RIYADH, WWW.PASJABAR.COM – SSC Napoli resmi menahbiskan diri sebagai penguasa baru sepak bola Italia setelah membungkam Bologna dengan skor 2-0 pada partai final Supercoppa Italiana yang berlangsung di Riyadh, Arab Saudi, Selasa (23/12/2025) dini hari WIB. Napoli Juara Supercoppa 2025 menjadi sangat spesial karena untuk pertama kalinya sejak era 1990, Partenopei sukses mengawinkan gelar Scudetto dengan trofi Supercoppa dalam satu musim yang sama.
Pahlawan dalam laga ini adalah David Neres, yang tampil menggila dengan memborong dua gol kemenangan.
Keberhasilan Napoli Juara Supercoppa 2025 ini sekaligus membuktikan kedalaman skuad asuhan Antonio Conte, mengingat mereka harus tampil tanpa pilar utama seperti Kevin De Bruyne dan Andre Frank Zambo Anguissa.
David Neres: Sang Protagonis di Riyadh
Aksi individu David Neres menjadi pembeda dalam laga yang awalnya berlangsung sangat alot.
Pemain asal Brasil tersebut memecah kebuntuan pada menit ke-37 melalui sebuah gol indah.
Setelah menerima bola dari lemparan ke dalam, Neres mengecoh barisan pertahanan Bologna sebelum melepaskan tembakan melengkung kaki kiri dari luar kotak penalti yang bersarang telak di pojok gawang.
Tak berhenti di situ, Neres mengunci kemenangan Napoli di babak kedua setelah memanfaatkan blunder fatal kiper Bologna, Federico Ravaglia.
Dengan ketenangan luar biasa, Neres mencuri bola hasil operan yang lemah dan mencungkilnya melewati kiper dari sudut sempit.
Performa klinis ini membuat Antonio Conte tak segan memberikan pujian setinggi langit bagi sang penyerang sayap.
Transformasi Duo “Buangan” Manchester United
Selain Neres, sorotan tertuju pada kebangkitan Scott McTominay dan Rasmus Hojlund di bawah asuhan Conte.
Kedua pemain yang sempat mendapat kritik tajam saat masih berseragam Manchester United ini tampil impresif sepanjang laga.
McTominay menjadi dinamo di lini tengah, sementara Hojlund terus meneror pertahanan Bologna dengan pergerakan cerdasnya.
Conte pasang badan membela kedua pemain tersebut dari kritik masa lalu. Ia menyindir pihak-pihak yang dulu meragukan kapasitas mereka.
“Semua orang dulu mengatakan Rasmus dan McTominay tidak bermain di Manchester, jadi mengapa? Staf dan saya memiliki pekerjaan untuk memoles potensi mereka, dan itulah alasan kami ada di sini,” tegas Conte.
Transformasi ini membuktikan tangan dingin Conte dalam menghidupkan kembali karier pemain yang dianggap meredup.
Blunder Fatal dan Sportivitas Vincenzo Italiano
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pil pahit bagi Bologna dalam partisipasi perdana mereka di Supercoppa.
Pelatih Vincenzo Italiano mengakui bahwa kesalahan individu di lini belakang, terutama saat build-up play yang berujung gol kedua Napoli, menghancurkan momentum timnya. Meski begitu, Italiano menolak menyalahkan kiper Ravaglia secara terbuka.
“Ravaglia sangat peduli dengan klub ini. Kesalahan terjadi, tetapi itu tidak mengubah apresiasi saya terhadap perjuangan tim,” ujar Italiano dengan sportif.
Ia mengakui bahwa Napoli tampil sangat fantastis dan sulit ditandingi oleh timnya yang masih dalam tahap perkembangan di level kompetisi tertinggi.
Mentalitas Juara: Gelar Ganda Pertama Sejak 1990
Kemenangan ini menegaskan bahwa Napoli Juara Supercoppa 2025 bukan sekadar keberuntungan.
Antonio Conte berhasil menanamkan mentalitas “menolak kalah” yang sangat kuat ke dalam skuadnya.
Napoli melewati turnamen ini dengan catatan tanpa cela, mengalahkan AC Milan di semifinal dan Bologna di final dengan skor identik 2-0 tanpa kebobolan satu gol pun.
Bagi Conte, sejarah hanya akan mengingat pemenang. Ia menekankan bahwa bermain indah tidak ada artinya jika tidak diakhiri dengan mengangkat piala.
“Tidak ada yang repot mencari tahu siapa finalis yang kalah. Ketika Anda kalah di final, itu menyakitkan. Itulah mengapa kami berjuang sekuat tenaga untuk memastikan kami yang mengangkat trofi ini,” ungkap sang pelatih.
Antonio Conte Tetap Merendah Soal Dominasi Italia
Meski telah meraih double winners bersejarah (Scudetto dan Supercoppa), Antonio Conte justru menolak label bahwa Napoli adalah penguasa tunggal sepak bola Italia saat ini.
Ia tetap bersikap realistis dan meminta para pemainnya untuk tetap menginjak bumi. Menurutnya, skuad Napoli saat ini masih dalam tahap transisi dengan banyaknya pemain baru.
“Saya tidak bisa mengatakan kami siap untuk menguasai, karena kami bahkan belum dekat untuk itu. Kami memenangkan gelar dengan skuad terbatas dan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan,” jelasnya.
Sikap rendah hati Conte ini diyakini sebagai strategi untuk melepaskan tekanan dari pundak pemain agar tetap fokus mengejar target zona Liga Champions di Serie A.












