
Oleh: Prof. Dr. H. Yaya Mulyana Abdul Azis, M.Si, Wakil Direktur I Bidang Akademik Pascasarjana Unpas (Pemikiran Dan Kontribusi Karl Fredirck Holle: “Karuhun” Orang Sunda Modern)
WWW.PASJABAR.COM – Kutipan K.F. Holle kepada keponakannya ketika pertama tiba di Hindia Belanda,
“Dengar, Rudolf [Eduard Kerkhoven]… sejak aku tiba di sini selagi masih anak-anak, aku melihat betapa bertolak belakangnya antara kesuburan negeri yang indah ini dengan kemiskinan rakyatnya. Orang-orang kecil, para petani, sungguh sangat menyakitkan bagiku, lebih dari yang dapat kukatakan. Tanah Sunda adalah daerah yang terabaikan, didominasi selama berabad-abad oleh para raja dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka kehilangan budaya mereka sendiri. Penduduk Sunda berbeda. Ini yang tidak pernah terpikir oleh para pemegang kekuasaan, tidak di Batavia dan juga di Den Haag—dan yang terakhir ini sudah tidak perlu disebut lagi.”
Pada tahun 1865, Karel Fraderik Holle membuka perkebunan swasta yang dimilikinya, yaitu Perkebunan Waspada di Ciakajang, Garut. Ia terkenal sebagai pangeran teh (theejonker). Orang pribumi menyebutnya Pangagung, atau pejabat Belanda yang statusnya tinggi di mata pribumi. Holle juga disebut Juragan Sepuh, yang berarti dirinya sejajar dengan kaum mènak atau bangsawan Sunda. Kata sepuh merupakan bahasa Sunda halus yang berarti tua. Julukan-julukan tersebut merupakan bentuk penghormatan dan berhasil menarik simpati masyarakat atas kebiasaan serta keseharian Holle.
Karel Fraderik Holle lahir di Amsterdam pada 9 Oktober 1829 dan wafat di Bogor pada 3 Maret 1896. Sebagai penguasa kebun teh Waspada, Ciakajang, Garut, ia memiliki hubungan yang erat dengan tokoh Penghulu Limbangan, yaitu Raden Moehammad Moesa. R.M. Moesa terlahir dari keluarga elite atau mènak, di mana ayahnya adalah seorang patih (kepala kabupaten) di Limbangan. Letak rumah Karel Fraderik Holle berdekatan dengan rumah R.M. Moesa. Keduanya sering saling berkunjung dan terlihat menghabiskan waktu bersama. Mereka saling bertukar informasi, baik pengetahuan Barat yang rasional maupun pengajaran budaya lokal Sunda. Holle bahkan pernah menikahi seorang perempuan Sunda dari Garut, adik dari R.M. Moesa sendiri.
Kedekatan Holle dengan Elite Sunda dan Islam
Hubungan keduanya sangat harmonis sehingga Karel Fraderik Holle mampu menguasai budaya dan bahasa Sunda. Raden Moehammad Moesa adalah sosok di balik kecintaan Holle terhadap sastra Sunda. Dalam aspek keagamaan pun, Holle memperoleh pengetahuan dari Raden Moehammad Moesa. Ada kemungkinan bahwa K.F. Holle masuk Islam dan memakai nama baru, yaitu Said Moehammad bin Holle. Kadang-kadang, masyarakat pribumi menyebutnya dengan nama Tuan Hola. Kedekatannya dengan komunitas Muslim Hindia Belanda, khususnya di wilayah Priangan, terbukti kuat dan diperantarai oleh kaum elite Sunda atau mènak. Hal ini membuat Holle mampu menyatu dan menggali informasi tentang persoalan-persoalan keislaman.
Kontribusi Holle dalam Pendidikan dan Kebudayaan Sunda
Karel Fraderik Holle adalah sosok yang mencintai budaya Sunda. Ia menghasilkan berbagai karya berupa buku panduan pengetahuan bagi masyarakat pribumi, seperti buku panduan belajar bahasa yang ditulis dalam bahasa Sunda, kemudian dicetak dan disebarluaskan ke sekolah-sekolah pada masa itu. Bahkan, pada tahun 1862, Holle menyusun buku tentang sistem ejaan (ortografi) berjudul Kitab Tjatjarakan Sunda (Buku Ejaan Bahasa Sunda).
