# Dr Agung Firmansyah Sumantri

Oleh : Dr. Agung Firmansyah Sumantri (Dosen FK Unpas)
Penguatan Implementasi Longitudinal Integrated Curriculum (LIC) adalah kurikulum yang menekankan kesinambungan pembelajaran klinis, komunitas, dan profesionalisme secara longitudinal—berkelanjutan—sejak masa pendidikan sarjana hingga profesi dokter.
Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar berdasarkan blok atau rotasi singkat, tetapi mengikuti perkembangan pasien, keluarga, dan sistem kesehatan secara nyata dan konsisten.
Model ini telah diterapkan secara global di institusi terkemuka seperti National University of Singapore (NUS), Mahidol University Thailand, dan di Indonesia oleh Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Pasundan (Unpas).
Mahasiswa harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di tengah teori.
Pendidikan kedokteran hari ini membutuhkan dokter yang mampu membaca realitas lapangan secara komprehensif.
Saya selalu percaya bahwa dokter yang hebat bukan hanya yang menguasai ilmu, tetapi yang mengerti manusianya. LIC memberi ruang bagi mahasiswa untuk memahami masyarakat secara utuh—penyakitnya, keluarganya, lingkungannya, dan tantangan sosialnya.
Kota Bandung sebagai kota metropolitan memiliki dinamika kesehatan yang unik dan harus dipahami mahasiswa sejak awal.
Mahasiswa kedokteran yang berkuliah di Bandung harus mengenal Bandung. Mereka harus memahami data, tren penyakit, kultur masyarakat, dan permasalahan yang dihadapi setiap kecamatan. Kita membentuk dokter yang bukan saja pintar, tapi mampu membaca kebutuhan masyarakat.
Setelah lulus, mahasiswa dapat kembali ke daerah asal mereka dengan pemahaman epidemiologi lokal yang lebih matang—sebuah kompetensi adaptasi yang menjadi inti kurikulum LIC.
Tantangan Kesehatan Kota Bandung: HIV dan Persoalan Kesehatan Wilayah
Sejumlah isu kesehatan di Kota Bandung juga menjadi pokok diskusi antara Dr. Agung dan pimpinan fakultas. Beberapa di antaranya termasuk : Kasus HIV (IVS) dan Stigma Sosial
Kota Bandung masih menghadapi tantangan serius terkait peningkatan kasus HIV. Diperlukan pendekatan edukatif yang terstruktur dan humanis.
Masalah HIV bukan sekadar soal penyakit. Ini soal stigma. Kita tidak bisa menyelesaikannya dengan teori saja. Mahasiswa harus belajar empati dan pendekatan sosial langsung dari lapangan.
Pendekatan Pentahelix: Kolaborasi Akademik–Kebijakan untuk Solusi Kota
Saat ini perlunya pendekatan pentahelix yang melibatkan:
- akademisi,
- pemerintah,
- dunia usaha,
- komunitas, dan
- media.
Kesehatan adalah urusan bersama. Kampus tidak bisa bekerja sendiri, pemerintah daerah pun tidak bisa bekerja sendiri. Di titik inilah kolaborasi menjadi jembatan yang mempercepat perubahan.
Komitmen FK Unpas: Mencetak Dokter Adaptif dan Berorientasi Solusi
Saat ini perlu ada komitmen untuk menghadirkan pendidikan kedokteran yang:
- context-based, berbasis kebutuhan wilayah,
- integratif, menyambungkan teori dan praktik lapangan,
- longitudinal, melihat perubahan kesehatan masyarakat secara jangka panjang,
- dan kolaboratif, melibatkan pemerintah dan masyarakat dalam proses pembelajaran.
Kenjadi dokter bukan hanya profesi, tetapi panggilan untuk menjaga kehidupan. Sebagai pendidik, kita bukan hanya mengajar ilmu, tetapi menyalakan semangat agar mahasiswa berani menghadapi tantangan kesehatan bangsa.
Saya berharap FK Unpas menjadi pusat lahirnya dokter-dokter yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi rendah hati, berorientasi pelayanan, dan siap berjuang untuk kesehatan masyarakat. (*)
# Dr Agung Firmansyah Sumantri
# Dr Agung Firmansyah Sumantri












