WWW.PASJABAR.COM – Belantara Foundation bekerja sama dengan PT Agincourt Resources, Program Studi (Prodi) Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Pakuan menyelenggarakan Belantara Learning Series Episode 13 (BLS Eps.13) dengan tema “Peluang Koeksistensi dalam Upaya Konservasi Orangutan Tapanuli”.
Kegiatan yang digelar secara hybrid ini berpusat di Auditorium Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor, dan disiarkan melalui Zoom serta live streaming YouTube Belantara Foundation. Lebih dari 780 peserta dari berbagai daerah berpartisipasi aktif.
Acara turut mendapat dukungan dari Forum Konservasi Orangutan Indonesia (FORINA) dan Pusat Riset Primata Universitas Nasional. Selain itu, enam universitas berperan sebagai kolaborator dengan menggelar sesi “Nonton dan Belajar Bareng” BLS Eps.13, yakni Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Andalas, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Nusa Bangsa, dan Universitas Tanjungpura.
Tantangan Konservasi Orangutan Tapanuli
Dalam keynote speech, Nunu Anugrah, S.Si., M.Sc., Direktur Konservasi dan Genetik Ditjen KSDAE Kementerian LHK RI, menekankan kompleksitas tantangan pelestarian orangutan, termasuk orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis). Faktor-faktor yang mengancam antara lain fragmentasi habitat, perburuan ilegal, isolasi populasi, risiko penyakit, serta konflik dengan manusia.
“Menyikapi fenomena tersebut, pemerintah telah melindungi orangutan tapanuli melalui regulasi hukum dan melaksanakan berbagai inisiatif, mulai dari restorasi habitat, rehabilitasi orangutan, pengamanan kantong habitat, hingga penyadartahuan publik,” tegas Nunu.
Dr. Wanda Kuswanda, M.Sc., Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, menambahkan bahwa orangutan tapanuli yang baru diidentifikasi sebagai spesies terpisah pada 2017 kini berstatus Critically Endangered menurut IUCN, dengan populasi hanya sekitar 577–760 individu di Hutan Batangtoru, Sumatera Utara.
“Mitigasi konflik antara manusia dan orangutan tapanuli harus menjadi prioritas multi pihak, dengan prinsip dasar keselamatan manusia dan satwa. Koeksistensi hanya bisa terwujud bila kepentingan manusia dan kebutuhan orangutan disejajarkan,” ujarnya.
Pendekatan Kolaboratif
Dr. Dolly Priatna, Direktur Eksekutif Belantara Foundation sekaligus pengajar Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, memperkenalkan pendekatan Conflict to Coexistence (C2C) untuk mengubah konflik menjadi peluang koeksistensi. Pendekatan ini menekankan toleransi, tanggung jawab bersama, ketahanan, dan holisme.
“Koeksistensi berkelanjutan hanya bisa tercapai dengan perencanaan tata ruang yang adil, keterlibatan masyarakat, penegakan hukum, kolaborasi multi pihak, serta komitmen jangka panjang. Dengan sinergi pemerintah, akademisi, dunia usaha, NGO, masyarakat, dan media, mimpi hidup berdampingan harmonis bisa diwujudkan,” jelas Dolly.
Sementara itu, Sanny Tjan, Direktur Hubungan Eksternal PT Agincourt Resources, menekankan pentingnya konsep pentahelix dalam konservasi.
“Kolaborasi multipihak yang berkesinambungan, dengan kontribusi nyata dari semua elemen, akan memperkuat implementasi program pelestarian orangutan tapanuli,” ungkapnya.
Dari perspektif sosial budaya, Sundjaya, M.Si., Associate Fellow Departemen Antropologi FISIP UI dan Co-founder Anama Consulting, menilai bahwa etnografi dapat menjadi metode strategis memahami interaksi masyarakat lokal dengan orangutan tapanuli, sehingga strategi konservasi lebih inklusif dan partisipatif.
Dukungan Akademisi
Tuan rumah acara, Prof. Dr. Sri Setyaningsih, M.Si., Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, berharap seminar ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan lintas sektor.
“Semoga kegiatan ini membawa manfaat besar bagi upaya konservasi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, hadir pula narasumber berpengalaman dalam konservasi orangutan, yakni Dr. Sri Suci Utami Atmoko (Universitas Nasional), Onrizal, Ph.D. (Universitas Sumatera Utara), dan Edy Hendras Wahyono (Orangutan Foundation International), dengan moderator Sardi Duryatmo, mantan Pemred Majalah Trubus.
Tentang Belantara Foundation
Belantara Foundation adalah organisasi nirlaba independen berbasis di Indonesia, berdiri sejak 2014. Fokus pada konservasi lingkungan, restorasi hutan, pelestarian satwa liar, serta pengembangan masyarakat berkelanjutan, Belantara aktif di Sumatra dan Kalimantan. Pada November 2024, Belantara resmi menjadi anggota International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Informasi lebih lengkap tersedia di: www.belantara.or.id. (*)












