# Dosen FKIP Unpas
BANDUNG, WWW. PASJABAR.COM — Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unpas, Desti Fatin
Fauziyyah, S.Pd., M.Pd., telah merilis karya terbarunya berupa antologi puisi bertajuk “Variasi Kunyit Kuning”.
Sebagai salah satu dosen yang aktif dalam dunia sastra dan pendidikan, Desti berbagi pengalamannya seputar karya dan proses kreatifnya.
Antologi ini bukanlah proyek pertamanya, melainkan yang ke-9 dalam serangkaian karya puisi. Sejak awal, karya
ini lahir dari keinginan bersama beberapa teman perempuan di bawah tagar #DatangUntukMenulis.
“Komunitas ini menjadi semangat baru untuk menulis bersama, memperkuat diri, dan berdiskusi tentang tulisan
di tengah fenomena yang terjadi di sekitar kami,” tuturnya.
Dalam wawancara eksklusif, kepada PASJABAR, kamis (28/12/2023) Desti mengungkapkan bahwa cinta dan
ketertarikannya pada puisi sudah terlihat sejak usia sangat dini.
“Saat masih berusia 5 tahun, saya sudah senang membaca puisi di panggung-panggung kemerdekaan dan perlombaan,” ujarnya.
Bergabung di ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra) semasa kuliah semakin memperdalam hasratnya terhadap puisi.
# Dosen FKIP Unpas
Terkait dengan genre puisi yang digemarinya, Desti menyatakan bahwa dia suka dengan semua jenis puisi.
Baik itu puisi lama seperti pantun, maupun yang lebih modern seperti romansa dan balada.
“Menulis puisi bagi saya bukan sekadar ungkapan, tapi juga cara untuk meresapi setiap nuansa kehidupan,” katanya.
Dalam menjalani peran sebagai dosen, Desti tidak hanya menulis untuk dirinya sendiri. Ia juga mengajarkan dan
menginspirasi mahasiswa di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unpas.
“Kami selalu mengapresiasi puisi sebagai bentuk apresiasi sastra, baik sebagai penikmat maupun analisis karya sastra,” paparnya.

Tentang inspirasi dalam menulis puisi, Desti mengakui bahwa komunitas #DatangUntukMenulis menjadi sumber energi kreatifnya.
“Melalui komunitas ini, saya terbantu untuk memecahkan writer’s block dan merangkul inspirasi dengan lebih leluasa,” ucapnya.
Menanggapi pertanyaan tentang kriteria puisi yang baik, Desti menyatakan bahwa semua puisi memiliki nilai.
Puisi yang baik adalah yang mampu membuat pembacanya merasakan setiap kata dengan irama dan rima yang terstruktur baik di larik dan bait.

Sebagai penutup, Desti memberikan pandangan terhadap rencana masa depannya.
“Saya akan terus menulis puisi dan buku cerita anak. Di acara Kedai Jante kemarin, kami mengumumkan rencana
untuk membuat antologi cerita pendek sebagai bagian dari proyek ‘Datang Untuk Menulis Seri 2’,” tambahnya.
Dengan harapan bahwa komunitas #DatangUntukMenulis terus berkembang dan memberikan manfaat besar
bagi para penulis, Desti Fatin Fauziyyah, menandaskan komitmennya dalam menyumbangkan karya-karya bermakna di dunia sastra.
“Semoga komunitas Datang Untuk Menulis ini terus berkembang dan mampu menjadi wadah berkumpul yang memberikan manfaat besar untuk menulis, pungkasnya. (tiwi)












