BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Angin pagi di Lembang selalu membawa aroma pinus dan kenangan. Tapi di balik kesejukan dan ketenangan alamnya, Lembang menyimpan kisah lama, tentang para tuan tanah, petinggi kolonial, dan misionaris yang pernah membentuk wajah kota kecil ini. Sebuah narasi kolonialisme yang jarang dibicarakan, apalagi dipijak langsung dengan kedua kaki.
Pada Minggu pagi, 20 Juli 2025 mendatang, komunitas Temu Sejarah kembali menggelar kegiatan eksplorasi sejarah bertajuk Temu Sejarah Explore #6: Lembang dalam Sketsa Kolonialisme, berkolaborasi dengan Komunitas Sejarah Lembang.
Sebuah ajakan untuk tak hanya mengingat, tapi juga mengalami sejarah secara utuh—melalui langkah kaki dan percakapan di lokasi-lokasi yang menyimpan cerita dari masa lampau.
“Lembang itu seperti halaman buku tua yang halus, kalau tak dibuka dengan hati-hati, bisa robek atau justru terlewat,” kata Tiwi Kasavela, pendiri Temu Sejarah Indonesia.
Bersama Temu Sejarah, acara ini akan dipandu oleh Malia Nur Alifa, tour guide sekaligus pengurus Komunitas Sejarah Lembang.
Dengan kontribusi hanya Rp25.000 per orang, peserta akan diajak menyusuri jejak kolonial dari titik kumpul di Alun-Alun Lembang, menyelami kembali masa ketika Lembang menjadi wilayah strategis dalam lanskap kolonial Hindia Belanda.
Rute akan melewati jalanan yang dulunya merupakan jalur pengangkut hasil bumi, rumah-rumah peninggalan Ursone yang kini tinggal sunyi, serta lokasi bekas peternakan raksasa yang pada masanya disebut terbesar se-Asia Tenggara. Semua kisah ini dirangkai dengan narasi sejarah yang bertaut dengan mitos lokal—antara Sangkuriang, Saunggalah, dan perubahan lanskap sosial yang dibawa kolonialisme.
Bagi Tiwi, sejarah bukan sekadar kronologi, melainkan pengalaman yang bisa dirasa.
“Kami ingin membangun hubungan batin dengan ruang-ruang sejarah. Ketika kaki melangkah di tempat yang pernah dilalui penjajah, guru pribumi, atau petani lokal, kita sedang menyambung simpul memori kolektif bangsa,” tandasnya.
Peserta tidak hanya diajak mendengar, tapi juga berdialog—tentang bagaimana kolonialisme membentuk tata kota, relasi kuasa, hingga cara kita memandang warisan budaya hari ini. Dalam kegiatan ini, sejarah menjadi milik bersama, bukan monopoli buku atau akademisi.
📍 Informasi Acara
Temu Sejarah Explore #6: Lembang dalam Sketsa Kolonialisme
🗓 Minggu, 20 Juli 2025
🕘 09.00–12.00 WIB
💵 Rp25.000/orang
📌 Titik kumpul: Alun-Alun Lembang, Gang Denser I No 13, Lembang, Kabupaten Bandung
📲 Daftar via WhatsApp: 0895-3572-55688
📸 IG: @temusejarah
Karena sejarah tak hanya milik masa lalu. Ia juga hidup dalam langkah kita hari ini. Sampai jumpa di Lembang—di mana udara sejuk, mitos, dan kolonialisme berbaur dalam satu sketsa perjalanan. (tiwi)












