MANCHESTER, WWW.PASJABAR.COM — Kemenangan tipis 2-1 Manchester United atas Crystal Palace pada Minggu (1/3/2026) seharusnya menjadi pesta bagi kembalinya Setan Merah ke posisi ketiga klasemen Premier League. Namun, atmosfer di Old Trafford justru berubah menjadi panggung protes politik yang tajam terhadap salah satu pemilik klub, Sir Jim Ratcliffe.
Spanduk “Proudly Founded by Immigrants”

Menjelang babak kedua dimulai, sebuah spanduk raksasa dibentangkan di atas terowongan pemain.
Spanduk tersebut menampilkan wajah para legenda dan bintang internasional klub seperti Eric Cantona, Patrice Evra, Park Ji-sung, Bruno Fernandes, Ole Gunnar Solskjaer, Amad Diallo, dan Casemiro.
Pesan bertuliskan “MUFC proudly founded by immigrants” (MUFC dengan bangga didirikan oleh imigran) merupakan sindiran langsung terhadap pernyataan Ratcliffe dalam wawancara dengan Sky pada Februari lalu.
Suporter ingin menegaskan bahwa sejarah dan kesuksesan United tidak lepas dari kontribusi para imigran.
Hal ini berlawanan dengan narasi “penjajahan imigran” yang dilontarkan sang miliarder.
Kontroversi Data Sir Jim Ratcliffe
Kemarahan suporter dipicu oleh klaim Ratcliffe yang menyebut Inggris telah “dijajah” oleh imigran dan menyalahkan mereka atas beban ekonomi negara. Namun, data yang ia paparkan terbukti tidak akurat.
Ratcliffe menyebut populasi Inggris mencapai 70 juta jiwa dengan 12 juta imigran baru sejak 2020, padahal data resmi Kantor Statistik Nasional (ONS) per November 2025 menunjukkan angka yang lebih rendah.
Begitu pula dengan klaim jumlah penerima tunjangan yang jauh melampaui angka riil sebesar 1,68 juta orang.
Teguran dari Pemerintah dan Krisis Budaya
Pernyataan bos INEOS ini bahkan memancing reaksi dari Perdana Menteri Sir Keir Starmer yang menyebut komentar tersebut “menyinggung dan salah”.
Ratcliffe telah mengeluarkan permintaan maaf resmi dan berdalih sedang membahas teori ekonomi.
Namun banyak pendukung United merasa ada jurang pemisah budaya.
Jurang pemisah tersebut terjadi semakin dalam antara pemilik klub dan nilai-nilai inklusivitas yang dianut komunitas suporter.
Kemenangan atas Palace membawa United mengoleksi 51 poin, namun insiden spanduk ini membuktikan bahwa bagi pendukung setia Setan Merah, integritas moral dan penghormatan terhadap keberagaman pemain internasional jauh lebih penting daripada sekadar struktur efisiensi di lapangan.












