BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Para pedagang tempe goreng di Kota Bandung, Jawa Barat, kini harus memutar otak untuk mempertahankan usaha mereka di tengah lonjakan harga bahan baku.
Kenaikan harga minyak goreng curah dan plastik dalam beberapa waktu terakhir membuat biaya produksi meningkat signifikan.
Di sisi lain, daya beli masyarakat yang menurun turut memperparah kondisi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sejumlah pedagang di kawasan Kosambi mengaku kesulitan menutup biaya operasional yang terus membengkak.
Tidak hanya minyak goreng dan plastik, harga kacang kedelai sebagai bahan utama pembuatan tempe juga ikut mengalami kenaikan. Kondisi ini membuat para pedagang harus mengambil berbagai langkah untuk tetap bertahan.
Beberapa di antaranya terpaksa menaikkan harga jual. Tempe goreng yang sebelumnya dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp70 ribu per kilogram. Namun, tidak semua pedagang berani mengambil langkah tersebut karena khawatir kehilangan pelanggan.
Pedagang Kurangi Produksi Demi Bertahan
Salah satu pedagang tempe goreng, Sandi, memilih untuk mempertahankan harga lama demi menjaga pelanggan tetap datang. Meski demikian, keputusan tersebut berdampak langsung pada pendapatannya yang menurun.
“Saya tetap jual dengan harga lama, soalnya kalau dinaikkan takut pembeli makin sepi. Tapi ya konsekuensinya pendapatan jadi berkurang,” ujar Sandi.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Sandi mengaku terpaksa mengurangi jumlah produksi hariannya. Jika sebelumnya ia mampu memproduksi hingga 100 kilogram tempe goreng per hari, kini hanya sekitar 50 kilogram.
“Sekarang produksi saya kurangi setengahnya. Dari 100 kilo jadi 50 kilo per hari, biar tidak terlalu rugi,” tambahnya.
Para pedagang berharap pemerintah dapat segera turun tangan untuk menstabilkan harga bahan baku di pasaran. Mereka menilai, intervensi pemerintah sangat dibutuhkan agar UMKM tetap bisa bertahan di tengah tekanan ekonomi.
“Kami berharap harga minyak, plastik, dan kedelai bisa kembali stabil. Kalau terus naik, kami makin sulit bertahan,” pungkas Sandi. (uby)









