepentingan.

Kita berhak atas kampus yang sehat, dan itu dimulai dari rektor yang tepat. (*)

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Yatti Chahyati
Tags: FH UnpasfirdausOpini dosen


Related Posts

unpas
PASPENDIDIKAN

Mahasiswi FH Unpas Raih Penghargaan di Youth Innovation Summit 2025

24 April 2025
Hakim MK FH Unpas
HEADLINE

Hakim MK Ingin Standarisasi Kurikulum Hukum Melalui Penataran Nasional

23 Februari 2025
FH Unpas APHTN-HAN
HEADLINE

FH Unpas dan APHTN-HAN Adakan Penataran Pengajar Hukum PTUN

22 Februari 2025

Recommended

Kod Promocyjny Mostbet Aviator Igra150 Jak Grać T Grę Aviator Watts Kasynie Mostbet Pobierz Mostbet Aviator Em Androida I Ios

3 tahun yang lalu
FOTO : RUSUH AKSI DEMONSTRASI TOLAK OMNIBUS LAW DI BANDUNG

FOTO : RUSUH AKSI DEMONSTRASI TOLAK OMNIBUS LAW DI BANDUNG

5 tahun yang lalu
Stadion Si Jalak Harupat akan Jadi Tuan Rumah Piala Dunia

Stadion Si Jalak Harupat akan Jadi Tuan Rumah Piala Dunia

3 tahun yang lalu
Gerbong PKLG Purwakarta Kebakaran, Perjalanan Kereta Api Tak Terganggu

Gerbong di PKLG Purwakarta Kebakaran, Perjalanan Kereta Api Tak Terganggu

2 tahun yang lalu

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

Bagnaia Tantang Marquez di MotoGP Thailand 2025
HEADLINE

Pernat: Bagnaia Masih Aman di Ducati

19 Mei 2025

www.pasjabar.com -- Kehadiran Marc Marquez di tim pabrikan Ducati pada MotoGP 2025 memang jadi sorotan besar. Namun...

Arsenal Siap Beri Guard of Honour untuk Liverpool

Arsenal Runner-Up Lagi, Arteta: Mimpi Belum Padam!

19 Mei 2025
AC Milan Gagal Tampil di Eropa, Musim Suram Terulang

AC Milan Gagal Tampil di Eropa, Musim Suram Terulang

19 Mei 2025
Duel Scudetto: Napoli dan Inter Berebut Gelar Hingga Akhir

Duel Scudetto: Napoli dan Inter Berebut Gelar Hingga Akhir

19 Mei 2025
Wamenparekraf Apresiasi Program Bandung Punya Cerita

Wamenparekraf Apresiasi Program Bandung Punya Cerita

19 Mei 2025

Highlights

Duel Scudetto: Napoli dan Inter Berebut Gelar Hingga Akhir

Wamenparekraf Apresiasi Program Bandung Punya Cerita

Guru Besar FK Unpad Kritik Menkes Lewat Maklumat Padjadjaran

Inter Gagal Menang, Juara Serie A Bisa Ditentukan Lewat Playoff

DPKP Bandung Pangkas Pohon Antisipasi Musim Hujan

Gol Telat Villarreal Akhiri Rekor Tak Terkalahkan Barcelona

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.