BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) terus mengupayakan berbagai langkah untuk mengatasi tingginya debit air sungai yang kerap memicu genangan dan banjir di sejumlah titik.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris DSDABM Kota Bandung, Dini Dianawati, dalam talkshow di Radio Sonata, Selasa (14/4/2026).
Menurut Dini, keterbatasan kapasitas sungai membuat pemerintah harus mencari solusi tambahan untuk menampung limpasan air, terutama saat curah hujan tinggi.
“Sungai kita kapasitasnya terbatas. Dengan debit air yang besar, kami membangun ruang penampung sementara seperti kolam retensi, atau yang sering disebut embung,” ujar Dini.
Ia menjelaskan, kolam retensi berfungsi sebagai “parkir air” untuk menahan sementara debit air sebelum dialirkan kembali ke sungai. Selain itu, DSDABM juga menjalankan program Sumur Imbuhan Dalam di sekitar 20 titik pada tahun ini, serta melakukan konservasi di wilayah hulu melalui penanaman pohon.
Meski demikian, Dini mengakui bahwa kapasitas penanganan masih belum sepenuhnya mencukupi. Saat ini, masih terdapat pekerjaan rumah dalam menampung sisa debit air yang belum tertangani.
“Kita masih punya PR sekitar 12 ribu (debit air). Penanganannya bertahap, mudah-mudahan hingga 2027 bisa bertambah lagi kapasitas tampungnya,” kata dia.
Dini menambahkan, pembangunan kolam retensi di Bandung tidak bisa dilakukan secara terpusat karena keterbatasan lahan. Oleh sebab itu, pemanfaatan lahan milik pemerintah menjadi strategi utama untuk menambah titik-titik penampungan air.
Selain faktor sungai, kondisi infrastruktur jalan dan drainase juga turut memengaruhi potensi genangan. Jalan berlubang, menurut Dini, dapat menjadi titik akumulasi air jika tidak ditangani dengan baik.
“Kalau jalan berlubang, air akan mengendap di situ. Jadi kondisi jalan dan drainase harus sama-sama baik,” ujarnya.
Untuk mempercepat penanganan, DSDABM membuka kanal pengaduan bagi masyarakat, baik melalui hotline maupun media sosial resmi. Warga diimbau untuk melaporkan kerusakan jalan, saluran air, maupun potensi longsor.
Di sisi lain, DSDABM juga tengah fokus menangani sejumlah titik genangan, salah satunya di kawasan sekitar Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dan Derwati. Di wilayah tersebut, telah dioperasikan tiga rumah pompa untuk mengurangi genangan.
Namun, tingginya debit air di sungai sekitar, seperti Sungai Cimanuk dan Rancabolang, menjadi kendala dalam percepatan surutnya air.
“Pompa kita berjalan semua, tapi sungainya juga penuh. Jadi harus menunggu air sungai surut terlebih dahulu,” kata Dini.
Ke depan, DSDABM berencana menambah satu rumah pompa serta meninggikan tanggul sungai guna meningkatkan kapasitas tampung air, dengan target realisasi pada 2027.
Selain itu, penataan permukiman di bantaran sungai juga menjadi perhatian pemerintah. Dini menyebut, pihaknya telah memiliki data terkait bangunan yang berada di kawasan tersebut dan akan dilakukan penataan secara bertahap.
“Semua sudah terdata. Ketika penataan dilakukan, akan jelas mana yang berada di sempadan sungai,” ujarnya.
Pemerintah pun mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menghadapi musim hujan, termasuk menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah ke sungai, guna meminimalkan risiko banjir di Kota Bandung. (tiwi)












