
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Penelitian & Pengembangan Paguyuban Pasundan (Akhlak dan Kehidupan: Akhlak Terhadap Manusia, dalam buku Afeksi Islam)
WWW.PASJABAR.COM – Islam mendorong manusia untuk berinteraksi sosial dalam kehidupan bersama sesama manusia. Dorongan tersebut tersurat dan tersirat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Bahkan, hal itu tampak pula secara simbolik dalam berbagai ibadah ritual Islam. Ini menunjukkan bahwa dalam ajaran Islam tidak ada disparitas antara ritual dan sosial. Keduanya saling mendukung dan melengkapi.
Dalam berbagai ritual Islam terkandung makna simbolik yang berimplementasi sosial. Misalnya, shalat yang berimplementasi pada pencegahan perbuatan dosa dan munkar. Demikian pula haji, zakat, shaum, dan ibadah lainnya memiliki makna sosial dan pembentukan moral. Banyak ayat Al-Qur’an yang berkaitan erat dengan interaksi sosial (kesalehan sosial) atau perilaku terhadap sesama manusia. Petunjuk tersebut bukan hanya dalam bentuk larangan untuk melakukan hal-hal negatif seperti membunuh, menyakiti badan, atau merampas harta, melainkan juga larangan menghina dan menyakiti hati.
Di sisi lain, Al-Qur’an sangat menekankan perilaku sopan santun dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, larangan memasuki rumah orang lain tanpa izin (QS Al-Baqarah, 2: 83), anjuran mengucapkan dan menyebarkan salam ketika bertemu orang lain (QS An-Nur, 24: 58), perintah untuk berkata jujur dan benar (QS Al-Ahzab, 33: 70), larangan menyapa dan memanggil seseorang dengan panggilan atau sebutan yang buruk (QS Al-Hujurat, 49: 11–12), serta anjuran menjadi pribadi yang pemaaf atas kesalahan atau dosa orang lain (QS Ali Imran, 3: 134).
Rangkaian akhlak atau perilaku tersebut pada hakikatnya merupakan paduan praktis antara hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan manusia (hablum minannas). (han)












