BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM– Dalam kehidupan ini, seorang manusia tumbuh, bertransformasi dan mengejar nilai di dalam dirinya, begitu pula dengan Ahmad Nowmenta Putra atau yang akrab disapa “Menta”.
Menta adalah penulis buku biografi Pahlawan Revolusi Pierre Tendean berjudul “Jejak Sang Ajudan: Sebuah Biografi Pierre Tendean.” Ia juga aktif menjadi konten kreator di akun YouTube Keep History Alive.
Sibuk berkarier sebagai bankir di Bank Rakyat Indonesia, tak membuat pria kelahiran 5 Maret 1987 ini melupakan makna dan arti hidupnya.
“Saya ingin memberi value bagi kehidupan yang saya jalani dengan jalan memaksimalkan apa yang ada dalam diri dan Tuhan titipkan kepada saya,” ujarnya.
“Sejauh ini cabang yang terlihat mungkin melalui concern berkarya di bidang sejarah menulis dan menjadi konten kreator channel dan tentu melalui profesi saya sebagai banker. Muaranya disini saya juga ingin menantang diri saya sendiri juga untuk bisa menepis batas-batas dan bebas menjadi apa saja yang saya ingin lakukan in a positive way. Tanpa ada excuses baik dari segi waktu atau tenaga,” ungkapnya kepada PASJABAR, Senin (7/2/2022).
Menta melanjutkan, bahwa dirinya menyadari memiliki banyak keterbatasan dan kelemahan. Kendati demikian, sambungnya, selagi kita punya tekad baik dan bijak dalam membagi waktu serta energi, semesta akan membantu semuanya.
Tekad tersebut telah melekat di dalam diri Menta sejak kecil, maka tak salah jika dirinya telah banyak meraih berbagai prestasi.
Sewaktu SMA, ucap Menta ia pernah menjadi Juara Karya Tulis Ilmiah Pelajar.
“Nggak expect karena saya menulis dengan kaidah yang tidak sesuai prosedur yang disyaratkan. Waktu itu temanya tentang dampak kemajuan tekhnologi terhadap moralitas bangsa. Inul dan Goyang Ngebornya lagi booming dan news maker waktu itu. Saya kaitkan ke sana sebagai contoh kasus,” ungkap penyuka berbagai macam olahan telur ini.

Selain itu, sambung dia, selama bersekolah hingga berkuliah, ia juga mencoba berbagai kompetisi di berbagai bidang untuk menantang dirinya, bahkan diluar kesukaannya sekalipun.
“Ada beberapa yang berkesan seperti Juara Santri Teladan sewaktu SD, Kuis Remaja semacam cerdas cermat atau Hilo Green Aambassador di mana saat itu saya jadi semifinalis, dan kompetisi lainnya,” ucapnya yang hobi menulis, travelling dan berolahraga.
Beberapa waktu belakangan ini, Menta juga mendapat kesempatan untuk mewawancarai tokoh-tokoh penting dalam sejarah.
Ia juga diundang menjadi pembicara diantaranya Talkshow Kementerian Sosial RI, Organisasi IKPNI, Talkshow dibeberapa kampus dan sekolah, dan Talkshow di televisi terkait berbagai tema, khususnya sejarah.
Di sela-sela aktifitasnya, Menta juga senang membaca buku, selain sejarah, ia juga suka membaca buku biografi tokoh di berbagai bidang dan buku self development.

“Buku favorit saya Grow Beyond The Limit. Buku ini semacam reminder buat kita untuk selalu mengembangkan diri menjadi lebih optimal di berbagai aspek dengan cara mengenali kekurangan dan kelebihan kita,” ucapnya.
“Saya juga suka The Power of Habit. Reminder juga untuk mengenal, dan mengarahkan kebiasaan kita yang tentu dari kebiasaan ini akan menentukan arah serta tujuan kita ke depan,” ulasnya.

Memiliki banyak aktifitas, Menta bercerita bahwa ia selalu berusaha mengatur waktunya sebaik mungkin.
“Saya tergolong orang yang terobsesi dengan pola keseimbangan. Meskipun belum benar-benar berada di posisi itu, tapi itu menjadi acuan saya. Artinya setiap kegiatan yang dilewatkan ke saya, saya anggap penting semua. Karena didalamnya ada kemampuan yang mungkin dipercayakan dan dilewatkan pada saya,” ucapnya.