Melihat masyarakat Sunda yang identik dengan profesi sebagai petani, Karel Fraderik Holle menerbitkan majalah berkala berjudul Mitra Noe Tani (Sahabat Petani), yang ditujukan bagi para pekerja dan masyarakat pribumi. Karya ini ditulis dan dicetak di Batavia dengan menggunakan berbagai bahasa, seperti Belanda, Jawa, Sunda, dan Melayu. Salah satu kebijakan penting yang diperkenalkan oleh Holle adalah sistem penanaman padi dengan metode Holle. Dalam bidang pendidikan, K.F. Holle mendirikan kweekschool atau sekolah pelatihan guru serta mengembangkan budaya Sunda dengan memasukkan bahasa Sunda ke dalam kurikulum pendidikan.
Bahasan dalam buku dan karya-karyanya mencakup petunjuk tentang perkebunan, pertanian, peternakan, kesehatan, serta cara-cara mendirikan bangunan. Karya-karya Holle ini sempat menuai kritik dari keluarganya sendiri karena ia dianggap terlalu dermawan dan dicap sebagai pemimpi. Namun, pada 27 Desember 1871, K.F. Holle justru diberikan kepercayaan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai Penasihat Kehormatan untuk Urusan-Urusan Masyarakat Pribumi (Adviseur Honorair voor Inlandsche Zaken) oleh Gubernur Jenderal P. Mijer (1866–1872), karena jasanya yang besar dalam bidang pertanian, pendidikan, dan administrasi.
Holle sebagai Penasihat Urusan Pribumi
Sebagai penasihat, tugas Holle adalah memberikan semua informasi yang diperlukan oleh para residen dan berperan sebagai penghubung antara pejabat-pejabat Belanda dengan pejabat pribumi. Dengan demikian, banyak kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang didasarkan pada pandangan K.F. Holle, termasuk dalam menentukan pengangkatan seorang bupati. Peran ini memperkuat tujuan kolonial melalui misi yang dijalankan Holle, seperti mengurangi pengaruh Islam politik di kalangan Muslim Hindia Belanda serta menumbuhkan kembali kecintaan terhadap budaya Sunda di kalangan pribumi.
Kiprah Karel Fraderik Holle dalam Masyarakat Sunda
Peran Karel Fraderik Holle dalam masyarakat Sunda abad ke-19 tampak melalui berbagai aspek kehidupan dan berdampak luas, baik bagi masyarakat umum maupun kalangan pelajar. Dalam bidang pendidikan, Holle merupakan salah satu tokoh yang dipercaya untuk menyelenggarakan pendidikan bagi pribumi. Pada tahun 1866, K.F. Holle bersama Raden Moehammad Moesa mendirikan sekolah pelatihan guru (kweekschool) di Bandung. Pada peresmian sekolah tersebut, Holle menyampaikan pidato di hadapan para pembesar Sunda dengan menggunakan bahasa Sunda yang fasih dan jelas, sehingga memukau hadirin, khususnya masyarakat Sunda.
Selain itu, K.F. Holle membina keluarga Raden Moehammad Moesa, salah satunya R.A. Lasminingrat, yang disekolahkan di sekolah Belanda. Pengaruh ini membuahkan hasil ketika R.A. Lasminingrat mendirikan Sekolah Kaoetamaan Istri pada tahun 1904.
Dalam bidang literasi, K.F. Holle membina para petani Sunda, khususnya para pekerja di Perkebunan Waspada. Majalah berkala Mitra Noe Tani jilid I memberikan pemahaman tentang keuntungan budidaya padi dengan metode Holle. Hal ini terbukti melalui laporan-laporan para wedana, seperti Wedana Trogong dan Wedana Singaparna, yang menerapkan metode tersebut. Raden Moehammad Moesa turut berperan dalam menyebarluaskan metode Holle melalui karya berbahasa Sunda yang disusun dalam bentuk tembang atau pupuh.
