WWW.PASJABAR.COM – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI meluncurkan program bertajuk “Santri Memberdayakan Desa” dalam rangka menyambut Ramadhan 1447 Hijriah.
Inisiatif ini dirancang untuk mengintegrasikan penguatan spiritualitas mustahik dengan pengalaman praktis agribisnis bagi generasi muda pesantren.
Sebanyak 78 santri terpilih akan diterjunkan ke 26 lokasi di delapan provinsi, yakni Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Program ini menyasar lokus Balai Ternak dan Lumbung Pangan binaan Baznas.
Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, mengatakan program tersebut menjadi langkah strategis. Dalam memperkuat ekosistem ekonomi pedesaan berbasis nilai keagamaan.
“Program Santri Memberdayakan Desa ini kami hadirkan untuk meningkatkan sisi spiritualitas binaan di lokus Balai Ternak dan Lumbung Pangan. Kami ingin para petani dan peternak tidak hanya berdaya secara ekonomi, tetapi juga memiliki ketangguhan iman yang amanah dan produktif,” ujar Saidah melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Cetak Generasi Santripreneur
Menurut Saidah, pemilihan santri sebagai penggerak didasari potensi mereka sebagai agen perubahan. Santri tingkat akhir atau alumni pondok pesantren berusia 17–22 tahun akan berperan sebagai mentor religi melalui pengajian, kultum subuh, serta literasi keagamaan di desa.
“Ini adalah laboratorium nyata bagi santri milenial untuk belajar langsung bagaimana mengelola usaha pertanian dan peternakan di lapangan,” katanya.
Selama dua pekan, para santri akan menjalani metode live in dalam kelompok kecil beranggotakan tiga orang. Mereka tinggal bersama kelompok binaan Baznas, mulai dari petani lumbung pangan, pelaku UMKM, hingga peternak di Balai Ternak.
Baznas berharap program ini melahirkan generasi “santripreneur” yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga kompeten dalam mengelola usaha pertanian dan peternakan.
Kehadiran santri di tengah masyarakat diharapkan mampu menciptakan suasana Ramadhan yang lebih bermakna sekaligus mendorong keberlanjutan ekonomi mustahik secara humanis dan religius. (han)












