BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Dalam suasana penuh khidmat dan kebersamaan, Pengurus Besar Paguyuban Pasundan menggelar potong tumpeng dan doa bersama dalam rangka Milangkala ke-112, Senin (21/7/2025), yang dilaksanakan di Sekretariat PB Paguyuban Pasundan, Jalan Sumatera, No 41 Bandung.
Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. H.M Didi Turmudzi, M.Si., memimpin langsung prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan panjang organisasi yang telah berdiri sejak tahun 1913.
Dalam sambutannya, Prof. Didi menyampaikan bahwa usia 112 tahun merupakan pencapaian luar biasa yang hanya dapat diraih dengan semangat gotong royong dan kebersamaan serta kekompakan semua pihak.
“Paguyuban Pasundan harus terus melanjutkan perjuangan para pendiri untuk memperkuat peran Paguyuban Pasundan di bidang pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Sunda,” ujar Prof. Didi.
Sementara itu doa bersama dipimpin oleh Ketua Bidang Agama Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si.
Doa ditujukan untuk keselamatan bangsa dan kemajuan Paguyuban Pasundan ke depan, serta mengenang jasa para pendiri dan tokoh-tokoh yang telah mendedikasikan diri untuk organisasi ini.
Paguyuban Pasundan terus berupaya memperkuat peran strategisnya dalam menjaga nilai-nilai budaya Sunda sekaligus berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional.

Sejarah Paguyuban Pasundan
Sejarah kelahiran Paguyuban Pasundan, hampir mirip dengan kelahiran Budi Utomo, yakni genesis empiriknya berasal dari lingkungan sekolah kedokteran Stovia.
Namun, satu hal yang harus digarisbawahi bahwa Paguyuban Pasundan tidak pekat dengan ciri-ciri primordialisme dan ekslusivisme. Tetapi menonjolkan egaliterianisme dan non sektarianisme.
Paguyuban Pasundan yang didirikan para mahasiswa kedokteran pada tanggal 20 Juli 1913, tidak membatasi pada etnis Sunda.
Jangkauannya jauh ke depan serta menasional. Yang dibuktikan dengan salah satu ketua umumnya yaitu Daeng Kanduruan Ardiwinata yang berdarah Makasar.
Tujuan dan Misi
Sejarah tujuan didirikannya Paguyuban Pasundan adalah “terwujudnya masyarakat Indonesia yang memiliki harkat dan martabat”. Dengan misinya memerangi kebodohan dan kemiskinan.
Tujuan dan misi Paguyuban Pasundan sejak didirikan masih tetap relevan dengan perkembangan Indonesia saat ini.
Kesadaran yang dimunculkan Paguyuban Pasundan lewat capaian proses kultural pendidikan yang mengabaikan perbedaan agama, keyakinan, etnis dan ideologi, sesungguhnya merupakan potensi politik.
Menuju gerakan awal penyadaran berbangsa dan bernegara untuk meraih kemerdekaan.
Realita ini mustahil untuk dimanipulasi oleh siapapun. Karena pada saat Paguyuban Pasundan memasuki bidang politik secara sahih tahun 1919 di Volksraad dengan tandas mengangkat salah satu tujuan politiknya.
Bahwa “Paguyuban Pasundan mengakui hak-hak bangsa Indonesia dalam bidang kebudayaan dan etnisnya masing-masing”.
Arah dan Kiprah
Fenomena politik bukanlah persoalan yang tabu bagi arah dan kiprah Paguyuban Pasundan di masa kini dan di hari esok.
Tinggal, bagaimana kepiawaian mengidentifikasi. Dan mengelola potensi politik Paguyuban Pasundan, tetap berada pada orbit kesundaan dan keindonesiaan.
Artinya, Paguyuban Pasundan sebagai aset nasional yang bertumpu pada ihwal pencerahan kesundaan, tetap kontributif. Bagi perwujudan mosaik kenusantaraan yang tidak monolitik.
Rumusan ini jelas, merupakan kontribusi politik Paguyuban Pasundan sejak awal, terhadap dinamika pluralisme politik di Indonesia, dan sekaligus sebagai komitmen terhadap mekanisme politik kebangsaan. (tie)
# Milangkala Paguyuban Pasundan ke-112












