BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Apakah aksara dapat menentukan siapa yang berkuasa dan siapa yang tersingkir dalam sejarah? Pertanyaan ini menjadi benang merah Diskusi Buku #101 yang diselenggarakan oleh Temu Sejarah Indonesia, mengangkat tema “Holle Line: Menelusur Akar Pemikiran Politik Sunda melalui Naskah dalam Peti Holle.”
Diskusi ini berangkat dari kajian kritis atas peran bahasa dan aksara dalam pembentukan struktur sosial-politik masyarakat Sunda pada masa kolonial. Di balik sistem undak-usuk basa Sunda—lemes, sedeng, dan kasar—tersimpan sebuah konstruksi historis yang tidak netral. Bahasa, dalam konteks ini, menjadi alat kekuasaan dan sekaligus saringan sosial.
Melalui proyek standarisasi bahasa Sunda berbasis aksara Latin, pemerintah kolonial Belanda membuka akses bagi kelompok tertentu untuk masuk ke dalam birokrasi dan lingkaran kekuasaan. Sebaliknya, mereka yang bertahan menggunakan aksara Arab Pegon perlahan tersingkir dari panggung sosial-politik. Proses ini melahirkan elit Sunda baru yang terdidik, independen, dan politis—sebuah fenomena yang kemudian dikenal sebagai Holle Line atau sumbu Holle.
Tokoh sentral dalam proses ini adalah Karel Frederik Holle, seorang intelektual Belanda yang berperan penting dalam latinisasi bahasa Sunda. Gagasan dan pengaruh Holle diyakini tidak hanya membentuk elit terdidik, tetapi juga turut menentukan arah formasi politik Sunda, termasuk dinamika yang mengemuka pada masa pendirian Negara Pasundan.
Narasumber dan Kegiatan
Pembahasan mendalam mengenai tema tersebut akan diulas bersama :
• Iip D. Yanya, Penulis buku Holle Line
• Asep M. Iqbal, Ph.D., Dosen FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung
• Nanang Suryana, Penulis Holle Line dan Dosen FISIP Universitas Padjadjaran
Diskusi Buku #101 akan diselenggarakan pada: Kamis, 5 Februari 2026 pukul 20.00–21.30 WIB via Zoom Meeting. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.
Pendaftaran dapat dilakukan dengan mengetik format: Daftar Diskusi Buku #101 – Nama – Domisili, lalu mengirimkannya ke 0895-3572-55688.
Sebagai bagian dari komitmen literasi sejarah, ebook Holle Line akan dibagikan secara gratis kepada peserta terdaftar melalui grup WhatsApp Temu Sejarah.
Melalui diskusi ini, Temu Sejarah berharap publik dapat melihat sejarah Sunda secara lebih kritis, bahwa bahasa dan aksara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga medan kuasa yang ikut menentukan arah perjalanan politik dan identitas suatu masyarakat.
Untuk informasi kegiatan dan diskusi sejarah lainnya, masyarakat dapat mengikuti akun @temusejarah. Diskusi akan menjadi ruang refleksi bersama bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah Sunda dari sudut pandang yang lebih dalam dan kontekstual. (tiwi)












