• Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Alamat Redaksi & Iklan
Sabtu, Mei 9, 2026
PASJABAR
No Result
View All Result
h
  • Login
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASJABAR
  • PASNUSANTARA
  • PASDUNIA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKESEHATAN
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASJABAR
  • PASNUSANTARA
  • PASDUNIA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKESEHATAN
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Saat Hati Bertamu ke Raudhah

Raudhah Madinah

ilustrasi (Foto : pasjabar)

Share on FacebookShare on Twitter
Penulis: Yatti Chahyati
Editor: Yatti Chahyati
Dipublikasikan: Sabtu. 9 Mei 2026 - 19:12 WIB

# Raudhah Madinah

READ ALSO

LLDIKTI IV Warning Kampus, Unpas Pastikan Prodi Tetap Aman

Dorong Kreativitas PAD, DPRD Minta Rekomendasi LKPJ Masuk RKPD 2027

Oleh: Firdaus Arifin

Dosen FH Unpas, Sekretaris APHTN HAN & Anggota Komisi Ukhwah Islamiyah MUI Jawa Barat

Madinah selalu datang dengan cara yang pelan. Ia tidak menghentak seperti kota-kota besar yang gemerlap oleh ambisi. Ia justru seperti seseorang tua yang menyapa lirih di ujung jalan: tenang, sederhana, tetapi membuat hati tiba-tiba ingin diam lebih lama.

Pada malam-malam menjelang Subuh di Masjid Nabawi, saya melihat manusia bergerak seperti aliran air. Tidak tergesa, meski waktu berjalan cepat. Ada lelaki tua Turki dengan tongkat kecil di tangan kirinya. Ada anak muda Asia yang berkali-kali membuka aplikasi penerjemah di telepon genggamnya. Ada jemaah dari berbagai bangsa dengan wajah-wajah yang letih namun damai. Dunia berkumpul di sini, tetapi anehnya tidak terasa asing.

Semua menuju satu tempat yang sempit: Raudhah.

Orang menyebutnya taman surga. Tetapi malam itu saya merasa Raudhah lebih mirip lorong panjang menuju diri sendiri. Sebab di tempat itu manusia sering kehilangan kemampuan untuk berbohong.

Kita mungkin bisa memalsukan banyak hal di dunia: senyum, pidato, kesalehan, bahkan cinta. Tetapi tidak mudah memalsukan getaran hati ketika berdiri dekat makam Rasulullah SAW. Ada sesuatu yang luruh tanpa suara.

Barangkali itulah sebabnya banyak orang menangis di sana tanpa tahu alasan yang pasti.

Debu

Di luar Tanah Suci, hidup sering berjalan seperti perlombaan tanpa garis akhir. Orang mengejar jabatan, gelar, pengaruh, dan angka-angka yang terus berubah. Kita hidup di zaman ketika manusia ingin terlihat penting bahkan sebelum benar-benar berguna.

Media sosial membuat kehidupan seperti etalase panjang. Orang sering menampilkan kebahagiaan sambil menyimpan kegelisahan yang tak selalu terlihat. Banyak manusia tampak baik-baik saja di layar, meski diam-diam menyimpan kegelisahan ketika sendirian.

Seperti diisyaratkan Jalaluddin Rumi, manusia kerap terjebak dalam ilusi tentang kebesaran dirinya. Kalimat itu tiba-tiba terasa sangat dekat di Raudhah.

Di sana, semua yang kita banggakan tampak seperti debu.

Tak ada yang peduli siapa profesor, siapa pejabat, siapa pengusaha, siapa tokoh terkenal. Tubuh-tubuh berdempetan tanpa protokol. Kaki saling menginjak. Bahu saling bersentuhan. Dan untuk pertama kalinya mungkin kita sadar: manusia ternyata begitu kecil.

Kesadaran itu kadang tidak mudah diterima.

Sebab selama ini kita terlalu lama hidup dalam ilusi tentang diri sendiri. Kita ingin diingat, dipuji, dihormati. Kita marah ketika diabaikan. Kita kecewa ketika tak dianggap penting. Padahal di hadapan waktu, manusia hanyalah persinggahan pendek.

Raudhah seperti mengajak manusia menata ulang cara memandang dirinya sendiri.

Nafas

Ada yang berbeda dengan udara di Raudhah. Bukan karena ia lebih dingin atau lebih wangi, tetapi karena manusia datang membawa napas yang lain: napas penyesalan.

Saya mendengar seorang lelaki Indonesia berbisik setelah shalat. Suaranya nyaris hilang di antara keramaian.

“Saya terlalu sibuk selama ini.”

Kalimat itu sederhana. Tetapi mungkin mewakili banyak orang.

