BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Pascasarjana Universitas Pasundan (Unpas) kembali menggelar Sidang Promosi Doktor Ilmu Sosial atas nama Josias Jefry Suitela, Rabu (29/4/2026), di Aula Mandalasaba dr. Djoendjoenan, Jalan Sumatra No. 41, Kota Bandung.
Sidang promosi tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. H. Bambang Heru P, M.S., dengan promotor Prof. Dr. H. Thomas Bustomi, M.Si., serta co-promotor Prof. Dr. H. Yaya Mulyana A. A, M.Si. Adapun tim penguji terdiri dari Prof. Dr. H. Soleh Suryadi, M.Si., Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si., dan Prof. Dr. Ali Anwar, M.Si.
Dalam sidang tersebut, Josias mempertahankan disertasinya yang berjudul “Strategi Pelayanan Publik di Badan Penghubung Provinsi Papua Barat dan Provinsi Jawa Timur di Jakarta.”
Perbandingan Strategi Pelayanan Publik

Dalam penelitiannya, Josias menganalisis kualitas pelayanan publik pada Badan Penghubung Provinsi Papua Barat dan Jawa Timur, khususnya dalam promosi daerah serta pengelolaan anjungan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis komparatif, yang mengkaji perbedaan kinerja, strategi pelayanan, serta faktor pendukung dan penghambat di kedua provinsi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Papua Barat unggul dari sisi kualitas sumber daya manusia, namun masih lemah dalam struktur organisasi, koordinasi, serta inovasi digital.
Sementara itu, Badan Penghubung Provinsi Jawa Timur dinilai lebih efektif dengan pola kerja partisipatif, kreativitas tinggi, serta sistem pelayanan yang lebih terstruktur, meskipun tetap menghadapi keterbatasan kapasitas aparatur dan fasilitas.
Benchmarking untuk Peningkatan Layanan
Josias menjelaskan bahwa penelitiannya juga menggunakan pendekatan analisis SWOT dan benchmarking untuk mengidentifikasi celah serta peluang perbaikan pelayanan publik.
“Penelitian ini tentang strategi pelayanan publik, di mana lokusnya adalah Badan Penghubung Provinsi Papua Barat. Kami melihat ada beberapa kelemahan dalam perjalanan birokrasinya yang harus diperbaiki,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Badan Penghubung Jawa Timur dijadikan rujukan dalam merancang perbaikan sistem pelayanan.
“Kami belajar dari badan penghubung terbaik, yaitu Jawa Timur, untuk melihat bagaimana membuat pola dalam menutupi gap-gap yang ada,” katanya.

Menurutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengembangan pelayanan publik, tidak hanya di Papua Barat, tetapi juga bagi provinsi lain, khususnya di wilayah Tanah Papua.
“Diharapkan hasil penelitian ini bisa direplikasi, sehingga provinsi lain tidak perlu memulai dari nol lagi dalam membangun badan penghubung dan mengelola promosi daerah di Jakarta,” ungkapnya.
Josias juga berharap penelitiannya dapat terus dikembangkan dengan pendekatan yang lebih beragam.
“Harapannya penelitian ini tidak berhenti di sini, tetapi bisa dikembangkan dengan pendekatan kuantitatif maupun metode campuran agar menghasilkan temuan baru,” tuturnya.
Ia turut menyampaikan apresiasi terhadap Pascasarjana Unpas yang dinilai memberikan banyak wawasan selama proses studi.
“Saya berharap Pascasarjana semakin maju. Insight yang saya peroleh akan saya bawa ke Papua Barat untuk diterapkan, baik di lingkungan internal maupun masyarakat luas,” katanya.
Dalam sidang tersebut, Josias Jefry Suitela dinyatakan lulus dengan IPK akhir 3,66 dan meraih yudisium sangat memuaskan, sekaligus menjadi lulusan ke-312 doktor Ilmu Sosial Pascasarjana Unpas. (han)