Selain pertanian, K.F. Holle menyusun literatur pendidikan untuk mengenalkan aksara Latin kepada masyarakat pribumi. Karya tersebut berjudul Soendasch Spel- en Lessboekje met Latijn Letter atau Kitab Tjatjarakan Soenda, yang membahas ejaan Sunda dalam aksara Latin serta memuat pedoman pengajaran bagi para guru.
Warisan Sosial, Budaya, dan Ekonomi Holle
Kiprah Holle juga tercermin dalam kehidupan masyarakat Garut. Salah satu tradisi yang terpengaruh adalah tradisi nyaneut, yaitu minum teh di kaki Gunung Cikuray dengan kudapan seperti daang sampeu atau singkong bakar berlumur gula merah serta bubuy cau atau pisang bakar. Tradisi ini telah ada sebelum kedatangan Holle, namun semakin menguat setelah dibukanya Perkebunan Teh Waspada yang menyediakan lahan perkebunan teh rakyat.
Warisan Holle lainnya adalah domba Garut. K.F. Holle mengawinsilangkan domba lokal dengan domba Merino (Australia) serta domba Kaapstad (Afrika) pada fase pertama tahun 1864. Pada fase kedua, Bupati Garut Surya Karta Legawa mengembangkan domba Garut menjadi domba tangkas. Selain itu, Holle juga mengembangkan buah kesemek atau apel Cikajang sejak tahun 1855. Ia menanam kacang tanah dari Inggris di Waspada pada tahun 1863 dan melakukan percobaan persilangan hingga menghasilkan jenis kacang baru yang dikenal sebagai kacang Holle atau soeuk. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kacang Holle merujuk pada jenis kacang merah.
Pembinaan lainnya adalah dalam bidang seni membatik. Pada tahun 1870-an, Perkebunan Waspada mengembangkan seni membatik bagi para pekerja pada waktu luang mereka. Perkembangan ini berlanjut hingga abad ke-20 dan menjadikan batik Garutan sebagai ciri khas serta identitas masyarakat Garut. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Iip D. Yahya dalam bukunya Holle Line: Menelusuri Akar Pemikiran Politik Sunda Melalui Naskah dalam Peti Holle (2025) menyebut K.F. Holle sebagai “karuhun” orang Sunda modern.
Hubungan Holle dengan Snouck Hurgronje
Hubungan antara Holle dan Snouck Hurgronje dapat dipahami sebagai hubungan antara perintis dan penyempurna. Holle meletakkan dasar pemahaman sosiologis tentang masyarakat lokal yang kemudian dikembangkan Snouck menjadi kebijakan politik resmi pemerintah kolonial, yang dikenal sebagai Islam Politiek. Holle membuktikan bahwa dengan mendekati para bangsawan lokal, seperti bupati dan penghulu, pemerintah kolonial dapat mengendalikan masyarakat tanpa banyak konflik. Ia menjalin persahabatan erat dengan Haji Muhamad Musa untuk menyebarkan pengaruh melalui sastra dan pendidikan. Pola ini kemudian ditiru Snouck dengan menjalin hubungan dekat dengan Haji Hasan Mustapa, murid yang berada dalam lingkaran Holle.
Holle menyarankan pengawasan ketat terhadap para haji karena mereka dianggap sebagai agen perubahan yang membawa gagasan dari Mekkah. Snouck menyetujui pandangan ini dan melakukan penelitian mendalam di Mekkah dengan menyamar sebagai Abdul Ghaffar. Hasilnya, Snouck menyempurnakan sistem pengawasan haji dan membatasi pengaruh tarekat yang dianggap sebagai pusat fanatisme. Holle juga percaya bahwa pemajuan bahasa dan budaya lokal, seperti Sunda, akan membuat masyarakat merasa dihargai dan tidak mencari pelarian pada ideologi Islam radikal atau Pan-Islamisme. Gagasan ini didukung penuh oleh Snouck, yang mendorong pendidikan dengan pemisahan antara identitas budaya dan identitas keagamaan.
Tanpa dasar-dasar yang diletakkan Holle di wilayah Priangan, Snouck mungkin tidak akan memiliki model yang efektif untuk diterapkan secara nasional di Hindia Belanda, termasuk dalam penanganan Perang Aceh. (han)












