MALANG, WWW.PASJABAR.COM — Apa jadinya jika kota tempat kita tinggal ternyata dirancang sebagai panggung kekuasaan? Bukan tumbuh secara alami, Malang dibentuk dengan logika kolonial yang membelah ruang hidup: siapa yang boleh tinggal, siapa yang disingkirkan.
Itulah pertanyaan yang diangkat dalam Temu Sejarah Explore #4: Urbanisme Hindia Belanda di Poros Balai Kota Malang, hasil kolaborasi komunitas Temu Sejarah dan A Day In Malang. Dalam kegiatan yang digelar Minggu, (18/5/2025), para peserta diajak berjalan kaki menyusuri jejak-jejak kolonial di Kota Malang — dari Huize Jon hingga SMA Tugu — untuk mengungkap narasi di balik wajah kota yang tenang namun sarat lapisan kekuasaan.
“Balai Kota, hingga Topdam bukan sekadar bangunan tua yang megah, tapi simbol bagaimana tata ruang dijadikan alat kontrol sosial,” ujar Tiwi Kasavela, pendiri Temu Sejarah.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari upaya menyebarluaskan literasi sejarah dengan cara yang lebih membumi.
“Kami ingin silaturahmi, bukan hanya diskusi daring. Jadi kami turun ke kota-kota, sebelumnya di Bandung, Solo, Ngawi, untuk bertemu, berjalan, dan berbagi,” tuturnya.
Tiwi berharap, kegiatan semacam ini bisa terus berlanjut dan menjadi ruang kolaborasi antar-komunitas sejarah di Indonesia.
“Sejarah tak selalu harus dibaca dalam buku. Ia bisa dirasakan lewat langkah kaki, percakapan, dan tatapan pada bangunan-bangunan tua yang masih berdiri tegak,” ungkapnya.
Rute Lintas Area
Pemandu tour sekaligus pengurus A Day In Malang, Maghfirotul Laily, menjelaskan bahwa rute yang dilalui peserta melintasi area yang dikenal sebagai Bouwplan II — rancangan tata kota tahap kedua era kolonial di Malang.
“Pusat pemerintahan, sekolah elite, dan pemukiman orang Eropa dibangun di sini. Ini bukan kebetulan, tapi bagian dari sistem,” jelasnya.
Para peserta juga diajak menelusuri gedung DPRD, SMA Tugu (dulu HBS), dan area pendidikan Montessori, yang dulunya hanya diperuntukkan bagi warga Eropa.
Antusiasme peserta cukup tinggi. Beberapa datang dari luar kota, seperti Hafid Rofi Pradana dari Tulungagung.
“Menarik dan sangat berkesan. Malang punya banyak cerita sejarah yang terkoneksi antara satu tempat dan lainnya. Bahkan hanya berjalan di sekitar kota pun bisa membuka wawasan baru,” ujarnya.
Acara ini menjadi upaya membangun kesadaran sejarah melalui pengalaman bersama. Karena kota bukan hanya tempat tinggal, melainkan dokumen hidup yang perlu dibaca dan dijaga. (tiwi)
# Temu Sejarah Explore #4












