BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Sebelum dikenal luas sebagai kebun binatang, kawasan yang kini menjadi salah satu ruang publik penting di Bandung ternyata memiliki riwayat panjang sebagai taman kota. Transformasi itulah yang diangkat dalam Diskusi Buku #102 Temu Sejarah bertajuk “Kado untuk Bandung: Taman Menjadi Kebun Binatang,” hasil kolaborasi Temu Sejarah bersama Komunitas Penulis Bandung. Kegiatan ini menghadirkan penulis Yudi Hamzah dan dimoderatori oleh Pramukti Adhi Bhakti.
Diskusi ini berangkat dari pertanyaan sederhana namun penting: bagaimana sebuah taman bisa berubah menjadi kebun binatang, dan apa saja dinamika sosial yang menyertainya?
Menurut Yudi Hamzah, penulisan buku tersebut bukan semata-mata didorong oleh isu yang tengah viral saat kebun binatang Bandung sempat ditutup pada 2025. Ia menegaskan bahwa riset mengenai kawasan Lembah Cikapundung telah dimulai jauh sebelumnya.
“Sebetulnya saya sudah satu dua tahun terakhir meriset tentang Lembah Cikapundung. Kebun binatang itu awalnya hanya sebagian kecil dari penelitian saya. Kebetulan saja ketika isu penutupan itu ramai, saya memang sedang menelusuri arsip tentang kebun binatang juga,” ujar Yudi.
Momentum tersebut mendorongnya untuk memperdalam penelitian. Ia menelusuri hampir seratus arsip surat kabar lama, terutama koran berbahasa Belanda dari akhir 1920-an hingga 1930-an yang tersedia secara open access. Proses pengumpulan data, interpretasi, hingga penulisan berlangsung sekitar empat bulan sebelum akhirnya buku tersebut terbit pada Desember 2025.
Tantangan terbesar, menurut Yudi, justru terletak pada proses penerjemahan dan penafsiran sumber.
“Yang paling menantang itu menerjemahkan dan menginterpretasikan. Saya terjemahkan sendiri dari bahasa Belanda, mencoba memahami maksud aslinya. Di situ seninya, sekaligus tanggung jawabnya,” ungkapnya.
Dalam risetnya, Yudi juga menemukan sejumlah data yang berbeda dari narasi populer. Salah satunya terkait klaim keberadaan kebun binatang di Cimindi pada 1900. Berdasarkan penelusuran arsip surat kabar, ia tidak menemukan bukti keberadaan kebun binatang pada tahun tersebut, melainkan catatan mengenai sebuah hotel di kawasan itu. Temuan-temuan semacam ini menunjukkan pentingnya verifikasi sejarah melalui sumber primer.
Secara historis, salah satu embrio kebun binatang di Bandung adalah Vogelpark di kawasan Dago pada masa Hindia Belanda. Tempat tersebut bermula dari koleksi satwa hasil buruan seorang penghobi yang kemudian dikumpulkan di kediamannya. Dari situlah perkembangan kebun binatang di Bandung berawal, sebelum mengalami perpindahan dan perubahan bentuk hingga menjadi seperti yang dikenal publik saat ini.
Bagi warga Bandung, kebun binatang bukan sekadar ruang rekreasi, melainkan bagian dari memori kolektif kota.
“Delapan dari sepuluh orang Bandung pasti pernah ke kebun binatang, entah dengan keluarga, sekolah, atau teman. Ada ikatan emosional di sana,” kata Yudi. Ia menambahkan bahwa ruang tersebut kerap menjadi tempat belajar, bersantai, bahkan menyelesaikan tugas akhir bagi sebagian mahasiswa.
Diskusi Buku #102 Temu Sejarah akan diselenggarakan pada Kamis, 19 Februari 2026, pukul 20.30–22.00 WIB secara daring melalui Zoom dan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Melalui forum ini, Temu Sejarah mengajak publik untuk membaca ulang sejarah kota, memahami dinamika perubahan ruang publik, serta meninjau kembali bagaimana masa lalu dapat memberi perspektif atas polemik hari ini.
Rekaman zoom dapat disimak di https://youtu.be/8_wTESN6QU0?si=b_XevMuqjYsnHfpT
(tiwi)
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.
Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.
Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer .













