
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Penelitian & Pengembangan Paguyuban Pasundan (Akhlak dan Kehidupan: Akhlak Terhadap Lingkungan, dalam buku Afeksi Islam)
WWW.PASJABAR.COM – Lingkungan (ekologi) diartikan sebagai segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda tak bernyawa. Terkait dengan lingkungan tersebut, Islam dengan tegas melarang umat manusia melakukan kerusakan di bumi, baik kerusakan lingkungan maupun kerusakan terhadap diri sendiri.
Sedemikian tegasnya larangan itu sehingga orang yang melakukan kerusakan disebut sebagai mufsid (salah satu karakter dari sifat fasik).
Akhlak yang diajarkan Al-Qur’an dan Hadis terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan antara manusia dengan alam. Kekhalifahan juga mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, dan bimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Misalnya, seseorang tidak dibenarkan memetik buah sebelum matang atau memetik bunga sebelum mekar. Tindakan ini dilarang karena tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
Manusia sebagai Khalifah dan Tanggung Jawab Lingkungan
Larangan dan perintah tersebut menjadi ujian bagi manusia, apakah ia termasuk makhluk yang siap menaati dan menghormati ketentuan-Nya atau tidak. Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati setiap proses yang sedang berlangsung. Sikap seperti ini akan membentuk pribadi yang bertanggung jawab sehingga tidak melakukan kerusakan lingkungan. Sulit dipungkiri bahwa kerusakan lingkungan pada akhirnya akan berdampak pada kerusakan manusia sendiri.
Manusia juga harus memahami bahwa apa pun yang Allah ciptakan di dunia, manfaatnya akan kembali kepada manusia. Binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda tak bernyawa diciptakan oleh Allah dan sepenuhnya menjadi milik-Nya. Dalam hal ini, manusia hanya diberi amanah untuk mengelolanya. Seluruh ciptaan-Nya memiliki ketergantungan yang sangat kuat kepada-Nya. Keyakinan yang kuat terhadap hal ini akan mengantarkan seseorang pada kesadaran bahwa semua makhluk adalah umat Allah dan harus diperlakukan secara wajar serta baik sesuai dengan titah-Nya.
Surat Al-An’am (6) ayat 38 menegaskan bahwa binatang melata dan burung-burung adalah umat juga seperti manusia. Semuanya tidak boleh diperlakukan secara aniaya. Aniaya merupakan tindakan zalim, dan pelakunya disebut zalim. Bahkan dalam keadaan perang sekalipun, Al-Qur’an melarang tindakan aniaya tanpa alasan yang benar. Tidak hanya terhadap manusia dan binatang, mencabut atau menebang pohon pun dilarang, kecuali dalam keadaan terpaksa dan demi kemaslahatan, serta seizin Allah, yakni sejalan dengan tujuan penciptaan dan kemaslahatan bersama.
“Apa saja yang kamu tebang dari pohon atau kamu biarkan tumbuh berdiri di atas pokoknya, itu semua atas izin Allah.” (QS Al-Hasyr, 59: 5).
Keselarasan Manusia dengan Alam
Alam dan segala isinya telah ditundukkan oleh Allah bagi manusia. Di sisi lain, manusia diberi akal untuk menampung ilmu, dan dengan ilmu itu manusia mengelola isi alam tersebut. Itulah sebabnya manusia diberi gelar khalifah. Ilmu pemberian Allah mempermudah manusia memanfaatkan alam bagi kehidupannya. Namun, manusia tidak hanya dituntut mencari kemenangan, melainkan juga keselarasan dengan alam. Karena keduanya tunduk kepada Allah, manusia dan alam dapat hidup bersahabat dan harmonis dalam kemaslahatan bersama.
Selain akhlak terhadap tumbuhan dan lingkungan, Islam juga memperhatikan kelestarian serta keselamatan binatang. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap binatang; kendarailah dan beri makanlah dengan baik.” (HR Muslim).
Jelaslah bahwa akhlak Islam bersifat holistik dan komprehensif, mencakup seluruh makhluk ciptaan Allah. Penegasan ini penting karena secara fungsional setiap makhluk saling membutuhkan. Kerusakan salah satu jenis makhluk akan berdampak pada makhluk lainnya. Dengan demikian, akhlak Islam merupakan akhlak universal yang apabila diaplikasikan dengan baik, setiap makhluk akan merasakan fungsi dan eksistensinya di dunia. (han)












