
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Penelitian & Pengembangan Paguyuban Pasundan (Akhlak dan Kehidupan: Akhlak kepada Allah, dalam buku Afeksi Islam)
WWW.PASJABAR.COM – Umat Islam sepantasnya menunjukkan akhlakul mahmudah dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak itu terdapat dalam ruang lingkup akhlak Islami yang sama dengan ruang lingkup ajaran Islam, khususnya yang berkaitan erat dengan pola hubungan. Ruang lingkup akhlak mencakup berbagai aspek, seperti akhlak kepada Allah hingga kepada sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda yang tak bernyawa).
Akhlak kepada Allah (Khaliq)
Akhlak kepada Allah merupakan sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk terhadap Allah sebagai Khaliq. Setidak-tidaknya ada beberapa alasan manusia harus berakhlak kepada Allah.
- Allah-lah yang telah menciptakan manusia. Dia menciptakan manusia dari air yang keluar antara tulang rusuk dan punggung (QS Ath-Thariq, 86: 5–7). Ayat lain menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang diproses menjadi benih yang disimpan di tempat yang kokoh (rahim). Setelah menjadi segumpal darah dan daging, ia dijadikan tulang yang dibalut dengan daging. Selanjutnya, Allah menciptakan makhluk yang sempurna (QS Al-Mu’minun, 23: 12–14). Jadi, sebagai makhluk yang diciptakan, sudah sepantasnya manusia berterima kasih kepada yang menciptakannya (lihat juga QS Al-Mu’min, 40: 67; Al-Qiyamah, 75: 38; dan Al-Hajj, 22: 5).
- Allah-lah yang telah memberi perlengkapan pancaindra berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran, dan hati sanubari, selain anggota badan lainnya yang kokoh dan sempurna (QS An-Nahl, 16: 78).
- Allah-lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, dan binatang ternak (QS Al-Jatsiyah, 45: 12–13).
- Allah-lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan untuk menguasai daratan, lautan, dan udara (QS Al-Isra, 17: 70).
Bentuk Akhlak Manusia kepada Allah
Sungguhpun Allah telah memberikan berbagai kenikmatan kepada manusia, hal itu bukan karena Allah membutuhkan untuk diagungkan dan disembah. Bagi Allah, disembah atau tidak, kemuliaan-Nya tidak akan pernah berkurang. Namun, sebagai makhluk, manusia memang sepantasnya menunjukkan akhlak yang baik kepada Allah. Lalu, dengan cara apakah manusia harus berakhlak kepada Allah?
Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh manusia untuk berakhlak kepada Allah, antara lain: tidak menyekutukan-Nya (QS An-Nisa, 4: 116); bertakwa kepada-Nya (QS An-Nur, 24: 35); mencintai-Nya (QS An-Nahl, 16: 72); rida dan ikhlas terhadap segala keputusan-Nya (QS Al-Baqarah, 2: 222); selalu bersyukur atas segala nikmat-Nya (QS Al-Baqarah, 2: 152); memohon (berdoa) dan beribadah hanya kepada-Nya (QS Al-Fatihah, 1: 5); serta senantiasa mencari keridaan-Nya (QS Al-Fath, 48: 29).
Titik tolak dari akhlak terhadap Allah adalah adanya pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Pengakuan ini harus berlanjut dalam sikap ikhlas dan rida beribadah kepada-Nya, mencintai-Nya, banyak memuji-Nya, bertawakal kepada-Nya, dan sikap-sikap lainnya yang diakumulasikan dalam kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. (han)












