CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 19 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home PASPENDIDIKAN

Pemanfaatan Satwa Liar Sebagai Obat Tradisional Oleh Masyarakat Bangka Belitung

Tiwi Kasavela
13 Januari 2023
Pemanfaatan Satwa Liar Sebagai Obat Tradisional Oleh Masyarakat Bangka Belitung

Ahmad Juliyanta Wibawa (ist)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

BANGKA, WWW.PASJABAR.COM– Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbanyak di dunia setelah Brazil. Kekayaan itu yang menyebabkan Indonesia menempati posisi penting dalam peta keanekaragaman hayati dunia dan dikenal sebagai salah satu Megabiodiversity Count.

Kepulauan Bangka Belitung merupakan provinsi yang terdiri dari dua pulau utama, yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung.

Provinsi Kepuluan Bangka Belitung merupakan salah satu penghasil obat tradisional yang ada di 7 daerah kabupaten/kota .

Yang mana budaya lokal masih memiliki teradisi obat-obatan tradisional sering digunakan oleh masyarakat sekitar. Semua peradaban manusia dengan sistem obat terstruktur akan memanfaatkan satwa liar sebagai obat.

Satwa liar dimanfaatkan sebagai sumber pengobatan sejak lama dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam praktik pengobatan.

Pengobatan tradisional merupakan pengobatan yang dilakukan secara tradisional, turun-temurun, berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat, ke masyarakat Kepulauan Bangka Belitung , pada umumnya masih memanfaatkan sumber daya alam dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

Hal ini diketahui dari mata pencarian penduduk Kepulauan Bangka Belitung yang mana pada umumnya memiliki berkerjaan sehari-harinya ialah petani, nelayan, dan penambang.

Masyarakat Kepuluan Bangka Belitung memiliki kepercayaan, atau kebiasaan setempat, baik bersifat magis maupun pengetahuan tradisional.

Pengobatan tradisional juga merupakan pengobatan dan perawatan yang diselenggarakan dengan cara lain di luar ilmu kedokteran atau keperawatan yang lazim dikenal, mengacu kepada pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang diperoleh secara turun temurun, dan berguru melalui pendidikan atau pelatihan, baik asli dari Indonesia maupun yang berasal dari luar Indonesia dan diterapkan sesuai norma yang berlaku dalam masyarakat Indonesia maupun lokal.

Baca juga:   Pastv || Gus Ahad Basmi Pungli Di Sekolah

Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan tingkat kerusakan keanekaragaman hayati yang paling parah di dunia, Selain itu Kepuluan Bangka Belitung memiliki kerusakan pada keanekaragaman hayati yang paling parah di indonesia.
Kepuluan Bangka Belitung harus memiliki tantangan keanekaragaman hayati yang ada di Kepuluan mencakup penebangan liar, peraturan perundangan terkait kehutanan yang tidak konsisten, kurangnya perencanaan pariwisata sehingga dapat merusak lingkungan, dan praktik pariwisata yang tidak sustainable.

Salah satu contoh yang paling krusial adalah deforestasi, yaitu ancaman utama kelestarian hutan di Indonesia yang diakibatkan oleh pertambangan, perambahan hutan, konversi hutan, illegal logging, dan kebakaran.

Setiap 7 kabupaten/kota yang ada di Desa memiliki obat-obat tradisional salah satunya yaitu :

Kabupaten Bangka

Masyarakat Kabupaten Bangka terkait pemanfaatan satwa liar sebagai obat pengobatan tradisional merupakan salah satu pengetahuan yang diwariskan oleh para leluhur mereka secara turun-temurun. Berdasarkan hasil wawancara dari 15 orang, mayoritas masyarakat Kabupaten Bangka masih menggunakan satwa liar sebagai pengobatan tradisional.

Ada 8 kecamatan di kabupaten Bangaka yang memiliki berapa-berapa Desa yang di wawancarai yaitu , Desa Tanah Bawah di Kecamatan Puding Besar, Desa Kimak di Kecamatan Merawang, dan Desa Silip di Kecamatan Riau Silip .Di Kabupaten Bangka kebutuhan satwa liar sebagian besar diperoleh melalui perburuan.

Selain itu, alih fungsi lahan tempat diambilnya satwa liar menjadi penyebab utama semakin sulitnya mendapatkan satwa liar.

Enam satwa liar dimanfaatkan dagingnya oleh masyarakat Kabupaten Bangka, yaitu ikan gabus dan ular phyton sebagai obat luka dalam, tupai sebagai obat diabetes, katak sungai dan belut sebagai obat asma, mengkarong sebagai obat saraf.

Baca juga:   RUU Sisdiknas Jadi Solusi Peningkatan Kesejahteraan Guru

Kabuapten Bangka Tengah

Masyarakat Kabupaten Bangka Tengah dalam pemanfaatan obat – obatan tradisional Berdasarkan hasil wawancara 5 orang.

Ada 6 Kecamatan di Kabupaten Bangka Tengah yang memiliki berapa-berapa Desa yang di wawancarai yaitu, Desa Batu Beriga dan Desa Perlang masih memanfaatkan satwa liar sebagai obat – obtan tradisional.

Masyarakat Kabupaten Bangka Tengah yaitu, ikan gabus sebagai obat luka dalam atau obat penyembuh luka bekas operasi, kejawak/biawak sebagai obat gatal-gatal, tupai dan kelelawar sebagai obat asma, keempat daging satwa liar tesebut diolah dengan cara dimasak/dibakar kemudian dimakan.