Kita hidup terlalu cepat. Kita bekerja sampai lupa bercakap dengan anak sendiri. Kita mengejar dunia sampai kehilangan waktu untuk mendengar hati. Bahkan ibadah sering berubah menjadi rutinitas mekanis yang kehilangan getaran.

Di Raudhah, waktu seperti melambat. Orang duduk lama hanya untuk membaca satu halaman Al Quran. Ada yang memandangi kubah hijau tanpa bicara. Ada yang memejamkan mata seakan sedang mengingat seseorang yang telah lama pergi.

Saya tiba-tiba merasa bahwa manusia sebenarnya tidak terlalu membutuhkan banyak hal. Kita hanya terlalu takut hidup sederhana.

Modernitas mengajarkan cara memiliki. Tetapi tempat-tempat seperti Raudhah mengajarkan cara melepaskan.

Melepaskan dendam. Melepaskan iri hati. Melepaskan keinginan untuk selalu menang sendiri.

Dan bukankah hidup menjadi berat justru karena terlalu banyak yang kita genggam?

Bayang

Di Raudhah, saya sering berpikir tentang Nabi Muhammad SAW bukan sebagai tokoh besar sejarah, melainkan sebagai manusia yang pernah merasa lelah, sedih, dan kehilangan.

Sering kali kita membayangkan nabi-nabi sebagai sosok yang jauh dari luka. Padahal kehidupan Rasulullah SAW dipenuhi kehilangan: ditinggal ayah sebelum lahir, kehilangan ibu saat kecil, wafatnya Khadijah, wafatnya anak-anak beliau, pengkhianatan, hinaan, perang, dan kesepian.

Namun dari semua itu, beliau tidak tumbuh menjadi manusia yang pahit.

Itu mungkin salah satu mukjizat terbesar akhlak.

Di dunia hari ini, sedikit luka saja bisa membuat manusia berubah kasar. Sedikit kritik membuat orang ingin membalas. Sedikit kekuasaan membuat orang lupa batas.

Tetapi Rasulullah SAW justru menunjukkan bahwa kekuatan terbesar bukan kemampuan menguasai orang lain, melainkan kemampuan menguasai diri sendiri.

Saya kira karena itulah Raudhah tidak hanya menghadirkan kerinduan spiritual, tetapi juga rasa malu. Kita merasa terlalu sering hidup jauh dari teladan yang sederhana itu.

Kita sering fasih berbicara tentang agama, tetapi kadang lupa menjaga kelembutan kepada sesama. Kita suka mengutip ayat, tetapi sulit berlaku lembut. Kita sibuk memperdebatkan simbol, tetapi lupa memelihara hati.

Di Raudhah, banyak hal dalam diri terasa tampil tanpa penutup.

Hening

Barangkali yang paling saya ingat dari Raudhah justru bukan doa-doanya, melainkan keheningannya.

Di tengah jutaan manusia, tempat itu tetap menyisakan ruang sunyi yang aneh. Dan dalam sunyi itulah hati mulai berbicara lebih jujur.

Dalam pemikiran Al-Ghazali, hati manusia kerap diibaratkan cermin yang menjadi keruh ketika terlalu dipenuhi hasrat duniawi. Saya tidak sepenuhnya memahami gagasan itu sebelumnya. Tetapi di Madinah, saya mulai mengerti.

Kita terlalu sering hidup untuk dilihat orang lain.

Padahal hidup seharusnya juga memberi ruang untuk dilihat oleh diri sendiri.

Mungkin itu sebabnya banyak orang pulang dari Tanah Suci bukan dengan jawaban, melainkan dengan pertanyaan baru. Tentang apa arti berhasil. Tentang mengapa hidup terasa kosong meski serba cukup. Tentang mengapa manusia modern begitu mudah cemas.

Raudhah tidak memberi ceramah panjang. Ia hanya menyediakan ruang agar manusia mendengar suara hatinya sendiri.

Dan ternyata suara itu sudah lama kita abaikan.

Pulang

Pada akhirnya, semua jemaah akan pulang. Pesawat-pesawat akan kembali membawa manusia ke negaranya masing-masing. Koper dibuka. Oleh-oleh dibagikan. Foto-foto diunggah ke media sosial. Kehidupan kembali berjalan.

Tetapi saya percaya, selalu ada sesuatu yang tertinggal di Raudhah.

Mungkin keinginan untuk lebih rendah hati. Mungkin air mata yang jatuh tanpa diketahui siapa pun. Mungkin doa yang tidak sempat selesai diucapkan. Atau mungkin kesadaran kecil bahwa hidup ternyata terlalu singkat untuk diisi pertengkaran yang sia-sia.

Kita datang ke Tanah Suci membawa banyak nama dalam doa. Orangtua. Anak. Sahabat. Orang yang kita cintai. Bahkan orang yang pernah melukai kita.