“Jadi karena saya anggap penting, ya pasti saya usahakan dengan merumuskan time management; skala prioritas. Yakinlah work life balance itu memang bikin kita lebih nyaman, dan sehat secara lahir, pikir, dan batin. Oh..iya fisik dan pikiran juga perlu istirahat juga,” tuturnya hangat.
Menta dan Kecintaanya Pada Sejarah
Soal kecintaanya pada sejarah, Menta bercerita bahwa dia lahir di lingkungan yang dulunya adalah wilayah kerajaan.
Sejak kecil, ia bertemu dengan relic, artefak, atau peninggalan masa lalu yang memutar fantasinya untuk memvisualisasikan seperti apa kehidupan di masa lalu.
“Hal ini kemudian berlanjut terus dan tanpa disadari menjadi habit positif yang pengejawantahannya dalam praktik menulis dan travelling sejarah, selain menambah daya kritis, analis, rasa kebangsaan juga semakin besar,” tuturnya.

Hal ini yang terus mendorongnya mendalami sejarah, bahkan mendedikasikan banyak waktunya untuk mengkaji hal-hal tersebut langsung kepada tokoh sejarah.
“Saya melihat ada banyak disrupsi yang terjadi belakangan di dunia anak muda, bisa dilihat pada fenomena yang terekam di media dan sosmed. karena diantaranya disebabkan oleh sifat apatis dan kurangnya kesadaran pada diri sendiri, lingkungan, apalagi bangsa dan Negara. Padahal pola pikir kesadaran dan kebanggan pada diri, linkungan, dan bangsa Negara adalah pondasi untuk kita melangkah,” paparnya.
Menta mengatakan, jika kita punya konsentrasi setidaknya tahu timeline sejarah bangsa, kedigdayaan dan perjuangan nenek moyang, serta bagaimana negara ini bisa ada dititik sekarang, mungkin akan jauh membuat kita berpikir dalam kehidupan.

“Namun saya juga melihat sebenarnya dengan platform dan media yang semakin canggih, anak-anak ini sudah banyak menaruh rasa penasaran juga dengan beberapa ulasan sejarah. Tugas stake holder primer yang juga giat untuk terus menggaungkan sejarah, kepahlawanan, kebangsaan,” ulasnya saat ditanya terkait kesadaran generasi saat ini terhadap sejarah.
Menta juga bercerita bahwa buku Pahlawan Revolusi Pierre Tendean berjudul “Jejak Sang Ajudan yang ia tulis memiliki keunikan tersendiri.
“Meskipun ini buku biografi kepahlawanan tetapi saya menyampaikannya menggunakan pendekatan emosional. Selain itu juga saya memasukkan porsi sejarah dan biografinya 50:50. Jadi setiap fragmen kehidupan Pierre Tendean yang termakhtub di buku ini juga saya beri ulasan peristiwa bersejarah apa yang terjadi saat itu, diluar keterkaitannya dengan Pierre,” ungkapnya.

Selain itu, sambung Menta, tentunya saat buku ini rilis, mungkin menjadi buku sejarah pertama di Indonesia yang berisikan foto-foto sejarah yang telah direstorasi menjadi berwarna.
“Ini juga salah satu ikhtiar saya untuk mengemas sebuah media sejarah supaya lebih related dengan anak muda, tapi tanpa kehilangan marwah sejarah dan ketokohannya,” tandas lulusan Universitas Brawijaya Malang.
Menta mengatakan bahwa dirinya juga tertarik untuk menulis buku-buku yang lain.
“Tentu, saya tertarik untuk menulis buku yang lain, ada banyak tema yang muncul di kepala. Tapi toh meskipun legitimasi penulis itu adalah buku, saya juga menikmati menulis di media mana saja termasuk di social media. Sejauh ini pun saya juga menjalani bentuk-bentuk apresiasi lain yang muaranya tetap positif, seperti channel dan undangan menjadi speaker,” tandasnya.

Terakhir Menta berkata bahwa kehidupan adalah kesempatan dari Tuhan untuk kita bisa bermanfaat bagi orang lain.
“Saya mensyukuri kehidupan dengan berusaha untuk terus berprogress setiap waktu, sekecil apapun. Baik progress dalam pola pikir, fisik, atau keimanan. Bagi saya, Life is Celebration,” tandasnya.
“Kita upayakan untuk mencari alasan sekecil apapun untuk bisa tersenyum dan bersyukur. Dengan bersyukur, nikmat kita akan terus ditambah. Vibrasi yang positif tentu akan mendatangkan hal yang positif. Berpikir baik, berbuat baik, maka kebaikan akan mengitari kita,” pungkasnya menutup perbincangan malam itu. (tiwi)











