WWW.PASJABAR.COM — Pertandingan Premier League antara Leeds United dan Manchester City di Elland Road pada Sabtu (28/2/2026) dinodai oleh aksi tidak terpuji dari sebagian pendukung tuan rumah.
Insiden bermula ketika pertandingan dihentikan sejenak untuk memberikan kesempatan bagi trio pemain Manchester City—Rayan Ait-Nouri, Rayan Cherki, dan Omar Marmoush—untuk berbuka puasa Ramadan saat matahari terbenam.
Bukannya menunjukkan rasa hormat, sejumlah suporter justru melayangkan sorakan dan siulan ketidakpuasan, yang kemudian memicu kecaman keras dari manajer City, Pep Guardiola.
Insiden Berbuka Puasa di Tengah Laga Leeds United dan Manchester City
Momen berbuka puasa di tengah pertandingan sebenarnya telah menjadi protokol resmi yang disepakati oleh Premier League sejak tahun 2021.
Di Elland Road, pemberitahuan mengenai jeda singkat ini bahkan telah ditayangkan melalui layar besar di stadion.
Namun, saat wasit menghentikan permainan agar Ait-Nouri, Cherki, dan Marmoush dapat mengonsumsi cairan dan asupan vitamin, atmosfer stadion berubah menjadi tidak ramah.
Sejumlah pendukung Leeds menyuarakan ejekan atas penundaan pertandingan tersebut.
Hal ini sangat disayangkan mengingat ketiga pemain tersebut telah menjalankan ibadah puasa sejak fajar di tengah tuntutan fisik yang sangat berat di lapangan.
Jeda satu atau dua menit tersebut seharusnya menjadi simbol inklusivitas sepak bola modern, namun justru menjadi panggung bagi perilaku diskriminatif.
Kecaman Pep Guardiola dan Seruan Toleransi
Dalam konferensi pers pascapertandingan, Pep Guardiola tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya.
Pelatih asal Catalunya itu menegaskan bahwa menghormati keberagaman agama adalah fondasi penting dalam kehidupan di dunia modern.
Ia mempertanyakan alasan di balik sorakan tersebut, mengingat durasi jeda yang sangat singkat dan tidak mengganggu jalannya kompetisi secara signifikan.
“Ini dunia modern, kan? Hormati agama, keragaman, itulah intinya,” ujar Guardiola.
Ia menambahkan bahwa para pemainnya memerlukan asupan vitamin dan cairan karena tidak makan sepanjang hari demi menjalankan kewajiban agama mereka.
Guardiola menekankan bahwa tindakan suporter tersebut mencerminkan kurangnya empati terhadap realitas kehidupan yang dijalani oleh para atlet Muslim di kancah global.
Respons Kick It Out: Pendidikan Sepak Bola Masih Kurang
Lembaga anti-diskriminasi, Kick It Out, turut angkat bicara dan menyebut insiden tersebut sebagai sesuatu yang “sangat mengecewakan”.
Menurut mereka, protokol berbuka puasa seharusnya menjadi instrumen pendidikan bagi komunitas sepak bola agar lebih ramah terhadap pemain dan komunitas Muslim.
Dalam pernyataan resminya, Kick It Out menyebutkan bahwa reaksi penonton di Elland Road membuktikan bahwa sepak bola Inggris masih memiliki perjalanan panjang dalam hal edukasi dan penerimaan terhadap perbedaan.
Insiden ini dianggap sebagai kemunduran dari upaya bertahun-tahun dalam memerangi rasisme dan intoleransi agama di tribun stadion.
Penyesalan Kubu Leeds United
Pihak Leeds United sendiri, melalui asisten manajer Edmund Riemer, mengakui adanya sorakan tersebut meski ia sendiri sempat sangat fokus pada jalannya laga.
Riemer, yang menggantikan Daniel Farke karena kartu merah, menyatakan rasa kecewanya dan meminta maaf atas perilaku sebagian suporter tersebut.
“Kita perlu melakukan yang lebih baik di masa depan,” kata Riemer singkat.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pihak klub menyadari adanya masalah internal terkait perilaku suporter mereka.
Insiden ini diprediksi akan memicu investigasi lebih lanjut dari FA guna memastikan perlindungan terhadap hak-hak beragama pemain di lapangan hijau tetap terjaga.
Detail Insiden Ramadan di Premier League 2026 Leeds United Vs Manchester City
| Aspek | Informasi Terkait |
| Lokasi | Stadion Elland Road (Kandang Leeds United) |
| Pemain Terdampak | Rayan Ait-Nouri, Rayan Cherki, Omar Marmoush |
| Pihak Mengecam | Pep Guardiola & Kick It Out |
| Durasi Jeda | 1-2 Menit (Protokol Resmi) |
| Status Aturan | Disepakati Premier League sejak 2021 |