Dan anehnya, di dekat makam Rasulullah SAW, kebencian terasa melelahkan.

Saya kira itulah pelajaran yang jarang dibicarakan tentang haji: ia bukan hanya perjalanan menuju Tuhan, tetapi juga perjalanan untuk berdamai dengan diri sendiri.

Saat hati bertamu ke Raudhah, manusia akhirnya mengerti bahwa yang paling sulit dalam hidup bukan mencapai puncak, melainkan menjaga hati agar tetap rendah ketika berada di atas.

Dan mungkin, seluruh perjalanan spiritual pada akhirnya hanyalah upaya panjang untuk menjadi manusia yang lebih lembut sebelum waktu selesai. (*)

# Raudhah Madinah

Disclaimer

Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.

Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.

Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer .

Tags: Akhlak RasulullahFH UnpasFirdaus Arifinhajiislamjamaah hajiMadinahMasjid NabawiMUI Jawa BaratPerjalanan SpiritualRasulullah SAWRaudhahRaudhah MadinahRefleksi KehidupanreligiRenungan IslamSpiritual IslamTanah Suciumrahwisata religi

Related Posts

Penutupan Prodi Keguruan
HEADLINE

LLDIKTI IV Warning Kampus, Unpas Pastikan Prodi Tetap Aman

Sabtu. 9 Mei 2026 - 17:44
PAD Kota Bandung
HEADLINE

Dorong Kreativitas PAD, DPRD Minta Rekomendasi LKPJ Masuk RKPD 2027

Sabtu. 9 Mei 2026 - 17:20
unpas guru besar
HEADLINE

Unpas Tambah 9 Guru Besar, Perkuat Tradisi Akademik Kampus

Sabtu. 9 Mei 2026 - 16:41
Sidang Doktor Ade Yusuf
HEADLINE

Sidang Doktor Ade Yusuf Bahas Pengaruh Faktor Teknologi terhadap Penggunaan Bukalapak

Sabtu. 9 Mei 2026 - 13:49
Sidang Doktor Raden Khemal
HEADLINE

Sidang Terbuka Doktor Unpas: Raden Khemal Youwangka Raih Gelar Doktor Ilmu Manajemen

Jumat. 8 Mei 2026 - 19:31
DPRD Kota Bandung
HEADLINE

Evaluasi LKPJ Disorot, DPRD Tekankan Rekomendasi untuk Perbaikan RKPD 2027

Jumat. 8 Mei 2026 - 17:03

POPULAR NEWS

19 Sekolah di Jawa Barat Resmi Jadi Sekolah Maung 2026, Diterapkan di Tahun Ajaran Baru

Kamis. 7 Mei 2026 - 15:24
Sidang Doktor Raden Khemal

Sidang Terbuka Doktor Unpas: Raden Khemal Youwangka Raih Gelar Doktor Ilmu Manajemen

Jumat. 8 Mei 2026 - 19:31
unpas guru besar

Unpas Tambah 9 Guru Besar, Perkuat Tradisi Akademik Kampus

Sabtu. 9 Mei 2026 - 16:41
Raudhah Madinah

Saat Hati Bertamu ke Raudhah

Sabtu. 9 Mei 2026 - 19:12

Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Wilayah Paguyuban Pasundan se Tanah Papua

Sabtu. 25 April 2026 - 14:09

EDITOR'S PICK

Nisfu Syaban 2025

Malam Nisfu Syaban 2025: Waktu dan Keutamaannya

Sabtu. 8 Februari 2025 - 20:00
Tentara Israel

Penulis Sekaligus Ex Ketum JITU Ungkap Mitos Kehebatan Tentara Israel Dalam Bedah Buku Di Bandung

Senin. 19 Januari 2026 - 08:00
Peneliti Unpas

Tim Peneliti Unpas Beberkan Model Kebijakan Progresif Transportasi untuk Pengembangan Smart Port Indonesia

Sabtu. 25 Oktober 2025 - 14:55
mahasiswa hukum unpas

Mahasiswa Hukum Unpas Berprestasi di Mojang Jajaka Jawa Barat

Minggu. 19 Januari 2025 - 09:00

About

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

Follow us

Kategori

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized

Recent Posts

  • Saat Hati Bertamu ke Raudhah
  • LLDIKTI IV Warning Kampus, Unpas Pastikan Prodi Tetap Aman
  • Dorong Kreativitas PAD, DPRD Minta Rekomendasi LKPJ Masuk RKPD 2027
  • Unpas Tambah 9 Guru Besar, Perkuat Tradisi Akademik Kampus
  • Buy JNews
  • Landing Page
  • Documentation
  • Support Forum

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by
No Result
View All Result
  • Homepages
    • Home Page 1
    • Home Page 2

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.