BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Suasana di halaman Kebon Seni, Jalan Tamansari, Kota Bandung, tampak tidak biasa pada Rabu (17/12/2025). Sejumlah seniman yang tergabung dalam kolektif Barudak Bubat Coret menggelar aksi unjuk rasa unik dalam bentuk performance art.
Dengan tema sentral “Peresmian Pemakaman Koruptor LJR”, para seniman ini menyuarakan kritik tajam terhadap konflik yang tengah menyelimuti Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) serta eksploitasi alam yang merusak lingkungan.
Aksi ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan sebuah respons artistik sekaligus pernyataan sikap publik terhadap keserakahan manusia dalam mengeksploitasi sumber daya alam.
Melalui simbolisme “pemakaman koruptor”, Barudak Bubat Coret menyentil pihak-pihak yang dianggap mementingkan keuntungan pribadi di atas kelestarian kawasan konservasi.
Simbolisme Peresmian Pemakaman Koruptor

Dalam pertunjukannya, para seniman menggunakan berbagai properti teatrikal untuk menggambarkan kehancuran moral dan lingkungan.
Tema “Pemakaman Koruptor LJR” dipilih sebagai kiasan untuk mengubur sifat-sifat serakah yang dapat mematikan ekosistem dan warisan sejarah kota.
Aksi Barudak Bubat Coret Kritik Bandung Zoo ini menyoroti bahwa konflik lahan dan pengelolaan yang terjadi bukan sekadar masalah administratif, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup satwa.
Mereka menggambarkan bahwa eksploitasi yang tidak terkendali akan berujung pada “kematian” ruang terbuka hijau dan kawasan konservasi yang seharusnya dilindungi oleh negara dan masyarakat.
Menjaga Bandung Zoo Sebagai Kawasan Konservasi
Salah satu poin utama yang ditekankan dalam aksi ini adalah penolakan keras terhadap segala bentuk alih fungsi lahan Bandung Zoo.
Para seniman dan aktivis yang hadir mendesak agar Kebun Binatang Bandung tetap dipertahankan fungsinya sebagai kawasan konservasi satwa.
Mereka menilai bahwa Bandung Zoo memiliki nilai sejarah dan ekologis yang tak ternilai bagi warga Jawa Barat.
Upaya mengubah fungsi lahan tersebut menjadi kawasan komersial dianggap sebagai langkah mundur yang akan merusak ekosistem perkotaan Bandung.
“Bandung Zoo adalah paru-paru kota dan ruang pendidikan, jangan sampai dikorbankan demi kepentingan jangka pendek,” ungkap salah satu peserta aksi.
Desakan Ketegasan Pemerintah Kota Bandung
Melalui narasi seni yang kuat, Barudak Bubat Coret berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung segera mengambil sikap tegas.
Ketegasan pemerintah sangat dinanti untuk memberikan kepastian hukum yang berpihak pada pelestarian, bukan pada pihak-pihak yang ingin mengeksploitasi lahan tersebut.
Kritik publik ini menekankan bahwa pemerintah harus hadir sebagai pelindung aset daerah.
Pemkot Bandung diminta untuk berpihak pada pelestarian Bandung Zoo sebagai warisan budaya Sunda.
Nilai sejarah panjang yang melekat pada kebun binatang tersebut merupakan identitas masyarakat Jawa Barat yang harus dijaga dari generasi ke generasi.
Komitmen Melawan Eksploitasi Sumber Daya Alam
Lebih luas lagi, Aksi Barudak Bubat Coret Kritik Bandung Zoo ini menjadi refleksi atas kerusakan lingkungan hidup yang terjadi di berbagai tempat akibat keserakahan manusia.
Eksploitasi sumber daya alam yang mengesampingkan etika lingkungan menjadi fokus utama yang dikritik oleh para seniman Tamansari ini.
Mereka menyerukan agar masyarakat tidak diam melihat ruang-ruang hijau yang terus menyusut.
Dengan digelarnya aksi di Kebon Seni, para seniman membuktikan bahwa seni rupa dan performance art tetap menjadi senjata ampuh untuk menyuarakan kebenaran dan menjaga alam agar tetap lestari di tengah gencarnya pembangunan yang seringkali tidak ramah lingkungan. (Eci)










