WWW.PASJABAR.COM – Sebuah studi yang baru diterbitkan di jurnal Nature Medicine mengungkapkan bahwa saran kesehatan dari chatbot kecerdasan buatan (AI) kerap tidak akurat dan berpotensi menimbulkan risiko. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa sedikit perubahan dalam susunan kata pertanyaan dapat memengaruhi kualitas jawaban yang diberikan chatbot.
Dilaporkan oleh Channel News Asia, Minggu (22/2/2026) waktu setempat, dilansir dari ANTARA, studi ini melibatkan 1.200 peserta asal Inggris yang sebagian besar tidak memiliki latar belakang medis. Mereka diberikan skenario medis terperinci, mencakup gejala, gaya hidup, dan riwayat kesehatan, lalu diminta berkonsultasi dengan chatbot untuk menentukan langkah selanjutnya, seperti perlu tidaknya memanggil ambulans atau cukup melakukan perawatan mandiri di rumah.
Akurasi Rendah Jika Informasi Tak Lengkap
Hasilnya, peserta hanya memilih tindakan yang dinilai “benar” oleh panel dokter kurang dari separuh waktu. Tingkat keberhasilan dalam mengidentifikasi kondisi medis secara tepat. Seperti batu empedu atau perdarahan subarachnoid, bahkan hanya sekitar 34 persen.
Peneliti menemukan hampir setengah kesalahan terjadi akibat pengguna tidak memasukkan informasi penting atau gejala paling relevan. Sehingga chatbot memberikan saran berdasarkan gambaran yang tidak lengkap. Sebaliknya, ketika peneliti langsung memasukkan skenario medis lengkap ke dalam sistem, chatbot mampu mendiagnosis dengan benar hingga 94 persen.
Profesor di Oxford Internet Institute sekaligus penulis senior studi, Adam Mahdi, menilai pertanyaan medis yang rapi dan lugas tidak mencerminkan kondisi nyata pasien.
“Kedokteran tidak seperti itu. Kedokteran itu berantakan, tidak lengkap, dan bersifat stokastik,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Departemen Kedokteran di University of California San Francisco, Robert Wachter, menekankan pentingnya pengalaman klinis dalam memilah informasi relevan.
“Ada banyak keajaiban kognitif dan pengalaman yang dibutuhkan. Untuk menentukan elemen-elemen penting dari suatu kasus,” katanya.
Penulis utama studi, Andrew Bean, menyebut chatbot seharusnya lebih aktif mengajukan pertanyaan lanjutan layaknya dokter. Para peneliti menyimpulkan, model AI saat ini belum siap digunakan secara langsung dalam perawatan pasien. (han)











