WWW.PASJABAR.COM — Sebuah laporan investigasi dari Washington Post mengungkap dinamika geopolitik yang mengejutkan di balik serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran baru-baru ini. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), dikabarkan melakukan serangkaian panggilan telepon pribadi kepada Presiden AS Donald Trump.
MBS mendesak tindakan militer tegas terhadap Teheran, meskipun secara publik Riyadh menyuarakan de-eskalasi dan dialog.
Kontradiksi Diplomasi Publik dan Rahasia MBS
Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, MBS secara konsisten memperingatkan Washington dalam sebulan terakhir bahwa Iran akan menjadi ancaman yang “jauh lebih berbahaya” jika AS tidak segera memanfaatkan kekuatan militer besarnya di Timur Tengah.
Nasihat strategis ini sangat bertolak belakang dengan pernyataan resmi Arab Saudi kepada dunia internasional.
Pada Januari 2026, MBS secara terbuka menjamin kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bahwa wilayah udara dan teritorial Saudi tidak akan diizinkan untuk digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran.
Ia bahkan mendesak solusi diplomatik dan penghormatan terhadap kedaulatan Iran.
Namun, laporan Post menyebutkan bahwa jaminan tersebut hanyalah bagian dari “permainan ganda” untuk menjaga stabilitas regional di permukaan, sementara lobi-lobi perang terus berjalan di balik layar.
Tekanan Gabungan Saudi-Israel
Keselarasan kepentingan antara Arab Saudi dan Israel dalam memangkas kekuatan Iran dilaporkan menjadi faktor kunci yang menekan Gedung Putih.
Sementara Israel secara vokal menuntut tindakan keras atas kekhawatiran nuklir, desakan pribadi dari Riyadh memberikan legitimasi tambahan bagi Trump untuk meluncurkan serangan gabungan pada Sabtu (28/2/26) lalu.
Serangan tersebut menargetkan situs-situs militer dan pemerintahan Iran setelah perundingan nuklir dianggap menemui jalan buntu.
Trump sendiri telah menyatakan bahwa “pemboman besar-besaran dan tepat sasaran” akan terus berlanjut sepanjang minggu ini.
Respons Iran: Ancaman “Serangan Paling Intens”
Kondisi semakin kritis menyusul konfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (86), akibat serangan tersebut.
Kematian Khamenei yang diumumkan pada Ahad (1/3/26) pagi waktu setempat telah memicu kemarahan besar di Teheran.
Garda Revolusi Iran (IRGC) langsung merespons dengan mengancam akan melancarkan “operasi ofensif paling intens” yang pernah ada dalam sejarah mereka.
Target utamanya adalah wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah.
Dengan terungkapnya keterlibatan lobi Saudi, posisi Riyadh kini berada di ujung tanduk jika Iran memutuskan untuk melakukan pembalasan terhadap negara tetangganya tersebut.












