JAKARTA, WWW.PASJABAR.COM— Difki Khalif dan Prinsa Mandagie menghadirkan interpretasi baru lagu “Seandainya” dengan balutan aransemen yang lebih emosional dan segar. Lagu yang dipopulerkan oleh Vierratale, dulu dikenal sebagai Vierra—kini dihidupkan kembali melalui kolaborasi lintas label antara Musica Studios dan Sony Music Entertainment Indonesia.
Proyek ini menjadi ruang eksplorasi musikal bagi kedua solois tersebut. Dari sejumlah pilihan katalog lagu era 2000-an, Prinsa mengaku langsung tertarik pada “Seandainya” karena memiliki kedekatan emosional.
“Lagu ini tumbuh bersama banyak orang, termasuk aku. Ada kenangan yang kuat di dalamnya,” ujar Prinsa.
Sebagai lagu yang sempat menjadi anthem galau generasi 2000-an, “Seandainya” dikenal luas dan melekat dalam memori pendengarnya. Tantangan terbesar bagi Difki dan Prinsa bukan sekadar membawakan ulang, melainkan menghadirkan versi yang tetap familiar namun memiliki identitas baru.
Kolaborasi keduanya diawali dengan workshop intensif untuk membangun chemistry dan menentukan pembagian bagian vokal. Dengan karakter suara dan rentang vokal yang berbeda, proses ini menjadi krusial agar harmonisasi tetap terdengar padu.
“Kami punya warna suara yang berbeda, jadi perlu diskusi detail untuk menentukan pembagian part supaya hasilnya tetap harmonis,” jelas Difki.
Aransemen terbaru lagu ini dikemas dengan sentuhan orkestra yang memperkuat nuansa emosional tanpa menghilangkan karakter pop-rock dari versi aslinya. Hasilnya adalah interpretasi yang lebih dramatis, namun tetap enerjik dan relevan dengan selera pendengar masa kini.
Bagi Prinsa, proyek ini memberinya kesempatan mengeksplorasi sisi vokal yang berbeda dari karya-karyanya sebelumnya yang cenderung dewasa dan sentimental. Sementara itu, Difki mendapatkan pengalaman baru dalam membangun dinamika duet yang solid.
Proses harmonisasi vokal turut diarahkan oleh Barsena Bestandhi, yang memastikan dua karakter suara tersebut dapat menyatu secara seimbang. Berbagai percobaan dilakukan untuk menemukan formulasi terbaik, mulai dari pembagian nada hingga penyesuaian dinamika.
Momen paling berkesan terjadi saat sesi preview akhir, ketika aransemen lengkap dengan elemen orkestra terdengar utuh untuk pertama kalinya.
“Versinya memang berbeda, tapi tetap terasa akrab. Itu yang membuat kami puas,” kata Prinsa.
“Seandainya” versi Difki Khalif dan Prinsa Mandagie resmi dirilis dan sudah dapat dinikmati di seluruh platform musik digital mulai 18 Februari 2026. Kolaborasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa lagu-lagu populer lintas generasi dapat terus relevan melalui pendekatan kreatif dan interpretasi yang segar. (*/tiwi)












