WWW.PASJABAR.COM — Ketegangan di kawasan Teluk memasuki fase paling berbahaya setelah Kantor Berita Rusia, TASS, melaporkan bahwa kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz milik Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, terpaksa meninggalkan area penempatannya.
Langkah ini diambil menyusul klaim serangan rudal balistik yang diluncurkan oleh Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Minggu (1/3/2026).
Operasi True Promise 4: Serangan Terhadap USS Abraham Lincoln adalah Balasan Atas Kematian Khamenei
IRGC mengumumkan melalui komunike operasional ketujuh bahwa serangan terhadap USS Abraham Lincoln adalah bagian dari Operasi True Promise 4.
Kampanye militer ini diluncurkan sebagai aksi balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer senior lainnya.
“Serangan kuat terhadap militer musuh yang telah kelelahan telah memasuki fase baru. Laut akan menjadi kuburan bagi para agresor,” tegas pernyataan resmi IRGC yang dikutip oleh Sepah News.
Iran mengklaim telah menghantam tubuh kapal induk tersebut dengan empat rudal balistik yang memicu penarikan mundur armada AS ke arah Samudra Hindia.
Target Serangan Meluas: 14 Pangkalan Militer AS Terancam
Eskalasi ini tidak hanya terbatas pada pertempuran laut. Angkatan bersenjata Republik Islam Iran menyatakan bahwa mereka telah menargetkan sedikitnya 14 pangkalan militer AS di seluruh kawasan Timur Tengah.
Laporan tersebut mencakup serangan udara terhadap posisi-posisi militer Amerika di negara-negara Teluk dan Wilayah Kurdistan di Irak.
Serangan terkoordinasi ini menunjukkan kesiapan Iran untuk melakukan perang terbuka secara frontal di berbagai lini sebagai respons atas hilangnya figur sentral negara mereka.
Respons Simpang Siur dari Komando Pusat AS Terkait Serangan Terhadap USS Abraham Lincoln
Di sisi lain, terdapat ketidakpastian informasi terkait kondisi sebenarnya di lapangan. Komando Pusat AS (CENTCOM) secara resmi telah mengonfirmasi bahwa armada mereka memang mendapatkan serangan rudal.
Namun, militer AS bersikeras bahwa tidak ada rudal yang berhasil mengenai sasaran dan menyatakan bahwa USS Abraham Lincoln tetap dalam kondisi operasional tanpa kerusakan berarti.
Meskipun demikian, laporan TASS yang menyebutkan pergerakan kapal menuju Samudra Hindia mengindikasikan adanya pergeseran taktis atau upaya perlindungan armada dari gelombang serangan berikutnya.
Hingga saat ini, pejabat tinggi militer AS belum memberikan pernyataan resmi terkait apakah pergerakan kapal tersebut merupakan instruksi penarikan mundur atau sekadar reposisi strategis.
Klaim Kemenangan Donald Trump dan Reaksi Kongres
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump tampil di berbagai media dengan nada sesumbar.
Melalui akun Truth Social dan wawancara dengan Fox News, Trump mengklaim operasi di Timur Tengah berjalan sangat positif.
Ia menyatakan militer AS telah menenggelamkan sembilan kapal Angkatan Laut Iran dan menghancurkan markas besar angkatan laut negara tersebut.
Trump juga mengklaim bahwa “satu tembakan” telah menewaskan 48 pemimpin Iran. Meski mengaku siap untuk membuka negosiasi, Trump belum memberikan rincian waktu terkait langkah diplomasi tersebut.
Tindakan Trump ini memicu reaksi keras dari Kongres AS. Pemimpin Demokrat di DPR, Hakeem Jeffries, menyatakan rasa duka mendalam atas gugurnya prajurit Amerika.
Jeffries mengecam keputusan Trump yang dianggap sembrono dan mendesak Kongres untuk bertindak minggu ini guna menahan kebijakan perang presiden tersebut agar tidak jatuh lebih banyak korban jiwa.
“Tidak ada lagi pahlawan Amerika yang perlu mati karena keputusan sembrono untuk berperang. Kongres harus bertindak minggu ini untuk menahan presiden ini,” kata Jeffries.