Ular Sabek/Sanca digunakan oleh masyarakat Kabupaten Bangka Tengah sebagai obat buang air besar darah dan obat malaria. Ikan lele dipercayai oleh masyarakat Kabupaten Bangka Tengah sebagai obat penyembuh tenguang/bitnik merah dikepala, Penyu merupakan satwa liar yang digunakan oleh masyarakat Kabupaten Bangka Tengah sebagai obat tradisional yaitu obat bisul. burung walet gunung dimanfaatkan sebagai obat penurun panas/demam. kura-kura sebagai obat asma.

Kabupaten Bangka Selatan

Masyarakat Kabupaten Bangka Selatan dalam pemanfaatan obat – obatan tradisional Berdasarkan hasil wawancara 5 orang .

Ada 8 Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan yang memiliki berapa-berapa Desa yang di wawancarai yaitu, Desa Ranggaas.

Desa Ranggas adalah sebuah wilayah yang terletak di Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan, dimana masyarakat setempat masih menjaga budaya terdahulu dimasa modern seperti sekarang salah satunya yaitu masih memanfaatan satwa liar sebagai obat tradisional.

Kabupaten Bangka Barat

Masyarakat Kabupaten Bangka Barat dalam pemanfaatan obat – obatan tradisional Berdasarkan hasil wawancara 9 orang . Ada 6 Kecamatan di Kabupaten Bangka Baratyang memiliki berapa-berapa Desa yang di wawancarai yaitu, Desa Tempilang yang berada di Kecamatan Tempilang dan Desa Pelangas yang berada di Kecamatan Simpang Teritip .

Baca juga:   BAN PT Akreditasi Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Pasundan

Masyarakat Kabupaten Bangka Barat masih menggunakan satwa liar sebagai pengobatan tradisional. Dua satwa liar dimanfaatkan dagingnya oleh masyarakat Kabupaten Bangka Barat, yaitu Biawak sebagai obat linu dan Ikan Lele sebagai obat penambah darah.

Kota Pangkalpianag

Masyarakat Kota Pangkalpianag dalam pemanfaatan obat – obatan tradisional Berdasarkan hasil wawancara 1 orang . Ada 7 Kecamatan di Kota Pangkalpiang yang memiliki berapa-berapa Kelurahan yang di wawancarai yaiu, Kelurahan Ketapang (kecamatan pangkalbalam). manfaatkan masyarakat Kelurahan Ketapang sebagai obat tradisional salah satunya ialah cicak yang dimana cicak bisa dimanfaatkan dalam penyembuhan penyakit Tipes.

Provinsi Kepuluan Bangka Belitung memiliki sumber daya alam dan lingkungan yang masih di lestariskan saat ini, namun ada berapa juga sumber daya alam dan lingkungan yang saat ini masih rusak atau tidak baik-baik saja di sebabkan dengan pertambangan , kebakaran, penebangan liar dan industri .

Makanya dari itu masyarakat Kepuluan Bangka Belitung masih susah mencari satwa liat atau keanekaragaman hayati untuk obat-obataan tradisional.

Di derah Kepuluan Bangka Belitung keanekargaman hayati udah banyak yang kurang atau kepunahan. Masyrakat Kepuluan Bangka Belitung susah mendapatkan satwa liat untuk menjadikan obat tradisional, oleh karena itu rata-rata masyarakat sekarang sudah mengunakan obat-obatan dari dokter atau taem medis.

Ditulis oleh Mahasiswa Jurusan Konservasi Sumber Daya Alam Fakultas teknik dan Sains Universitas Bangka Belitung Ahmad Juliyanta Wibawa

(*/tiwi)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Tiwi Kasavela
Tags: Satwa Liar


Related Posts

No Content Available

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

google
HEADLINE

Google Perluas Strategi Wearable Lewat Kacamata Pintar Gucci Berbasis XR

19 April 2026

WWW.PASJABAR.COM - Google dilaporkan memperluas strategi pengembangan kacamata pintar berbasis Android XR dengan menggandeng perusahaan optik global...

Permendiktisaintek

Cabut Permendiktisaintek No 3 Tahun 2026, Karena Tidak Adil Bagi PTS

19 April 2026
unpad

Unpad Imbau Peserta UTBK Jatinangor Disiplin Waktu dan Administrasi

19 April 2026
bnpb

BNPB Catat Bencana Serentak Terkini di Sejumlah Wilayah Indonesia

19 April 2026
ITB

ITB Wisuda 2026 Tekankan Pendidikan Inklusif dan Kisah Perjuangan Mahasiswa

19 April 2026

Highlights

BNPB Catat Bencana Serentak Terkini di Sejumlah Wilayah Indonesia

ITB Wisuda 2026 Tekankan Pendidikan Inklusif dan Kisah Perjuangan Mahasiswa

Jabar Bangun PSEL Sarimukti dan Bogor, Atasi Sampah Perkotaan

Dedi Mulyadi: Peradaban Sunda Tertinggi Ada pada Nilai Rasa

Dies Natalis UIN Bandung, Dedi Dorong Akses Kuliah Gratis

Jabar Jadi Pilot Project Program Gentengisasi Rumah Subsidi Nasional

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.