WWW.PASJABAR.COM — Kegagalan Marc Marquez untuk menuntaskan balapan di Sirkuit Buriram pada Minggu (1/3/2026) menjadi titik balik yang mengejutkan bagi dominasi Ducati musim ini. Manajer Tim Ducati, Davide Tardozzi, mengonfirmasi bahwa insiden yang dialami Marquez pada lap ke-21 murni disebabkan oleh faktor eksternal teknis yang tidak beruntung.
Penjelasan Manajer Ducati Davide Tardozzi
Tardozzi menjelaskan bahwa saat berusaha mengejar Raul Fernandez untuk memperebutkan posisi podium, Marquez melindas bagian kerb (tepi lintasan) di Tikungan 4 dengan sudut yang fatal. Hantaman tersebut seketika memecahkan velg belakang motor Desmosedici miliknya.
“Dia benar-benar tidak beruntung. Banyak pebalap keluar jalur di sana, tapi hanya roda Marc yang pecah,” ujar Tardozzi.
Kerusakan ini menyebabkan ban kehilangan seluruh tekanan udara secara instan, membuat Marquez kehilangan kendali dan terpaksa menepi dari posisi keempat.

Panas Ekstrem dan Material Melunak
Bos Michelin, Piero Taramasso, memberikan konteks tambahan mengenai mengapa insiden ini bisa terjadi.
Menurutnya, suhu udara yang sangat panas di Thailand sepanjang akhir pekan membuat material velg menjadi lebih lunak dari biasanya.
Dalam kondisi material yang melunak, hantaman pada kerb Buriram yang dikenal agresif dapat dengan mudah membengkokkan atau memecahkan pelek.
Masalah serupa ternyata dialami oleh Jorge Martin pada sesi sebelumnya, meski Martin hanya mengalami kehilangan udara secara perlahan (slow puncture), sementara Marquez mengalami kebocoran total seketika.
Putusnya Rekor 88 Podium Beruntun Ducati
Insiden Marquez ini tidak hanya menjadi kerugian bagi sang pebalap, tetapi juga sejarah bagi pabrikan Borgo Panigale.
Untuk pertama kalinya sejak Grand Prix Inggris 2021, tidak ada satu pun motor Ducati yang berdiri di atas podium. Rentetan 88 penampilan podium berturut-turut Ducati resmi terputus di Thailand.
Pebalap Ducati terbaik di laga ini adalah Fabio Di Giannantonio yang hanya mampu finis di posisi ketujuh, terpaut lebih dari 15 detik dari sang pemenang, Marco Bezzecchi (Aprilia).
Hasil ini menandai kebangkitan Aprilia dan KTM, sekaligus menjadi alarm bagi Ducati untuk mengevaluasi ketahanan material mereka dalam kondisi cuaca ekstrem.












