MAGELANG, WWW.PASJABAR.COM— Sosok Suzzanna Martha Frederika van Osch, atau yang lebih dikenal sebagai Sang Ratu Horor Indonesia, tetap menjadi legenda yang tak tergantikan meski telah wafat belasan tahun silam.
Untuk mengenang dan mengungkap sisi lain yang jarang diketahui publik, Clift Sangra bersama penerbit Madani Pustaka meluncurkan buku berjudul “Suzzanna: Sisi Lain Perjalanan Hidup Legenda Ratu Horor Indonesia”.
Dalam diskusi daring “Temu Sejarah” ke-87, Clift Sangra menceritakan bahwa buku ini lahir dari keinginan para penggemar dan kerinduan untuk mendokumentasikan memori selama 26 tahun hidup bersama almarhumah.
Clift mengaku proses penulisan naskah selama satu tahun tersebut sangat menguras emosi karena ia harus membuka kembali “luka lama” dan kenangan sedih.
Sosok Introvert yang Rapuh
Berbeda dengan citranya di layar lebar yang glamor dan kuat, Clift mengungkapkan bahwa Suzzanna adalah sosok yang sangat tertutup (introvert) dan memiliki jiwa yang rapuh.
“Banyak orang melihat dia glamor, tapi di rumah dia banyak merenung dan menangis karena merasa kurang mendapat kasih sayang tulus dari lingkungan terdekatnya,” ujar Clift.
Karena sifat introvertnya ini, Suzzanna jarang sekali tampil di depan umum jika tidak untuk urusan film. Clift bahkan menceritakan bahwa ia yang harus turun tangan belanja kebutuhan pribadi Suzzanna, mulai dari kosmetik hingga pakaian dalam, karena sang istri lebih memilih duduk manis di rumah demi menjaga eksklusivitasnya sebagai bintang.
Totalitas Dalam Akting
Totalitas dan Tirakat Spiritual
Buku ini juga mengungkap rahasia di balik akting Suzzanna yang ikonik. Sebelum memulai syuting, Suzzanna selalu membedah skenario secara mendalam dan melakukan berbagai ritual tirakat, seperti melakukan puasa mutih hingga puasa beton.
Kesukaannya pada bunga melati pun ternyata berawal dari kebiasaan masa kecil saat tinggal bersama neneknya di Magelang. Baginya, melati bukan sekadar mistis, melainkan memiliki fungsi praktis seperti penangkal bau ular saat syuting film bertema Nyi Blorong.
Pengalaman Mistis Editor
Weda, editor buku tersebut, berbagi pengalaman spiritual selama menggarap naskah. Ia mengaku pernah didatangi Suzzanna dalam mimpi seolah memberikan “izin” untuk mengerjakan buku tersebut.
Selama proses penyuntingan, Weda dan tim kreatif juga sering mencium aroma melati di ruang kerja mereka, terutama saat membahas bagian-bagian yang sensitif.
Diskusi ini ditutup dengan penegasan bahwa Suzzanna adalah seniman yang memikirkan kepuasan penonton di atas segalanya.
“Beliau ingin penonton yang sudah membayar tiket merasa terhibur dan puas, itulah mengapa setiap filmnya selalu menjadi box office,” pungkas Clift.
Buku perjalanan hidup Suzzanna ini kini sudah tersedia di berbagai marketplace bagi para penggemar yang ingin mengenal lebih dalam sosok legenda perfilman Indonesia tersebut.
Adapun rekaman diskusi dapat disimak di : https://youtu.be/xTxlr10aJr0?si=jBvfipPL7Z7yxHBm
(tiwi)










