
Oleh: Prof. Dr. Cartono, S.Pd., M.Pd., M.T., Wakil Rektor I Universitas Pasundan (Sejarah Kelahiran Ilmu Biologi dalam buku Biologi Umum)
WWW.PASJABAR.COM – Biologi, sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) seperti fisika dan kimia, muncul dari ketertarikan manusia terhadap fenomena alam. Manusia selalu ingin mengetahui lebih banyak tentang lingkungannya, termasuk benda-benda di sekitarnya, langit, dan bahkan dirinya sendiri. Makhluk hidup lain mungkin memiliki rasa penasaran, tetapi benda mati seperti batu dan air tidak memiliki keinginan atau niat. Air bergerak karena pengaruh alam, bukan karena keinginannya.
Makhluk hidup, seperti tumbuhan, menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan. Sebagai contoh, daun cenderung mencari sinar matahari dan akar mencari air. Hal ini merupakan kecenderungan alami yang berlangsung dalam jangka waktu lama. Lalu, bagaimana dengan hewan? Ubur-ubur mungkin bergerak tanpa keinginan sendiri, tetapi hewan yang lebih kompleks, seperti ikan dan burung, memiliki keinginan. Burung, misalnya, bergerak untuk mencari makanan atau tempat aman untuk bersarang. Mereka memiliki “pengetahuan” tentang cara membuat sarang, meskipun pengetahuan ini dapat berubah seiring waktu dan perubahan lingkungan.
Monyet juga menunjukkan rasa ingin tahu. Keingintahuan mereka didorong oleh insting yang berfokus pada kelangsungan hidup. Sementara itu, manusia, meskipun memiliki insting, juga memiliki kemampuan berpikir yang lebih maju. Rasa ingin tahu manusia terus berkembang. Manusia menggunakan pengetahuan lama untuk menciptakan hal baru, serta mengakumulasi pengetahuan selama berabad-abad, misalnya dari tinggal di gua hingga membangun pencakar langit.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Peran Biologi
Rasa ingin tahu yang tak terbatas ini telah mengembangkan perbendaharaan pengetahuan manusia. Hal ini mencakup kebutuhan praktis, seperti bertani atau berburu, tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan keindahan. Saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan cepat. Keduanya saling terkait dan bersama-sama membentuk peradaban manusia saat ini. Tidak ada ilmu yang berkembang sendiri; semuanya saling mendukung. Sebagai contoh, perkembangan biologi didukung oleh ilmu lain.
Dalam evolusi ilmu pengetahuan, biologi tidak tumbuh secara independen. Tidak ada satu disiplin ilmu pun yang berkembang sendiri; satu bidang ilmu mendukung bidang lainnya. Kemajuan pesat dalam biologi didorong oleh penemuan alat-alat yang bekerja berdasarkan prinsip fisika, seperti mikroskop dan alat listrik. Konsep fisika membantu menjelaskan banyak fenomena biologi, seperti osmosis dan difusi. Untuk memahami fenomena-fenomena ini secara mendalam, diperlukan pemahaman tentang fisika hayati.
Keterkaitan Biologi dengan Ilmu Lain
Proses pencernaan makanan dan enzim yang berperan di dalamnya dapat dijelaskan melalui ilmu kimia. Zat seperti karbohidrat dan protein merupakan bahan kimia hayati. Pemahaman mendalam tentang produksi dan fungsi hormon juga memerlukan pengetahuan kimia. Proses seperti fotosintesis, yang penting bagi semua makhluk hidup, merupakan fenomena fisikokimia.
Dengan dukungan dari fisika dan kimia, biologi berkembang ke arah pemahaman molekuler yang kemudian melahirkan cabang ilmu seperti biologi molekuler dan genetika. Dalam konteks ilmu alam lainnya, biologi sering kali menjadi pendorong kemajuan bidang IPA lain, sekaligus mendapatkan manfaat dari kemajuan bidang-bidang tersebut. Biologi memiliki posisi sentral karena menjadi dasar bagi banyak ilmu terapan lainnya.
Indonesia, dengan keanekaragaman hayatinya, memerlukan ahli biologi untuk menjaga keberlanjutan kekayaan alamnya. Secara tidak langsung, biologi juga memiliki relevansi dalam ilmu sosial-ekonomi, geografi, dan bidang lainnya.
Kemajuan teknologi, seperti pengembangan teleskop, serta kemampuan berpikir manusia menghasilkan revolusi dalam pandangan dunia pada abad ke-16. Sebagai titik balik, karya Nicolas Copernicus, yang tidak hanya seorang astronom tetapi juga ahli matematika dan medis, menantang pandangan lama tentang astronomi. Buku karyanya, De Revolutionibus Orbium Caelestium, yang ditulis pada 1507, mengusulkan model heliosentris sebagai pengganti model geosentris yang sebelumnya diyakini. (han)












