MADRID, WWW.PASJABAR.COM – Manajemen Real Madrid tidak butuh waktu lama untuk mengisi kekosongan kursi pelatih pasca-pengunduran diri Xabi Alonso. Pada Selasa (13/1/2026), Los Blancos resmi mengumumkan promosi Alvaro Arbeloa sebagai pelatih kepala tim utama.
Langkah ini diambil hanya berselang kurang dari 24 jam setelah Madrid takluk 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol yang diwarnai drama pemberontakan pemain.
Penunjukan Arbeloa dipandang sebagai langkah darurat sekaligus strategis untuk memulihkan keharmonisan ruang ganti yang retak selama delapan bulan masa kepemimpinan Alonso.
Dari Castilla ke Panggung Utama: DNA Madridista Arbeloa
Alvaro Arbeloa bukanlah orang asing di lingkungan Valdebebas. Sejak pensiun sebagai pemain yang mempersembahkan dua gelar Liga Champions bagi Madrid (2009–2016), ia telah mendedikasikan dirinya di jalur kepelatihan akademi klub sejak 2020.
Sebelum naik pangkat, Arbeloa sukses menangani tim kategori umur hingga dipercaya memimpin Real Madrid Castilla pada Juni 2025.
Berbeda dengan Xabi Alonso yang datang dari luar dengan gagasan taktis kaku, Arbeloa dianggap lebih memahami kultur internal klub.
Sebagai bagian dari generasi emas Spanyol yang menjuarai Piala Dunia 2010 dan dua Piala Eropa, Arbeloa memiliki wibawa besar yang diharapkan mampu meredam ego para megabintang seperti Vinicius Junior dan Kylian Mbappe yang sebelumnya bersitegang dengan Alonso.
Tugas Berat: Memangkas Jarak dari Barcelona
Arbeloa mewarisi skuad yang sedang terluka secara mental dan tertinggal secara kompetitif. Saat ini, Real Madrid tertinggal empat poin dari Barcelona di klasemen sementara Liga Spanyol.
Kehilangan dukungan pemain terhadap pelatih sebelumnya menjadi faktor utama performa tidak konsisten yang ditunjukkan tim musim ini.
Misi utama Arbeloa dalam waktu dekat adalah:
-
Rekonsiliasi Ruang Ganti: Menyatukan kembali faksi-faksi pemain pasca-insiden di Jeddah.
-
Stabilitas Taktis: Menemukan keseimbangan permainan yang hilang di era Alonso.
-
Persaingan Gelar: Menjaga asa di La Liga, Liga Champions, dan Copa del Rey yang kini berada di fase krusial.
Ironi Kegagalan Xabi Alonso
Kepergian Xabi Alonso menjadi pelajaran pahit bagi Florentino Perez. Alonso datang dengan ekspektasi setinggi langit berkat prestasi historisnya di Bayer Leverkusen.
Namun, kontrak yang seharusnya berakhir pada Juni 2028 tersebut harus kandas hanya dalam hitungan bulan akibat benturan filosofi dan minimnya respek dari skuad “Galacticos”.
Kini, Arbeloa berdiri sebagai tumpuan baru. Dengan latar belakang sebagai “pelayan setia” klub, ia memikul beban untuk membuktikan bahwa DNA Madridista lebih efektif dalam memimpin Real Madrid dibandingkan taktik jenius namun asing yang dibawa oleh pelatih luar.
Profil Perbandingan Pelatih Real Madrid
| Aspek | Xabi Alonso (Mantan) | Alvaro Arbeloa (Baru) |
| Latar Belakang | Sukses Besar di Leverkusen | Internal Akademi (Castilla) |
| Gaya Kepemimpinan | Rigid & Taktis | Kolaboratif & Berbasis Kedekatan |
| Hubungan Skuad | Konflik dengan Pemain Kunci | Dihormati sebagai Senior Klub |
| Target Utama | Revolusi Permainan | Stabilitas & Rekonsiliasi |












