ALEPPO, WWW.PASJABAR.COM – Harapan untuk mengakhiri ketegangan di Kota Aleppo melalui jalur diplomasi pupus sudah. Upaya pemerintah Suriah untuk mengambil alih kendali penuh atas wilayah tersebut kini terancam berubah menjadi operasi militer besar-besaran. Hal ini terjadi setelah pasukan Kurdi secara tegas menolak tuntutan penarikan diri dari distrik-distrik strategis yang telah mereka kuasai selama lebih dari satu dekade.
Militer Suriah, di bawah pemerintahan Presiden Ahmed al-Sharaa, menyatakan bahwa tenggat waktu bagi pejuang Kurdi untuk mundur ke wilayah timur laut telah berakhir.
Kini, pasukan pemerintah bersiap bergerak memasuki Sheikh Maksoud dan Ashrafiyah, dua distrik terakhir yang masih menjadi benteng pertahanan Kurdi di Aleppo.
Kegagalan Diplomasi dan Penolakan “Syarat Menyerah” Distrik Kurdi
Kegagalan gencatan senjata yang diumumkan pada Jumat (9/1/2026) dipicu oleh perbedaan prinsip yang tajam.
Damaskus mewajibkan pasukan Kurdi untuk meninggalkan Aleppo sepenuhnya sebagai syarat perdamaian.
Namun, dewan-dewan Kurdi setempat melabeli tuntutan tersebut sebagai “seruan untuk menyerah” yang tidak terhormat.
“Kami akan mempertahankan lingkungan kami sendiri,” tegas perwakilan dewan Kurdi.
Mereka menuduh pemerintah tidak dapat dipercaya dalam menjamin keselamatan warga sipil Kurdi jika pasukan pertahanan mereka ditarik.
Penolakan ini langsung direspons oleh Kementerian Pertahanan Suriah dengan memulai persiapan operasi perebutan wilayah secara paksa.
Dua pejabat keamanan Suriah mengonfirmasi kepada Reuters bahwa kekuatan militer kini menjadi satu-satunya jalan yang tersisa bagi Damaskus.
Dampak Kemanusiaan dan Tuduhan Kejahatan Warisan Perang
Konflik terbaru di Aleppo ini telah memakan biaya kemanusiaan yang sangat besar.
Sedikitnya sembilan warga sipil dilaporkan tewas dalam baku tembak beberapa hari terakhir, sementara lebih dari 140.000 orang terpaksa mengungsi untuk menghindari zona pertempuran.
Garis patahan pascaparang ini membuktikan bahwa persatuan Suriah masih sangat rapuh.
Ketegangan semakin meruncing dengan adanya saling tuduh terkait serangan terhadap infrastruktur sipil.
Pihak Kurdi mengklaim militer pemerintah telah membom sebuah rumah sakit, yang mereka sebut sebagai kejahatan perang.
Sebaliknya, Damaskus membantah keras dan merilis rekaman udara yang menunjukkan lokasi tersebut sebenarnya adalah gudang senjata besar milik Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang meledak setelah terkena serangan udara.
Integrasi Militer yang Buntu dan Tekanan Regional
Akar permasalahan ini terletak pada alotnya proses integrasi pasukan Kurdi ke dalam struktur militer nasional Suriah.
Berdasarkan kesepakatan tahun lalu, SDF seharusnya melebur ke dalam Kementerian Pertahanan sebelum akhir 2025.
Namun, hingga awal 2026, kemajuan integrasi ini dinilai minim karena kelompok Kurdi enggan melepaskan otonomi keamanan mereka.
Di sisi lain, Turki terus memberikan tekanan hebat. Ankara memandang SDF sebagai perpanjangan tangan kelompok teroris PKK dan mengancam akan melakukan intervensi militer jika elemen Kurdi tidak segera meninggalkan Aleppo.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menegaskan bahwa normalisasi di Aleppo hanya bisa terjadi melalui penarikan total unsur-unsur SDF dari kota tersebut.
Upaya Mediasi Barat di Bawah Bayang-Bayang Trump
Melihat risiko perang terbuka, negara-negara Barat mulai bergerak. Prancis dan Amerika Serikat dilaporkan sedang bekerja sama untuk melakukan deeskalasi.
Presiden Emmanuel Macron telah mendesak Presiden al-Sharaa untuk menahan diri guna menjaga kesatuan Suriah.
Sementara itu, utusan AS, Tom Barrack, sedang dalam perjalanan menuju Damaskus untuk melakukan mediasi.
Washington memiliki kepentingan besar dalam menjaga stabilitas ini, terutama karena hubungan dekat antara pemerintahan al-Sharaa dengan administrasi Donald Trump yang terus berkembang.
Mediasi internasional kini difokuskan pada pencarian jalan tengah: penarikan pasukan bersenjata Kurdi dengan jaminan keamanan internasional bagi warga sipil Kurdi yang memilih tetap tinggal di Aleppo.
Jika mediasi ini gagal, Aleppo diprediksi akan kembali menjadi medan pertempuran berdarah yang dapat menghancurkan upaya rekonstruksi Suriah yang baru saja dimulai.
Status Konflik Aleppo (Data Per 10 Januari 2026)
| Aspek | Status Terkini |
| Status Gencatan Senjata | Dinyatakan Gagal |
| Jumlah Pengungsi | >140.000 Jiwa |
| Wilayah Sengketa | Sheikh Maksoud & Ashrafiyah |
| Pihak Terlibat | Pemerintah Suriah vs SDF/Asayish Kurdi |












